Rekoleksi BKSN 2025 Siswa SMA Xaverius 1 Palembang
Sabtu pagi, 27 September 2025, halaman voli indoor SMA Xaverius 1 Palembang tampak berbeda. Seratus tiga puluh dua siswa Katolik dari kelas X dan XI berkumpul dengan wajah penuh antusias. Mereka mengenakan batik bebas, rapi, dan sopan, masing-masing membawa Alkitab, alat tulis, dan tumbler. Bukan sekadar kumpul biasa, tetapi sebuah perjalanan rohani dalam rangka Rekoleksi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 dengan tema “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.”
Acara tahunan ini terbagi dalam dua sesi: pembaharuan relasi dengan diri sendiri, sesama, dan keluarga, serta pembaharuan relasi dengan Allah. Penutup rekoleksi dilaksanakan dalam Misa kudus di Kapel Seminari, dipimpin oleh Romo Een.
Belajar Membaharui Relasi
Sesi pertama membawa para siswa masuk pada pengalaman sehari-hari mereka: bagaimana memperbaiki relasi dengan keluarga, sahabat, bahkan diri sendiri. “Contoh kecil memperbaiki relasi dengan teman adalah saling memaafkan,” kata Wilbert Bernardi Setiawan dari Paroki St. Yoseph Palembang dengan jujur.

Bagi Gracia Wilson Lie dari Paroki Santo Petrus dan Paulus Baturaja, pembaharuan relasi dengan Allah berarti “menyerahkan kelemahan dan kesibukan kita kepada-Nya, agar Allah memulihkan hati dan memperbarui hidup kita.” Ia bahkan membawa pulang pesan khusus untuk keluarganya: “Mari menjadikan Allah sumber pembaruan relasi kita sebagai keluarga. Kalau ada konflik, kembali pada kasih Allah dengan saling memaafkan.”
Suasana Hidup dan Penuh Warna
Suasana dalam kelompok diskusi terasa hidup. Gerardo Noel Caelo dari Paroki St. Maria Bunda Penolong Abadi, Prabumulih, menceritakan betapa doa pembukaan membuatnya sadar bahwa rekoleksi bukan sekadar acara santai, tetapi ruang untuk mendekatkan diri pada Allah. “Frater Simeon mengawali sesi dengan lagu dan tarian. Itu membuat suasana penuh warna, semua merasa didengarkan dan punya ruang untuk berbagi,” kisahnya.
Tak hanya mendengarkan, para peserta juga diajak berkreasi, seperti membuat pembatas buku berisi ayat Kitab Suci pilihan mereka. Sebuah cara sederhana namun bermakna untuk mengikat sabda Allah lebih dekat dengan hati.
Firman yang Menghidupkan
Membawa Alkitab bukanlah formalitas. Chatarina Pricillia Luvena dari Paroki St. Maria Bunda Allah Tugumulyo Musi Rawas, mengaku ia belajar lebih mengenal para nabi dalam Kitab Zakharia dan Maleakhi. Sementara itu, Patricia Maureen dari Paroki St. Stefanus Martir Curup, menyebut Alkitab sebagai “pedoman hidup, sumber penghiburan, sekaligus kekuatan di tengah masalah.” Satu kata yang ia pilih untuk menggambarkan rekoleksi ini: “Bermanfaat.”
Saat Hati Ditampar Sabda
Ada pula pengalaman pribadi yang begitu menyentuh. P. Gian Adika Santiago dari Paroki St. Yoseph Palembang, mengaku, “Saya benar-benar ditampar ketika menemukan satu ayat yang menyadarkan saya untuk berubah.” Menurutnya, rekoleksi semacam ini sangat penting untuk remaja SMA Katolik, karena menumbuhkan keinginan untuk memperbaiki diri.
Misa Penutup: Mengembalikan Semua pada Allah
Perjalanan seharian itu akhirnya ditutup dengan Misa di Kapel Seminari. Suasana syahdu, meskipun beberapa siswa, seperti Wilbert, dengan jujur mengaku sempat mengantuk dan lapar. “Tapi saya tetap mencoba mengikuti dengan baik,” ujarnya polos.

Misa penutup menjadi tanda bahwa semua refleksi, diskusi, dan tawa hari itu bermuara pada satu hal: kembali kepada Allah, Sang Sumber pembaruan relasi.
Jejak Rekoleksi
Rekoleksi BKSN 2025 di SMA Xaverius 1 Palembang bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi ruang bagi para remaja untuk menata ulang relasi dengan diri sendiri, sesama, keluarga, dan Allah.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, pengalaman sederhana seperti saling memaafkan, berdoa bersama, atau membaca Kitab Suci ternyata mampu menyalakan api kecil pembaruan dalam hati para siswa. Api kecil yang, siapa tahu, kelak menjadi terang besar dalam hidup mereka masing-masing.*** (Ignas)