Di Xaverius Centrum Studiorum (XCS), Rabu (12/11/2025) pagi itu, langkah-langkah para guru dan karyawan dari berbagai sekolah Katolik di Kota Palembang berbaur seperti aliran sungai yang menuju satu muara: kerinduan untuk memperbarui diri.
Mereka datang dari sekolah-sekolah: PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga SMK, beragam usia, pengalaman, dan latar belakang, namun menyatu dalam satu semangat: memerdekakan pendidikan lewat nilai-nilai Pancasila.
Hari Studi Paguyuban Guru dan Karyawan (PGK) Sekolah Katolik tahun ini mengangkat tema yang terasa semakin mendesak di tengah gelombang digitalisasi: “Guru inspiratif, penggerak nilai Pancasila dalam pendidikan.” Tema yang tidak sekadar slogan, tetapi sebuah panggilan zaman, terutama ketika ruang digital telah menjadi ruang belajar baru, sekaligus arena pergulatan moral yang nyata.
Sebuah Undangan untuk Hadir Secara Utuh
Dalam sambutannya, Ketua PGK Palembang, Bapak Leo Hidayat, menegaskan urgensi kegiatan ini. “Hari Studi PGK adalah kesempatan emas untuk menambah ilmu. Karena itu, hendaknya semua peserta mengikuti secara utuh.” Nasihat sederhana, tetapi mengandung tuntutan etis: pendidikan bukan pernah selesai; ia adalah perjalanan yang menuntut kerendahan hati untuk terus belajar.
Sementara itu, Romo Dr. St. Supardi, Pr, selaku Ketua MPK KAPal, mengingatkan bahwa membagikan nilai-nilai Pancasila melalui proses pendidikan bukan sekadar tugas administratif, melainkan mandat moral Gereja. “Topik ini sangat relevan untuk membangun kebaikan bersama,” ujarnya. Dalam kata-katanya terasa gema bahwa seorang pendidik bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi penjaga peradaban.
Ketika Pancasila Berjumpa dengan Dunia Digital
Masuk ke inti kegiatan, para peserta disambut oleh sosok yang telah lama dikenal dalam dunia filsafat, etika politik, dan pendidikan: RP Dr. Johanes Haryatmoko, SJ. Dilahirkan di Yogyakarta dan ditempa dalam tradisi intelektual Sorbonne Paris, Haryatmoko menghadirkan kesegaran reflektif khas para filsuf kontemporer—jernih, tajam, dan menggelisahkan sekaligus mencerahkan.
Dalam paparannya, ia mengajukan pertanyaan kunci yang menggugah: “Apakah Pancasila masih relevan di era digital dan AI?”
Pertanyaan ini menghentak ruang seminar, bukan karena keraguannya, tetapi karena keberanian untuk memeriksa ulang fondasi nilai di tengah kepungan informasi, polarisasi, dan algoritma yang tak selalu berpihak pada kebenaran.

Haryatmoko menjelaskan bahwa justru di era digital inilah setiap sila Pancasila menemukan relevansi terbarunya:
Lima dan Enam Jalan Kreatif: Dari Logika Abduksi hingga Analisis Wacana Kritis
Salah satu bagian paling menginspirasi dari sesi ini adalah gagasan tentang model-model pembelajaran Pancasila yang kreatif dan berbasis pemecahan masalah. Haryatmoko menawarkan pendekatan yang jarang disentuh dalam pelatihan guru:
Pendekatan ini bukan hanya teknis, tetapi membentuk habitus intelektual: kemampuan melihat dunia dengan mata yang tajam dan hati yang peka.
Deep Learning: Dari Menghafal ke Mengalami
Dalam bagian lain paparannya, Haryatmoko menekankan pentingnya deep learning, pembelajaran yang tidak berhenti pada hafalan tetapi mengundang siswa memahami relevansi materi dalam hidup mereka. Ia mengingatkan bahwa pembelajaran bermakna berdiri di atas tiga pilar:
Sementara itu, kerangka SOLO Taxonomy yang ia sampaikan, dari prestructural sampai extended abstract, menjadi cermin bagi para guru: sejauh mana kita membawa siswa dari sekadar mengulang informasi menuju kemampuan menganalisis dan mencipta?
Ketika Pendidikan Menjadi Perjumpaan Nilai
Interaksi para guru sepanjang kegiatan memperlihatkan bahwa pendidikan sesungguhnya adalah dialog antara nilai dan realitas. Ketika guru berdiskusi, bertanya, atau bahkan bingung, di situlah pendidikan sedang bekerja. Seorang guru TK bertanya tentang bagaimana menanamkan nilai Persatuan pada anak usia 4 tahun; guru SMA mengaku pergulatan menghadapi ujaran kebencian di grup kelas. Semuanya mengingatkan bahwa setiap jenjang memiliki tantangannya, tetapi juga peluangnya.
Guru Inspiratif: Mereka yang Menyalakan Jalan
Pada akhirnya, Hari Studi PGK 2025 bukan hanya peristiwa tahunan, tetapi ruang ziarah intelektual dan spiritual. Dalam dunia yang bergerak cepat oleh kecerdasan buatan dan arus digital, guru, dengan seluruh ketidaksempurnaan dan kesederhanaannya, tetap memegang peran terpenting: mengembalikan kemanusiaan ke tengah proses belajar.
Guru inspiratif bukan yang serba tahu. Guru inspiratif adalah ia yang terus belajar. Ia yang mampu menyalakan nilai dalam tindakan kecil: mendengar dengan sabar, menegur dengan kasih, dan mengajarkan Pancasila bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui keutuhan hidupnya.
Dan mungkin, pada hari itu di Xaverius Centrum Studiorum, setiap guru pulang membawa satu kesadaran baru: bahwa menjadi penggerak nilai Pancasila bukan dimulai dari kurikulum atau seminar, melainkan dari diri sendiri, dari keberanian untuk menjadi manusia yang memanusiakan.
Sebuah perjalanan yang tidak pernah selesai. Tetapi justru di sanalah keindahan profesi ini berada. *** (Ignas)