Gor Dempo, Jakabaring Sport Center, kembali menjadi saksi betapa basket bukan sekadar permainan, tetapi cerita tentang keberanian, kebersamaan, dan hati yang tidak pernah menyerah. Pada gelaran Sumeks Basketball League 13–20 November 2025, atmosfernya berubah menjadi medan tempur anak-anak muda terbaik Sumatera Selatan yang berebut Piala Gubernur Sumsel.
Dan tahun ini, sorotan paling terang jatuh kepada tim basket SMA Xaverius 1 Palembang, sebuah tim yang datang bukan hanya untuk bermain, tetapi untuk membuktikan karakter.
Mereka datang dengan skuad lengkap: Marvel, Venco, Jodanny, Axelle, Kevin, Gavriel, Brema, Nathanael, Alvert, Justine, Glen, dan Akila. Nama-nama yang mungkin masih terdengar muda, tetapi di lapangan, mereka tampil seperti para petarung yang sudah kenyang pengalaman.
Keheningan di Belakang Panggung: Titik Balik Sang Kapten
Dalam sebuah turnamen besar, orang biasanya menyebut quarter keempat sebagai titik balik. Tetapi bagi Marvel, sang kapten, momen paling menentukan justru terjadi jauh sebelum tip-off.
“Itu waktu kami masih di belakang panggung. Kami berdoa bersama, lalu saling menyemangati. Begitu masuk lapangan, tidak ada yang gugup sama sekali.” Begitu katanya, dengan mata yang jelas masih menyimpan bara kemenangan itu.
Marvel bukan hanya memimpin dengan skill, tapi dengan hati. Ia tahu betul bahwa mental adalah setengah dari permainan. Ia juga jujur mengakui bahwa tugas terberatnya adalah menjaga semangat rekan-rekannya, terutama rekannya yang paling dekat, Giovenco Jordan.
“Dia cepat drop kalau ditegur. Jadi saya harus bangkitkan lagi kepercayaan dirinya. Itu bagian dari tanggung jawab saya sebagai kapten.”
Kapten seperti ini yang membuat sebuah tim bukan sekadar kuat, tetapi kokoh.

Jodanny: Tenang, Percaya, Lalu Menghukum Lawan
Di balik kemenangan Xaverius 1, ada satu nama yang sering disebut speaker lapangan: Nicholas Jodanny, top scorer yang nyaris selalu jadi pembeda.
Namun, siapa sangka, ia mengatakan bahwa performanya tidak selalu stabil.
“Ada game yang bagus, ada yang buruk. Biasa saja. Tapi latihan bareng tim itu yang paling penting. Chemistry kami naik. Komunikasi jadi lebih baik.”
Tidak ada jawaban tentang latihan khusus, diet ketat, atau jam tambahan di gym. Baginya, kekuatan justru muncul dari hubungan yang terbangun di antara para pemain.
Tentang final, ia menjawab dengan kesederhanaan yang justru menunjukkan kebesaran seorang pemain besar: “Saya tenang. Percaya pada teman-teman. Dan tentu, doa sebelum main. Itu bikin saya perform baik.”
Tenang. Percaya. Konsisten. Itulah DNA seorang scorer sejati.
Akila: Tembok Terakhir yang Selalu Siap Menghadang
Jika Jodanny yang menghukum, maka M. Akila adalah orang yang membuat lawan frustrasi.
Pertahanan Xaverius 1 di turnamen ini terlihat seperti tembok yang hampir mustahil ditembus, dan Akila adalah salah satu tiangnya.
Saat ditanya apa kunci kekuatan lini pertahanan mereka, ia menjawab dengan tegas:
“Latihan dan arahan coach. Kami bangun kepercayaan satu sama lain. Walau sering salah, kami terus berjuang sampai rasa percaya itu benar-benar kuat.”
Dan ketika harus mengambil keputusan dalam tekanan tinggi?
Akila tidak banyak berpikir panjang. “Saya tenangkan pikiran dulu. Fokus ambil keputusan. Kadang salah, tapi saya coba terus sampai berhasil.”
Jawaban sederhana, tapi menunjukkan kedewasaan yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Lebih dari Sekadar Juara
Kemenangan SMA Xaverius 1 bukan hanya tentang skor akhir, bukan juga tentang trofi gubernur yang kini mereka bawa pulang. Ini adalah cerita tentang:

Dalam dunia basket, tim juara bukan hanya dibangun oleh bakat, tetapi oleh jiwa yang disatukan tujuan yang sama.
Dan di Gor Dempo, pada malam final itu, jiwa-jiwa itu menyala terang.
SMA Xaverius 1 Palembang bukan sekadar pemenang turnamen. Mereka adalah tim yang meninggalkan kisah. *** (Ignas)