Oleh: Cherry Hairunnisa Damaini | XIIA.1.2.1
Setiap orang memiliki cerita yang berbeda ketika berbicara tentang masa depan. Ada yang sejak kecil sudah mengetahui cita-citanya, tetapi ada pula yang harus melewati berbagai pertanyaan dan keraguan sebelum menemukan pilihan yang dirasa tepat.
Hal itu pula yang saya alami.
Pada Rabu, 30 September 2026, saya berkesempatan berbicara di depan teman-teman kelas XII A.1.2.1 mengenai pekerjaan yang ingin saya jalani di masa depan sekaligus berbagai persiapan yang mulai saya lakukan untuk mencapainya.
Saya menyampaikan satu cita-cita yang saat ini ingin saya perjuangkan: menjadi dosen di bidang hukum.
Bagi saya, menjadi dosen bukan hanya tentang menguasai banyak pengetahuan. Seorang dosen juga harus mampu menyampaikan ilmu dengan baik sehingga dapat dipahami oleh mahasiswa dan mahasiswi.
Karena itu, salah satu hal yang mulai saya latih adalah kemampuan berkomunikasi.
Saya belajar berbicara dengan lebih jelas, menyampaikan pendapat, dan berani mengungkapkan gagasan di depan orang lain. Saya menyadari bahwa ilmu yang kita miliki akan menjadi lebih berarti apabila kita mampu membagikannya kepada orang lain.
Berawal dari Sebuah Saran
Keinginan menjadi dosen sebenarnya tidak muncul begitu saja.

Setelah lulus SMA, saya pernah berencana untuk bekerja terlebih dahulu dan menunda kuliah. Namun, orang tua saya memberikan pandangan yang berbeda. Mereka menyarankan agar saya melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, bahkan jika memungkinkan sampai jenjang S3.
Awalnya, saya masih mempertimbangkannya.
Orang tua kemudian mengajak saya memikirkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi saya. Dari pembicaraan tersebut, muncul gagasan untuk menjadi seorang dosen.
Saya pun mulai berpikir, mungkin menjadi dosen adalah jalan yang dapat saya perjuangkan. Selain memperoleh ilmu melalui pendidikan yang panjang, saya juga dapat membagikan ilmu tersebut kepada orang lain.
Namun, ternyata menemukan cita-cita saja belum cukup. Saya masih menghadapi pertanyaan berikutnya: Kalau ingin menjadi dosen, saya harus kuliah di bidang apa?
Pernah Ingin ke Mana-Mana
Jawabannya tidak langsung saya temukan.
Saya pernah tertarik menjadi dosen Sastra Indonesia, Pertanian, bahkan ketika SMA saya sempat bertekad menjadi dosen di bidang IT.
Berbagai pilihan tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa menentukan masa depan membutuhkan proses. Kita perlu mengenal diri sendiri, mengetahui kemampuan yang dimiliki, sekaligus berani mencari informasi tentang pilihan yang tersedia.
Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, perhatian saya akhirnya tertuju pada Fakultas Hukum.
Di sana saya mengenal beberapa bidang, seperti hukum pidana, hukum perdata, hukum keluarga, hukum internasional, dan hukum bisnis.
Dari berbagai pilihan tersebut, saya merasa paling tertarik dengan Hukum Bisnis.
Menurut pemahaman saya, Hukum Bisnis berkaitan dengan berbagai kegiatan dan persoalan dalam dunia bisnis dan perusahaan. Di dalamnya terdapat hal-hal seperti perjanjian, kerja sama, perizinan, serta aturan yang mengatur kegiatan perusahaan.
Saya tertarik melihat bagaimana hukum dapat membantu sebuah perusahaan menjalankan kegiatan bisnisnya sesuai dengan aturan yang berlaku.
Salah satu pekerjaan yang juga menarik perhatian saya adalah legal officer, yaitu profesi yang berkaitan dengan kebutuhan hukum sebuah perusahaan.
Pertanyaan Teman-Teman Membuat Saya Berpikir Lagi
Setelah saya selesai bercerita, sesi tanya jawab pun dimulai. Teman-teman memberikan berbagai pertanyaan. Ada Jacqueline, Stefanny, Michelle, Domeniko, Dylan, dan Yemima yang ikut bertanya.
Pertanyaan mereka ternyata membuat saya kembali melihat pilihan saya dari berbagai sudut.
Michelle bertanya mengapa saya memilih Hukum Bisnis dibandingkan bidang lain di Fakultas Hukum.
Saya menjelaskan bahwa setelah mengenal beberapa bidang hukum, saya merasa lebih tertarik pada dunia bisnis dan perusahaan. Saya juga merasa bahwa pilihan tersebut lebih sesuai dengan minat dan kemampuan saya saat ini.
Domeniko kemudian bertanya sesuatu yang cukup menarik: “Kalau kamu akhirnya memilih masuk ke bidang hukum, kenapa memilih IPA Informatika?”
Pertanyaan itu membuat saya menceritakan perjalanan pilihan jurusan saya di SMA.
Saat memilih IPA Informatika, saya melihat nilai rapor saya pada beberapa pelajaran IPA sedikit lebih tinggi dibandingkan IPS. Namun, menjelang akhir semester 2 kelas X, saya mulai bertanya-tanya apakah pilihan tersebut memang sudah tepat.
Setelah menjalani kelas XI, saya semakin menyadari bahwa sebenarnya saya lebih cocok dengan bidang IPS.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa pilihan yang pernah kita ambil tidak selalu menjadi pilihan terakhir dalam hidup. Yang penting adalah berani mengevaluasi diri dan memperbaiki arah ketika menyadari ada sesuatu yang perlu diubah.
Pendidikan yang Panjang untuk Berbagi Ilmu
Jacqueline dan Stefanny bertanya mengapa saya memilih menjadi dosen dan bahkan ingin melanjutkan pendidikan sampai S3.
Jawabannya sederhana. Orang tua saya mendukung saya untuk terus melanjutkan pendidikan. Saya juga berpikir bahwa ilmu yang saya peroleh akan menjadi lebih bermanfaat apabila dapat dibagikan kepada orang lain.
Bagi saya, menjadi dosen bukan sekadar mendapatkan gelar akademik. Ada tanggung jawab untuk membagikan pengetahuan dan membantu orang lain belajar.
Dylan kemudian bertanya mengenai rencana kuliah saya.
Saya menjawab bahwa saya berencana melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Sriwijaya (Unsri).
Sementara itu, Yemima memberikan pertanyaan yang juga cukup menantang: Bagaimana nanti kamu akan menjalani perkuliahan di bidang hukum, sedangkan kamu tidak belajar pelajaran yang berkaitan dengan hukum seperti anak IPS?”
Saya menjawab bahwa saya sudah mulai belajar dasar-dasar hukum dari sekarang. Saya menyadari bahwa perjalanan kuliah nanti mungkin tidak selalu mudah. Namun, saya ingin belajar beradaptasi dan berusaha menghadapi tantangan tersebut.
Tidak Harus Langsung Tahu Semuanya
Dari percakapan bersama teman-teman hari itu, saya semakin menyadari bahwa menentukan masa depan memang bukan perkara sederhana.
Kadang-kadang kita merasa yakin. Kadang-kadang kita ragu. Bahkan, kita bisa saja pernah memilih sesuatu yang kemudian ternyata kurang sesuai dengan diri kita.
Namun, semua itu adalah bagian dari proses belajar.
Bagi saya, cita-cita menjadi dosen hukum, khususnya di bidang Hukum Bisnis, bukan sekadar sebuah pekerjaan yang ingin saya miliki. Cita-cita itu menjadi arah yang membantu saya menentukan apa yang perlu saya persiapkan mulai sekarang.

Saya perlu melatih kemampuan berkomunikasi, memperluas pengetahuan, mulai mengenal dunia hukum, dan yang tidak kalah penting, berani menghadapi perubahan serta terus belajar.
Pada akhirnya, saya belajar bahwa masa depan tidak selalu ditemukan dalam satu langkah. Kadang-kadang kita menemukannya setelah mencoba, bertanya, merasa ragu, lalu kembali mencari.
Yang penting bukan harus sudah mengetahui seluruh jalan sejak awal, tetapi berani mulai melangkah dan terus memperbaiki arah.*** (Ignas)