“Shine like a star”, tema itu bukan sekadar kalimat, melainkan napas yang menghidupkan langkah-langkah penuh energi para penari muda SMA Xaverius 1 Palembang di ajang DBL Dance 2025. Dari balik sorot lampu dan dentuman musik di GOR Sriwijaya, mereka bukan hanya menari, melainkan juga merayakan persahabatan, kerja keras, dan mimpi bersama.
Dari Rasa Senang ke Panggung Besar
Bagi Richelle Katlyn, siswi kelas XII.A3.2 sekaligus kapten tim, kesempatan bergabung dengan tim dance adalah pengalaman yang membekas. “Saya sangat senang bisa jadi bagian tim ini. Banyak relasi baru, dukungan, dan tentu saja, peningkatan skill,” tuturnya.
Salah satu hal yang paling ia sukai adalah kostum tim: enam penari berbalut kuning dan enam lainnya dengan nuansa pink. Warna-warna cerah itu melambangkan kebahagiaan dan keceriaan, sebuah kesan yang langsung ditangkap penonton dari tribun.
Namun tampil di panggung besar seperti GOR Sriwijaya bukan tanpa tantangan. Degup jantung mereka berpacu saat menari di depan juri. “Menegangkan, karena kami takut salah. Tapi juga menyenangkan, karena bisa benar-benar menyampaikan konsep ceria kami lewat koreografi,” kata Richelle.
Tantangan di Balik Layar
Di balik gemerlap panggung, kerja keraslah yang mendominasi. Latihan intensif hampir setiap hari, ditambah proses membuat properti kecil hingga larut malam, menjadi rutinitas mereka. “Kami punya mental kompetisi. Harus bisa membanggakan sekolah, orang tua, dan diri sendiri,” ungkap Richelle.

Kekompakan pun jadi kunci. Mereka bukan hanya berkeringat bersama di lantai latihan, tetapi juga menjalin kebersamaan lewat hal-hal sederhana: makan siang bersama, bercanda saat mengerjakan properti, hingga merayakan ulang tahun anggota dengan kue dan lagu. Dari situlah lahir rasa percaya satu sama lain.
Kenangan Terindah Menjadi Juara 3
Bagi Sieni Pratiwi (XII.A2.1), momen paling seru justru ada di masa persiapan. “Latihan tanpa coach lalu membuat properti sendiri, itu pengalaman tak terlupakan,” kenangnya sambil tersenyum.
Sieni juga merasakan betapa doa bersama di backstage sebelum tampil menjadi pengalaman berharga. “Kami saling menyemangati, bahkan dengan tim dari sekolah lain. Walaupun lawan, tetap harus ramah,” ujarnya.
Tak heran, ketika akhirnya tim ini meraih Juara 3 DBL Dance 2025, rasa bangga bercampur haru menyelimuti mereka, terutama bagi siswa kelas XII yang menjalani tahun terakhir.
Peran Pelatih dan Harapan ke Depan
Sieni menegaskan peran pelatih begitu penting. Tegas sekaligus perhatian, sang pelatih tidak hanya mengarahkan gerakan, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab. Bahkan hal kecil seperti membuat properti pun jadi sarana belajar disiplin.
Bagi Sieni, ada satu hal yang ingin terus ia perbaiki: kerapian dan kesamaan gerakan tim. “Kalau ada kesempatan tampil lagi, kami ingin tampil lebih rapi, lebih kompak, dan semakin sempurna,” tuturnya.
Lebih dari Sekadar Tarian
DBL Dance bukan hanya ajang kompetisi, melainkan juga panggung untuk belajar arti kerja sama, tanggung jawab, dan persahabatan. Tema “Shine like a star” menemukan maknanya dalam perjalanan mereka: bahwa setiap anggota tim bisa bersinar, tapi cahaya itu akan semakin indah ketika mereka bersinar bersama-sama.
Di GOR Sriwijaya, langkah kaki mereka mungkin berhenti setelah musik berakhir. Namun cahaya perjuangan, tawa, dan kebersamaan itu akan terus menyala, seperti bintang yang tak pernah padam.*** (Ignas)