Oleh: Callysta Evellyn Anastasia | Kelas XIIA.1.1.2
SETIAP tahun, ada satu hari ketika ruang-ruang kelas di SMA Xaverius 1 Palembang berubah menjadi ruang masa depan. Para siswa kelas XII tak hanya mendengarkan guru, tetapi juga orang-orang yang pernah duduk di bangku yang sama, berjalan di lorong yang sama, dan bermimpi dari tempat yang sama. Inilah hari ketika para alumni pulang, bukan sebagai siswa, tetapi sebagai penggerak profesinya masing-masing.
Program Sharing Alumni IKAXA, yang rutin diadakan sejak berdirinya IKAXA pada tahun 2011, kembali hadir pada Jumat, 14 November 2025. Tahun ini, para alumni dibagi ke dalam delapan kelas sesuai dengan jurusan peserta didik, membuat setiap ruang kelas dipenuhi cerita yang relevan, hidup, dan dekat dengan dunia pilihan para siswa.
Ruang Kelas yang Menjadi Jembatan Antargenerasi
Di kelas XIIA.1.1.2, suasana pagi itu terasa berbeda. Callysta Evellyn Anastasia, salah satu peserta, menggambarkan bagaimana kelasnya kedatangan dua alumni pada awal sesi: Kak Yufrizal Ari, seorang professional photographer, dan Kak Catharina Audrey Gumulya, seorang arsitek. Namun, seperti pintu yang dibuka semakin lebar, alumni lain pun terus berdatangan: seorang dokter, ekonom, freelancer, hingga apoteker.

Yang membuat sesi ini istimewa bukan hanya profesinya, tetapi bagaimana masing-masing dari mereka datang membawa kisah, bukan teori. Mereka datang dengan pengalaman, bukan sekadar motivasi. Mereka datang dengan kenyataan yang jujur, bukan narasi yang dibuat-buat.
Belajar dari Jalan Orang Lain: Tidak Ada Hidup yang Lurus-Lurus Saja
Salah satu kisah yang paling membekas bagi Callysta adalah cerita dari Kak Ari. Awalnya, ia kuliah bukan karena panggilan hati, tetapi karena target finansial. Ia mengamati bahwa pekerja kantoran bisa memperoleh lima juta rupiah per bulan, sedangkan seorang fotografer bisa memperoleh angka yang sama hanya dalam beberapa jam. Logikanya sederhana, tetapi perjalanan karier tidak pernah sesederhana hitungan angka.
Profesi fotografer, katanya, penuh kebebasan, sekaligus penuh risiko. Peralatan mahal, klien yang harus dicari sendiri, kompetisi yang ketat, dan tuntutan kreativitas yang tidak pernah selesai. Namun, kerja keras dan konsistensi membawanya pada proyek-proyek besar. Satu proyek iklan saja kini bisa bernilai 100–200 juta rupiah.
Di balik keberhasilan itu, tersimpan pesan penting: setiap pekerjaan punya sisi terang dan gelap. Tidak ada profesi yang sempurna. Yang ada adalah manusia yang terus mau belajar, beradaptasi, dan berkembang.
Menentukan Tujuan Sejak Sekarang
Bagi Callysta, sesi ini membuka kesadaran baru: bahwa hidup setelah SMA bukanlah jalur mulus yang sudah ditentukan, melainkan perjalanan penuh pilihan dan ketidakpastian.
“Dalam setiap pilihan pasti ada kelebihan dan kekurangannya,” tulisnya. Maka, semakin awal seorang siswa memetakan tujuan, semakin siap ia melangkah. Namun, pesan lain juga tak kalah penting: tidak apa-apa berubah arah. Yang penting adalah menemukan titik di mana kita merasa hidup, bukan sekadar bertahan.
Para alumni juga menekankan kemampuan beradaptasi. Karena dunia nyata jauh lebih dinamis dibandingkan apa yang siswa temui di sekolah. Keberanian untuk berubah, mencoba, dan menghadapi realitas baru adalah bekal yang sangat berharga.
IKAXA: Rumah untuk Bertemu, Rumah untuk Kembali
Di tengah cerita-cerita tersebut, Callysta menangkap sesuatu yang lebih dalam: bahwa IKAXA bukan sekadar organisasi. Ia adalah ruang aman. Sebuah rumah.
IKAXA hadir dengan misi:
Selama bertahun-tahun, misi ini tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi hidup melalui program konkret seperti Sharing Alumni.
Setiap alumni yang datang ke kelas membawa pesan yang sama dengan cara yang berbeda: “Jika suatu saat kamu buntu, bingung, jatuh, atau tersesat, kamu tidak sendirian. Ada keluarga besar yang menunggu: IKAXA.”
Ketika Masa Depan Masuk ke dalam Kelas
Sharing alumni tahun ini sekali lagi membuktikan satu hal: bahwa pendidikan tidak hanya terjadi lewat buku dan papan tulis. Terkadang, pendidikan terjadi ketika seseorang datang, duduk di depan kita, dan berkata, “Aku pernah ada di posisi kamu. Ini ceritaku.”
Bagi para siswa, terutama Callysta dan teman-temannya, hari itu bukan hanya pengenalan profesi. Hari itu adalah cermin masa depan. Hari itu adalah pembuka wawasan. Dan bagi banyak dari mereka, hari itu mungkin adalah hari ketika mereka mulai berani bermimpi sedikit lebih besar.

Karena pada akhirnya, masa depan bukan sesuatu yang ditunggu. Ia dibangun. Dan hari itu, para alumni IKAXA pulang untuk membantu generasi berikutnya memulainya. *** (Ignas)