“PENULISAN karya ilmiah adalah salah satu ciri khas sekolah unggulan, dan publikasinya menjadi etalase prestasi yang membanggakan,” demikian penegasan Dr. Sardianto Markos Siahaan, S.Pd., M.Si., M.Pd di awal sesi pelatihan menulis karya ilmiah bagi guru SMA Xaverius 1 Palembang.
Kegiatan yang digelar pada Senin, 23 Juni 2025, ini menjadi momen penting untuk menyegarkan kembali pemahaman para guru mengenai penulisan karya ilmiah—khususnya dalam konteks mendampingi siswa menulis karya ilmiah sebagai syarat kelulusan. Tahun ajaran 2024–2025 menandai pertama kalinya kebijakan ini diterapkan bagi peserta didik di SMA Xaverius 1 Palembang.
Menjawab Tantangan, Meningkatkan Kompetensi
Dalam sesi pelatihan bertema “Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Membimbing Karya Ilmiah Siswa di Era Digital”, Dr. Sardi—Lektor Kepala dari Program Magister Pendidikan Fisika Universitas Sriwijaya—mendampingi 54 guru dalam tiga sesi penuh inspirasi dan praktik mendalam.
“Menulis karya ilmiah adalah salah satu bentuk profesionalisme guru. Ia harus menjadi kebiasaan tahunan,” tegasnya lantang.
Gaya bicaranya yang jelas dan penuh semangat membuat sesi pelatihan terasa hidup dan membekas. Antusiasme para peserta tampak dari interaksi aktif yang terjadi sepanjang sesi, dari pukul 09.00 hingga 14.45 WIB di Ruang Pertemuan Lantai 3 SMA Xaverius 1.
Karya Ilmiah: Dari Riset Sederhana hingga Publikasi Bereputasi
Pelatihan ini tidak hanya berbicara soal teknis menulis, tetapi juga membangkitkan kesadaran kolektif akan pentingnya budaya riset dan publikasi di lingkungan sekolah. Dr. Sardi mendorong para guru untuk membentuk komunitas menulis kecil (2–3 orang), melakukan riset sederhana berdasarkan masalah nyata di sekolah, dan secara rutin menuliskannya dalam bentuk karya ilmiah yang layak dipublikasikan.
“Jangan takut memulai. Publikasikan tulisan Anda di jurnal-jurnal bereputasi agar citra sekolah juga ikut terangkat,” serunya memotivasi.
Ia juga mengingatkan kekeliruan umum yang kerap terjadi: banyak yang terjebak menentukan judul terlebih dahulu, padahal yang lebih penting adalah menemukan topik yang relevan dan menarik.
“Tanyakan: Apa masalahnya? Apakah ada kebaruan? Apa urgensinya? Baru setelah itu rumuskan judul dan arah penelitian,” jelasnya.
Lebih dari Sekadar Tugas: Ini Soal Karakter dan Kompetensi
Menulis karya ilmiah bukan hanya soal memenuhi syarat administratif. Di dalamnya terkandung nilai-nilai ketekunan, ketelitian, daya analisis, dan inovasi, semua adalah bekal penting bagi guru profesional di era digital saat ini. Selain menjadi sarana belajar bagi siswa, proses ini juga menjadi ajang bagi guru untuk terus berkembang dan berkontribusi pada dunia pendidikan secara lebih luas.
Dengan sinergi yang kuat antara sekolah dan para guru penulis, SMA Xaverius 1 Palembang diyakini mampu mencetak lebih banyak karya ilmiah berkualitas dan menjadi pusat unggulan literasi ilmiah di Sumatera Selatan.
“Mari jadikan menulis sebagai bagian dari identitas kita sebagai pendidik. Bukan beban, tapi budaya,” tutup Dr. Sardi dengan penuh harapan.*** (Ignas)