SIANG tadi, Jumat, 13 Maret 2026, suasana di SMA Xaverius 1 Palembang terasa sedikit berbeda. Usai kegiatan yang cukup padat, pembagian rapor Mid Semester Genap bagi kelas X dan XI serta pembagian hasil Try Out bagi kelas XII, sejumlah guru yang tergabung dalam IKK (Ikatan Keluarga Karyawan) tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Mereka memilih melakukan sebuah tradisi sederhana yang penuh makna: tilik bayi.
Tradisi ini bukan sekadar kunjungan sosial. Dalam semangat kekeluargaan, tilik bayi menjadi tanda bahwa sebuah komunitas tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga hidup bersama, berbagi sukacita dan harapan.
Perjalanan pertama rombongan mengarah ke rumah keluarga Mas Yunus Hadi Firmanto dan Mbak Anas. Di rumah itu, kebahagiaan baru sedang bertumbuh. Pada 21 Januari 2026, Tuhan menganugerahkan putri kedua yang diberi nama Agnesia Felice Aurelia Calista, yang akrab disapa Aurel.
Kehadiran Aurel menambah keceriaan keluarga yang sebelumnya telah dikaruniai putri pertama, Silvia Noviana Renata. Dalam pelukan orang tua dan doa para sahabat, Aurel menjadi tanda bahwa setiap kelahiran selalu membawa harapan baru bagi keluarga dan juga bagi komunitas.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga Mas Marcelinus Rino Irawan dan Mbak Agnes Mirna Dewi. Di rumah ini, sukacita yang sama juga sedang tumbuh. Pada 10 Februari 2026 lahirlah seorang putri yang diberi nama Bernadeta Clowy Agino, yang kelak akan disapa Clowy.
Bagi keluarga Rino dan Agnes, Clowy adalah putri pertama, hadiah indah yang membuka babak baru dalam perjalanan hidup mereka sebagai orang tua.
Dalam grup WhatsApp sekolah, Wakil Humas SMA Xaverius 1 Palembang, Ibu Anna menuliskan pesan sederhana namun penuh makna: “Kunjungan kasih atas kelahiran puteri kedua Bpk. Firmanto dan puteri pertama Bpk. Rino. Tuhan Yesus mendampingi tumbuh kembang Aurel dan Clowy.”
Kalimat itu mungkin singkat, tetapi mencerminkan semangat yang hidup dalam sebuah komunitas pendidikan Katolik: kasih yang diwujudkan dalam kebersamaan.
Dalam perspektif keluarga Katolik, setiap kelahiran merupakan peristiwa iman. Seorang anak dipandang sebagai anugerah Tuhan dan tanda kepercayaan Allah kepada keluarga untuk merawat kehidupan. Karena itu, ketika sebuah komunitas ikut hadir dalam sukacita kelahiran, sebenarnya mereka sedang memperluas lingkaran keluarga.
IKK SMA Xaverius 1 Palembang pada siang itu memberikan kesaksian kecil tentang arti komunitas. Di tengah kesibukan sebagai pendidik, mereka tetap menyempatkan diri untuk hadir, menyapa, dan mendoakan. Tidak ada acara besar atau seremoni resmi, hanya kunjungan sederhana, senyum hangat, dan doa yang tulus.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah nilai pendidikan yang paling dalam muncul. Para guru yang setiap hari mengajarkan nilai kehidupan kepada siswa, pada saat yang sama juga menghidupi nilai itu dalam relasi mereka sendiri.

Aurel dan Clowy mungkin masih terlalu kecil untuk memahami kunjungan siang itu. Namun suatu hari nanti, ketika mereka bertumbuh, mereka akan mengetahui bahwa sejak awal hidup mereka, ada banyak orang yang telah menyambut mereka dengan doa dan kasih.
Dan mungkin itulah arti terdalam dari sebuah komunitas pendidikan: bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga rumah yang merawat kehidupan.
Dua bayi lahir di waktu yang berdekatan. Dua keluarga menerima anugerah yang sama. Dan satu komunitas ikut bersukacita. *** (Ignas)