Info Sekolah
Senin, 05 Jan 2026
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
24 Desember 2025

Ibu, dalam Banyak Rasa: Catatan Empat Siswi tentang Kasih yang Tak Pernah Biasa

Rab, 24 Desember 2025 Dibaca 85x

Tanggal 22 Desember datang setiap tahun dengan nama yang sama: Hari Ibu. Namun bagi empat siswi kelas XIA.1.2.2 SMA Xaverius 1 Palembang: Tasia, Velicia, Rie Joyce, dan Jeslyne, hari itu tidak pernah hadir dengan rasa yang seragam. Ada yang memaknainya sebagai hari yang sangat istimewa, ada yang menjalaninya seperti hari biasa, tetapi semuanya bermuara pada satu hal yang sama: syukur yang tumbuh dari relasi sehari-hari dengan seorang ibu.

Bagi Tasia Aghatia Winarto, Hari Ibu bukan sekadar perayaan simbolik. Hari itu adalah pengingat akan kenyataan rapuh sekaligus kuatnya seorang ibu. Ia pernah hampir kehilangan ibunya karena sakit. Dari pengalaman itu, Hari Ibu menjadi sangat personal, hari untuk menyadari bahwa keberadaan ibu adalah anugerah yang tidak boleh dianggap biasa.

Tasia mensyukuri ibunya yang “bertahan sampai detik ini”, bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena cintanya yang besar kepada keluarga. Dalam kesederhanaan, ibunya hadir tanpa banyak keluhan: merawat, menjaga, dan mencintai dengan penuh kesabaran. “Mungkin bagi orang lain ibu saya kurang sempurna,” tulis Tasia, “tapi bagi saya, ia sangat sempurna.” Dari sanalah tumbuh tekadnya: menghargai ibu lewat hal-hal kecil yang konsisten, mendengarkan tanpa membantah, peka tanpa diminta, belajar sungguh-sungguh agar ibu bangga, dan berani meminta maaf ketika salah. Baginya, menjadi anak yang lebih baik adalah cara paling nyata merayakan Hari Ibu setiap hari.

Nada yang lebih ringan namun hangat datang dari Velicia. Ia memaknai Hari Ibu sebagai momen apresiasi, saat seorang anak berhenti sejenak untuk menyadari bahwa kasih ibu selalu hadir, sering kali tanpa syarat. Velicia bersyukur memiliki ibu yang tidak menuntut berlebihan, bahkan mampu tertawa ketika ia harus menjalani remedial. Sikap ibu yang demikian membuatnya bertumbuh tanpa tekanan, belajar tanpa rasa takut gagal.

Setelah Hari Ibu, Velicia ingin membahagiakan ibunya dengan cara yang sederhana namun konkret: memberikan hal-hal yang disukai ibunya, berusaha menjadi lebih mandiri, dan perlahan membuktikan bahwa ia mampu berdiri sendiri. Dengan begitu, ia berharap kecemasan ibu tentang masa depannya bisa berkurang.

Berbeda dari dua temannya, Rie Joyce Allain Widyanto justru dengan jujur mengakui bahwa Hari Ibu tidak terasa terlalu spesial baginya. Baginya, peringatan Hari Ibu lebih dekat dengan sejarah perjuangan perempuan Indonesia. Namun, ketidakterikatan pada seremoni tidak berarti ketiadaan rasa syukur. Rie Joyce percaya bahwa kasih dan perjuangan ibu tidak harus dirayakan pada satu tanggal tertentu.

Ia bersyukur memiliki ibu yang bisa diajak berbincang, bercanda, dan menjadi tempat berbagi cerita. Bahkan sikap “cerewet” sang ibu justru ia lihat sebagai cara mendidik yang membantunya bertumbuh. Cara Rie Joyce menghargai ibunya terwujud dalam cita-cita: menjadi pribadi yang berhasil dan bertanggung jawab dalam apa pun yang ia kerjakan, belajar maupun kelak berkarier, dengan penuh kesungguhan dan rasa bahagia, agar ibunya merasa bangga dan lega.

Sementara itu, Jeslyne Agurellia melihat Hari Ibu sebagai pengingat jasa-jasa yang sering luput disadari. Mulai dari hal kecil: bekal yang disiapkan setiap hari, hingga dukungan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Namun, Jeslyne menegaskan bahwa rasa syukur itu seharusnya tidak berhenti di Hari Ibu saja, melainkan hidup setiap hari.

Ia ingin mengekspresikan penghargaan lewat sikap konkret: tidak memotong pembicaraan ibu, mendengarkan dengan sungguh, membantu pekerjaan rumah, tidak bersikap berlebihan saat diberi kepercayaan, serta selalu mengingat ibunya dalam doa. Bagi Jeslyne, perhatian yang tulus dan sikap hormat adalah bahasa kasih yang paling nyata.

Empat siswi, empat cara memaknai Hari Ibu. Ada air mata, ada tawa, ada kejujuran yang apa adanya. Namun satu benang merah mengikat semuanya: ibu hadir bukan hanya dalam perayaan, melainkan dalam rutinitas yang sering tampak biasa. Dan justru di sanalah kasih itu tumbuh: diam, setia, dan menguatkan.

Hari Ibu mungkin hanya sehari dalam setahun. Tetapi bagi mereka, menghargai ibu adalah perjalanan seumur hidup.*** (Ignas)

Agenda

15
Jul 2025
waktu : 07:00
Agenda telah lewat
20
Jan 2025
waktu :
Agenda telah lewat
16
Nov 2024
waktu : 18:00
Agenda telah lewat