Oleh: Gabriella Mentari Puteri | XIIA.1.2.2
Sharing bersama alumni pada Jumat, 25 September 2026, mengajarkanku satu hal sederhana yang sering kulupakan: mendengarkan adalah bentuk kepedulian yang nyata.
Kalimat alumni, “Yang penting itu bukan seberapa paham kita, tapi seberapa mau kita mencoba mendengarkan,” membuatku berpikir tentang kebiasaanku sehari-hari. Ketika teman bercerita tentang masalahnya, misalnya, aku terkadang terlalu cepat memberikan saran atau menceritakan pengalamanku sendiri. Padahal, mungkin saat itu ia tidak membutuhkan solusi, melainkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Dari pertemuan itu, aku belajar bahwa mendengarkan bisa dimulai dari hal-hal kecil: tidak memotong pembicaraan, meletakkan ponsel ketika seseorang sedang bercerita, mengajukan pertanyaan dengan tulus, dan tidak terburu-buru menyimpulkan keadaan orang lain.

Sebagai siswa kelas XII, aku menyadari bahwa kemampuan berkomunikasi akan sangat penting ketika memasuki dunia perkuliahan, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat. Aku tidak harus selalu menjadi orang yang paling pintar berbicara atau paling cepat memahami keadaan. Aku hanya perlu belajar menghargai orang lain dengan memberikan perhatian yang sungguh-sungguh.
Sepulang dari sharing itu, aku ingin mulai mengubah satu kebiasaan: mendengarkan sampai orang lain selesai berbicara sebelum memberikan tanggapan. Sebab, mungkin aku tidak selalu bisa menyelesaikan masalah seseorang, tetapi setidaknya aku bisa membuatnya merasa didengarkan dan dihargai.*** (Ignas)