Ketika Sukacita Perlombaan Menjadi Ruang Bertumbuh Bersama di Bangau
Suasana SMA Xaverius 1 Palembang pada Selasa, 21 April 2026, terasa berbeda dari biasanya. Sejak pagi, para peserta didik sudah hadir dengan balutan batik dan pakaian daerah yang penuh warna. Tawa, semangat, dan antusiasme memenuhi setiap sudut sekolah. Hari itu, Bangau tidak hanya merayakan Paskah dan Hari Kartini, tetapi juga merayakan kebersamaan, kreativitas, dan semangat untuk bertumbuh bersama.
Melalui kegiatan Paskah x Kartini 2026, OSISKA 70 menghadirkan berbagai perlombaan dan kegiatan menarik seperti Beauty n’ Brain, Find The Last Egg, Fly Ball, X-Fun Minigames, hingga Photobooth yang ramai dipadati peserta didik.
Namun di balik kemeriahan acara, tersimpan banyak pelajaran sederhana yang justru membentuk pengalaman berharga bagi para peserta didik.
Salah satunya dirasakan Febri, peserta lomba Find The Last Egg bersama rekan setimnya, Michellyn dari kelas XI A.3.1.
Lomba tersebut bukan hanya soal mencari telur terakhir di tengah lapangan rumput. Di dalamnya ada kerja sama, komunikasi, dan rasa percaya antaranggota tim. Dalam permainan itu, satu peserta menjadi guider yang memberi petunjuk, sementara rekannya menjadi hunter dengan mata tertutup. Mereka harus saling mendengarkan dan saling percaya untuk menemukan poin demi poin.
Bagi Febri, pengalaman itu meninggalkan kesan yang begitu mendalam.
“Mengikuti salah satu lomba memberikan pengalaman yang baik terutama dapat melatih kekompakkan dengan rekan satu tim,” ujarnya.
Awalnya, ia sempat merasa gugup. Banyaknya peserta dan suasana kompetisi membuat rasa percaya dirinya sedikit goyah, apalagi ia mendapat giliran pertama. Namun perlahan, suasana berubah ketika lomba dimulai.

Sorakan teman-teman yang memberi dukungan, bahkan dari kelas yang berbeda, membuatnya merasa tidak sendiri.
Pengalaman serupa juga dirasakan Selena Aurellia Chandra dari kelas XI A.1.2.2 yang mengikuti lomba Find The Last Egg bersama Yoel Christian Wijaya.
Menurut Selena, lomba tersebut terasa sangat seru sekaligus menegangkan. Tidak hanya membutuhkan kecepatan, permainan itu juga menuntut kerja sama dan ketelitian agar dapat menemukan telur dengan tepat.
“Saya ikut lomba Find the Last Egg bersama Yoel. Menurut saya, lomba tersebut sangat seru, menegangkan, dan menyenangkan karena membutuhkan kerja sama serta ketelitian untuk menemukan telur,” ungkapnya.
Dari pengalaman itu terlihat bahwa sebuah perlombaan sederhana ternyata mampu menghadirkan banyak pelajaran penting. Para peserta belajar saling percaya, belajar mendengarkan arahan, dan belajar memahami bahwa keberhasilan tidak dapat diraih sendirian.
Di situlah letak indahnya sebuah kegiatan sekolah.
Kadang yang paling diingat bukanlah siapa yang menang atau siapa yang kalah, melainkan bagaimana seseorang merasa didukung, diterima, dan diberi semangat oleh orang-orang di sekitarnya.
Acara Paskah x Kartini ini juga menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar di dalam kelas. Sekolah adalah ruang untuk mengalami kehidupan bersama. Tempat peserta didik belajar bekerja sama, berani tampil, menghargai budaya, dan membangun relasi yang hangat satu sama lain.

Dalam lomba Beauty n’ Brain, para siswi belajar bahwa kecantikan tidak hanya terlihat dari penampilan, tetapi juga dari keberanian berpikir dan menyampaikan pendapat tentang perjuangan perempuan Indonesia. Dalam Fly Ball, para peserta belajar bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai ketika setiap anggota tim bergerak selaras. Sementara melalui X-Fun Minigames dan Photobooth, tercipta banyak tawa dan kenangan sederhana yang mungkin akan terus diingat bahkan setelah masa sekolah berlalu.
Perayaan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai akademik. Pendidikan juga tentang membentuk manusia yang mampu bekerja sama, menghargai orang lain, dan berani berkembang bersama komunitasnya.
Semangat Paskah menghadirkan pesan tentang harapan dan kehidupan baru. Sementara semangat Kartini mengajarkan keberanian untuk berkembang dan membawa perubahan. Kedua semangat itu terasa hidup dalam kebersamaan seluruh warga SMA Xaverius 1 Palembang hari itu. Dan mungkin, dari kegiatan sederhana seperti lomba mencari telur, sorakan teman-teman, tawa di depan photobooth, hingga kerja sama kecil di tengah permainan, para peserta didik sedang belajar sesuatu yang jauh lebih besar: bahwa perjalanan sekolah akan selalu menjadi lebih bermakna ketika dijalani bersama.*** (Ignas)