Info Sekolah
Senin, 05 Jan 2026
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
23 November 2025

Kisah Tim 3×3 SMA Xaverius 1 Palembang Menaklukkan Piala Gubernur Sumsel 2025

Ming, 23 November 2025 Dibaca 87x

Minggu sore, 16 November 2025. GOR Jakabaring Palembang, suara sepatu dan napas para pemain yang memburu. Di tengah hiruk-pikuk itu, empat remaja SMA Xaverius 1 Palembang berdiri di atas lapangan 3×3 dengan satu keyakinan: mereka tidak datang hanya untuk bermain. Mereka datang untuk menang.

Mereka adalah Alvert Gunawan (X.1), Axelle Pratama Theng (X.10), Marvell Stevanus (XIIA.2.2), dan Nicholas Jodanny (XIA.2.2), empat pemain yang mungkin berbeda gaya, berbeda karakter, tapi kini disatukan oleh satu perjalanan yang berakhir dengan gelar Juara 1 Piala Gubernur Sumatera Selatan 2025.

Doa, disiplin, dan detik-detik penentu

Ketika ditanya apa momen paling menentukan, Nicholas tidak ragu menjawab: “Setiap sebelum pertandingan, kami selalu doa bersama dan pemanasan. Saat bermain, kami main tim dan totalitas.”

Namun versi Axelle menyorot momen lain, yang lebih dramatis. Baginya, titik balik terjadi ketika SMA Xaverius 1 berhasil mengubah ritme permainan di menit-menit akhir. Mereka memperketat defense, memenangkan rebound-rebound krusial, dan menjalankan transisi cepat yang membuat lawan kewalahan. Keunggulan tipis itulah yang mereka jaga dengan disiplin sampai peluit terakhir berbunyi.

Final terasa seperti adegan film: tegang, cepat, dan penuh keputusan instan. Tapi justru di situlah kepercayaan diri mereka teruji.

Tantangan 3×3 dan cara mereka menjawabnya

Basket 3×3 bukan hanya versi mini dari 5-on-5. Ia adalah olahraga yang menuntut ketangguhan fisik, kecepatan berpikir, dan kohesi tim yang matang.

Axelle mengakui tantangan terbesarnya adalah tempo yang “tidak memberi jeda”. Di 3×3, setiap pemain harus bisa menyerang dan bertahan, dalam satu napas.

Alvert melihat dari sisi lain: chemistry. “Tantangan terbesar itu mencari chemistry satu sama lain,” ujarnya. “Caranya? Banyak ngobrol.”

Di sinilah jawaban Nicholas menjadi makin masuk akal. Ia bahkan merasa tidak ada tantangan yang berat, karena satu hal: “Kalau pun ada, kami pasti akan bantu satu sama lain.” Itulah sebetulnya inti permainan mereka.

Komunikasi, switching defense yang rapi, dan pembagian peran, siapa yang handle bola, siapa yang finishing, siapa yang menjaga fisik di bawah ring, menjadi fondasi kemenangan.

Pelajaran berharga dan ruang untuk tumbuh

Juara tidak membuat mereka besar kepala. Justru sebaliknya.

Nicholas menyimpulkan pelajaran hidup yang sederhana tapi kuat: “Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.”

Axelle membawa pulang hikmah yang lebih teknis, bahwa kemenangan lahir dari konsistensi latihan, dari perhatian pada hal-hal kecil seperti spacing dan ketenangan saat berada dalam tekanan.

Sementara itu, Alvert sudah berpikir ke depan: ia ingin lebih eksplosif dan meningkatkan kemampuan shooting.

Kemenangan ini bukan puncak perjalanan, melainkan pintu masuk menuju level berikutnya.

Marvell, sosok pencair tegangan

Di setiap tim hebat, selalu ada satu sosok yang membuat stres menjadi tawa, yang membuat kesalahan menjadi momen belajar.

Bagi Xaverius 1, itu adalah Marvell Stevanus.

Nicholas mengaku, “Dialah yang membantu menjelaskan apa salah kami saat kami melakukan kesalahan.”

Axelle menambahkan, “Marvell itu humoris dan santai.” Sementara Alvert merasa seluruh tim saling mencairkan suasana, tapi Marvell diakui sebagai katalisnya.

Dalam final yang tegang, tawa kecil, komentar ringan, atau sekadar tepukan di punggung dari Marvell ternyata sangat berarti. Itu membantu mereka bermain lebih lepas, lebih percaya diri, lebih hidup.

Akhir yang indah, awal yang lebih besar

Saat papan skor menunjukkan kemenangan, empat anak muda itu bukan sekadar merayakan trofi. Mereka merayakan perjalanan: kerja keras, disiplin, keakraban, dan keyakinan bahwa tim adalah tempat saling menguatkan.

Di tengah lampu GOR Jakabaring yang memantul pada medali emas mereka, sebetulnya ada pelajaran sederhana yang terukir: Juara bukan hanya soal kemampuan, tapi hati yang saling menopang.

Dan dengan hati yang sama, perjalanan mereka, baik di lapangan 3×3 maupun kehidupan, baru saja dimulai.*** (Ignas)

Agenda

15
Jul 2025
waktu : 07:00
Agenda telah lewat
20
Jan 2025
waktu :
Agenda telah lewat
16
Nov 2024
waktu : 18:00
Agenda telah lewat