JAKABARING Sport Center, Sabtu malam 20 September 2025, bukan sekadar lapangan basket. Di hadapan sedikitnya 1.500 penonton yang memenuhi tribun, sejarah kembali tercatat: SMA Xaverius 1 Palembang mempertahankan mahkota juara DBL Sumatera Selatan untuk keempat kalinya sejak 2022. Laga final menghadirkan dominasi penuh, saat tim Bangau Muda menaklukkan SMA Negeri 3 Prabumulih dengan skor telak 65–28.
Namun, di balik angka-angka kemenangan itu, terselip kisah pribadi tiga pemain yang menjadi wajah dari perjuangan tim Bangau: Nicholas Jodanny, sang MVP; Giovenco Jordan, kandidat MVP yang menutup musim terakhirnya dengan manis; dan Marvel Stevanus, kapten yang tak mengenal kata menyerah.

Nicholas Jodanny: MVP yang Tak Disangka
Saat namanya diumumkan sebagai pemain terbaik DBL 2025, Nicholas mengaku sempat terkejut.
“Awalnya aku kira pemain dari SMAN 3 Prabu yang jadi MVP karena statistik dia lebih bagus. Senang banget rasanya bisa terpilih,” ucap siswa kelas XI ini polos.
Ditanya siapa sosok pertama yang ingin dia beri terima kasih, Nicholas tak perlu berpikir panjang. “Langsung dua orang yang terlintas, ibu saya dan pelatih saya,” ujarnya mantap. Dua nama itu baginya adalah fondasi: kasih sayang ibu yang menguatkan, dan arahan pelatih yang menuntun pada prestasi.
Nicholas tak hanya bercerita tentang trofi atau statistik. Baginya, momen paling berkesan justru sederhana: ketika seluruh tim kompak mencukur rambut bersama.
“Kami saling menertawakan waktu itu. Rasanya nggak akan pernah terlupakan,” kenangnya.
Meski baru kelas XI, Nicholas sadar tanggung jawabnya makin besar.
“Tahun depan tahun terakhir saya. Saya harus bisa membimbing adik-adik supaya tetap fokus dengan visi tim. Juara lagi itu targetnya,” tegasnya.

Giovenco Jordan: Penutup yang Manis
Bagi Jordan, DBL 2025 adalah panggung terakhir. Masuk nominasi MVP sudah menjadi hadiah tak ternilai.
“Rasanya latihan selama ini nggak sia-sia. Senang banget apalagi ini tahun terakhir,” katanya.
Pelajaran terbesar baginya adalah kesadaran bahwa semakin tinggi posisi, semakin besar pula risiko jatuh. Namun, ia memilih menutup karier SMA dengan rasa syukur.
“Bisa bawa piala pulang lagi ke sekolah itu kebanggaan tersendiri. Penutup yang manis,” ucapnya.
Marvel Stevanus: Kapten yang Rela Berkorban
Sebagai kapten, Marvel mengemban tanggung jawab besar. Ia harus menjaga semangat tim di lapangan, bahkan ketika dirinya sendiri menelan kekecewaan karena tidak terpilih MVP di tahun terakhir.
“Pelatih kami sudah pesan, MVP atau first team itu bonus pribadi. Yang paling penting itu juara buat sekolah. Memang sempat sedih nggak kepilih, tapi teman-teman langsung semangatin, jadi saya bisa balik fokus ke final,” ujarnya jujur.
Marvel memilih meninggalkan warisan semangat, bukan sekadar gelar.
“Buat adik-adik, jangan sering ngeluh meskipun latihan capek banget. Saling semangatin, jangan remehin musuh siapa pun. Kasih yang terbaik tiap tahun. Tradisi juara ini harus terus hidup,” pesannya penuh harapan.
Lebih dari Trofi
Di balik sorak-sorai tribun, SMA Xaverius 1 kembali membuktikan bahwa kemenangan bukan hanya soal skor. Ada doa di tiap langkah, ada tawa di balik latihan keras, ada pengorbanan di balik peran yang mungkin tak terlihat.

Nicholas, Jordan, dan Marvel hanyalah tiga cuitan cerita dari sebuah tim besar yang digembleng pelatih dengan disiplin, didukung alumni, orangtua, guru, dan ribuan suporter.
Malam itu, Bangau kembali mengepakkan sayapnya tinggi. Dan lebih dari sekadar trofi, mereka meninggalkan pesan: tradisi juara dibangun oleh iman, persaudaraan, dan cinta yang tak pernah padam pada permainan.*** (Ignas)