Riset, Keberanian, dan Mimpi Besar Seorang Jiyhan.
Di tengah riuh prestasi akademik akhir tahun, satu nama dari kelas XIA.3.1 SMA Xaverius 1 Palembang bersinar dengan caranya yang tenang namun bermakna: Jiyhan Kayfa Zahrah. Pada 21 Desember 2025 di Jakarta, ia berdiri di panggung International Research & Innovation Festival (IRIF) dan mendengar namanya diumumkan sebagai peraih silver medal.
Namun kisah ini bukan sekadar tentang medali. Ini adalah cerita tentang keberanian melampaui rasa takut.
Ketika Nama Itu Dipanggil
“Saya benar-benar tidak menyangka,” ujarnya.
IRIF adalah kompetisi riset berskala internasional pertama yang ia ikuti. Ia datang tanpa ekspektasi tinggi. Baginya, bisa berpartisipasi saja sudah menjadi pengalaman berharga.
Saat namanya disebut sebagai peraih medali perak, perasaannya campur aduk: terkejut, bahagia, dan penuh syukur.
“I feel very grateful and honored,” katanya sederhana.

Di balik senyum yang tampak tenang, ada perjalanan panjang yang tak terlihat.
Sembilan Jam Menyusuri Palembang
Prestasi ini tidak lahir dari ruang nyaman.
Jiyhan memilih kategori Business & Entrepreneurship dengan judul riset yang unik dan kontekstual: “Pempek Sellers in Palembang Never Die: Linking Cultural Consumption Patterns to MSME Survival and SDG 8 Outcomes.”
Judul yang berani, sekaligus membumi.
Untuk mendapatkan data yang akurat, ia berkeliling kota Palembang selama kurang lebih 9 jam. Ia mendatangi para pelaku UMKM pempek, mewawancarai mereka satu per satu, mencatat cerita dan angka, lalu mengolah data tersebut selama berhari-hari.

Itu bukan sekadar tugas sekolah. Itu pengalaman riset nyata, turun ke lapangan, berinteraksi langsung, mendengar denyut ekonomi kecil yang menopang budaya kota.
“Cukup menguras tenaga, tapi worth it,” katanya dengan senyum.
Melawan Rasa Takut
Tantangan terbesarnya bukan pada data atau presentasi. Tantangan terbesarnya adalah dirinya sendiri.
Ia mengakui bahwa berinteraksi dengan orang asing membuatnya cemas. Memulai wawancara bukan hal yang mudah. Ada rasa takut, ragu, dan ingin mundur.
Namun justru di sanalah titik balik itu terjadi. Ia memilih melawan rasa takutnya. Ia memilih keluar dari zona nyaman. Dan di situlah ia menemukan versi dirinya yang lebih berani.
Sebagai seorang pendidik, kita tahu: pendidikan sejati bukan hanya soal nilai atau medali, tetapi tentang pertumbuhan karakter. Dan di momen itulah, Jiyhan bertumbuh.
Proses yang Terstruktur dan Serius
Perjalanan ini juga ditempa oleh proses yang sistematis:
Setiap tahap adalah latihan disiplin, keberanian, dan ketekunan.
Bukan Titik Akhir
Bagi Jiyhan, medali perak bukan garis finish.

“Ini langkah awal dari banyak target yang ingin saya raih,” ujarnya.
Ia tidak ingin cepat berpuas diri. Justru penghargaan ini menjadi bahan bakar baru untuk terus berkembang.
Sikap inilah yang membuat prestasi memiliki makna: rendah hati dalam keberhasilan, tetapi tinggi dalam cita-cita.
Pesan untuk Generasi Muda
Kalimat yang ia sampaikan sederhana, tetapi kuat: “Jangan membatasi diri. Kembangkan potensi diri.”
Sering kali yang membatasi kita bukan orang lain, melainkan ketakutan dalam diri sendiri. Padahal keberhasilan sering menunggu di luar zona nyaman.
Sebuah Inspirasi dari Kelas XIA.3.1
Di ruang kelas XIA.3.1 SMA Xaverius 1 Palembang, mungkin Jiyhan tampak seperti siswi pada umumnya. Namun kini, ia telah membuktikan bahwa keberanian mencoba hal baru bisa membuka pintu internasional.
Prestasinya mengingatkan kita semua: bahwa riset bisa lahir dari kearifan lokal, bahwa pempek bukan sekadar makanan, tetapi juga cerita tentang ketahanan ekonomi, dan bahwa seorang pelajar berusia belia pun mampu berbicara di panggung dunia.
Medali itu memang berwarna perak. Namun keberanian yang ditempa di baliknya, itulah emas yang sesungguhnya.
Dan mungkin, dari Palembang, seorang peneliti muda sedang menapaki jejak masa depannya dengan langkah yang semakin mantap. *** (Ignas)