SELASA sore, 31 Maret 2026, menjadi salah satu momen yang tak mudah dilupakan. Di balik layar gawai, detik-detik pengumuman hasil Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) 2026 terasa berjalan normal. Banyak siswa duduk dalam diam, sebagian ditemani orangtua, sebagian lagi berusaha menenangkan diri dengan doa.
Di antara sekian banyak nama yang dinyatakan lulus, terselip satu kisah sederhana namun penuh makna: Andrea Natasya Permata Puteri, siswi kelas XIIA.1.1.1, yang berhasil menapakkan kakinya di Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Namun, perjalanan Andrea tidak dimulai dari keyakinan yang pasti. Ia justru berangkat dari keraguan yang sangat manusiawi.
Awalnya, Andrea membayangkan dirinya akan mengambil jurusan teknik kimia. Pilihan yang terdengar “aman” bagi banyak siswa yang menyukai sains. Tetapi di tengah perjalanan berpikirnya, ia berhenti sejenak, merenung, mengenali dirinya lebih dalam.
“Aku lebih suka kimia daripada fisika,” ungkapnya jujur.
Pilihan itu bukan sekadar soal mata pelajaran, melainkan tentang keberanian untuk mendengarkan suara hati. Bahkan, ada alasan yang terasa sangat personal, ia mengaku cukup sering sakit, dan dari situlah tumbuh harapan sederhana: suatu hari ia ingin memahami obat-obatan, bukan sekadar mengonsumsinya.
Di situlah farmasi menjadi lebih dari sekadar jurusan. Ia menjadi jawaban atas pengalaman hidup.
Meski telah dinyatakan lulus di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, Andrea tidak datang dengan ambisi yang berlebihan. Ia justru membawa harapan yang sederhana, namun dalam.
Ia menyadari bahwa dunia perkuliahan tidak selalu tentang siapa yang paling pintar. Ada dinamika, ada tantangan, ada rasa jenuh yang mungkin datang tanpa diundang.
“Saya berharap bisa mengikuti pembelajaran dengan baik… betah dan tidak jera dengan pilihan sendiri,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kebijaksanaan: menerima proses tanpa harus selalu sempurna. Bagi Andrea, nilai bukan satu-satunya tujuan. Yang lebih penting adalah bertahan, belajar, dan terus melangkah.
Ia juga menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan dilalui sendirian. Ada harapan untuk menemukan teman baru, membangun relasi, dan saling berbagi. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang perjumpaan.
Di balik keberhasilan Andrea, ada suara lain yang tak kalah penting: suara orangtua.
Harapan mereka tidak muluk-muluk. Tidak menuntut prestasi tinggi atau pencapaian luar biasa. Mereka hanya ingin anaknya baik-baik saja.

Belajar dengan tekun. Menjaga diri di kota orang. Tidak mudah terbawa arus. Dan yang tak kalah menarik, rajin berkomunikasi, sesuatu yang diakui Andrea masih menjadi tantangan kecil baginya.
Ada juga pesan yang sangat membumi: pandai mengatur uang.
Nasihat-nasihat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak cinta yang paling nyata, cinta yang tidak berisik, tetapi setia menjaga dari kejauhan.
Berbeda dengan banyak orang yang menetapkan target besar sejak awal, Andrea memilih jalan yang lebih lentur.
“Saya tipe orang yang dijalani dulu,” ujarnya.
Namun bukan berarti tanpa arah. Ia tetap memiliki tujuan yang jelas: lulus S1 tepat waktu, melanjutkan ke profesi apoteker, dan kemudian bekerja.
Sebuah langkah demi langkah yang realistis, tanpa terburu-buru, tetapi tetap pasti.
Kisah Andrea mengingatkan kita bahwa tidak semua perjalanan harus dimulai dari keyakinan yang utuh. Kadang, justru dari keraguanlah lahir keputusan yang paling jujur.
Di tengah hiruk-pikuk persaingan dan ekspektasi, Andrea memilih untuk menjadi dirinya sendiri, mengenal apa yang ia suka, menerima keterbatasannya, dan berjalan dengan ritme yang ia pahami.
Dan mungkin, di situlah letak keberhasilan yang sesungguhnya.
Bukan sekadar diterima di perguruan tinggi impian, tetapi berani melangkah dengan kesadaran penuh: bahwa setiap pilihan adalah bagian dari proses menjadi manusia yang utuh.
Selamat untuk Andrea, dan untuk semua pejuang mimpi yang telah berani melangkah. Karena pada akhirnya, setiap langkah kecil yang jujur akan selalu menemukan jalannya. *** (Ignas)