Oleh: Helen Puspita | Kelas XII A.2.1
DALAM hitungan hari, Helen, siswi SMA Xaverius 1 Palembang yang kini duduk di kelas XI, akan melangkah ke kelas XII. Perjalanan pendidikannya telah membawanya melewati TK Sion, SD Xaverius 1, dan SMP Xaverius Maria. Kini, menjelang tahun terakhirnya di bangku SMA, Helen membagikan pengalamannya: mengapa ia memilih jurusan MIPA campuran, bagaimana tips belajar yang efektif, serta cara bijaknya memanfaatkan waktu liburan. Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman sebayanya.
Mengapa MIPA Campuran?
“Saya memilih MIPA campuran karena saya menyukai semua mata pelajaran peminatan di dalamnya,” ujar Helen. Awalnya, ia sempat mempertimbangkan untuk memilih jurusan IPA murni karena kegemarannya pada fisika—mata pelajaran yang menurutnya penuh tantangan dan menyenangkan. Namun, ternyata pada angkatannya, fisika tetap diajarkan di semua jurusan IPA, termasuk IPA campuran. Hal ini membuatnya mantap memilih jalur yang lebih fleksibel tersebut.
Lebih dari itu, Helen melihat potensi jangka panjang dari pilihannya. “Saya ingin kuliah di jurusan Akuntansi atau Ekonomi Pembangunan di UNSRI. Maka belajar Ekonomi dan Akuntansi di IPA campuran bisa menjadi bekal awal saya,” jelasnya. Bagi Helen, jurusan ini adalah jalan tengah yang cerdas, ideal bagi siswa yang ingin lintas jurusan (linjur) saat kuliah nanti.
Tips Belajar ala Helen
Menurut Helen, kunci utama belajar efektif adalah perencanaan dan konsistensi. “Tentukan dulu apa yang mau dikerjakan hari ini, berapa lama waktunya, dan kerjakan satu per satu. Jangan loncat-loncat supaya fokus tetap terjaga,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya meminimalisir gangguan, seperti notifikasi ponsel atau suasana belajar yang tidak kondusif. Sebagai seorang pembelajar visual, Helen biasa membuat rangkuman materi saat di kelas lalu mengulasnya kembali di rumah.
“Satu hal yang penting: jangan tunda-tunda tugas! Karena kalau dikerjakan mepet deadline, hasilnya sering tidak maksimal. Apalagi kalau berbarengan dengan musim ujian, tugas-tugas menumpuk justru bisa mengganggu waktu belajar kita,” tuturnya.
Helen juga percaya pada kekuatan belajar mandiri. “Kalau memang niat, kita bisa mulai belajar lebih dulu dari teman-teman. Misalnya dengan ikut bimbel atau menonton video pembelajaran di YouTube. Sekarang banyak sumber belajar yang bisa diakses bebas—jadilah pembelajar sepanjang hayat,” ucapnya.
Dan yang tak kalah penting: cintai proses belajar itu sendiri. Menurutnya, ketika kita mulai menyukai materi pelajaran, belajar jadi terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Liburan: Rehat yang Tetap Produktif
Meski liburan tiba, Helen tidak serta-merta berhenti belajar. “Kalau lesnya tetap jalan, saya tetap ikut. Tapi selebihnya saya gunakan waktu untuk refreshing: baca novel atau komik, nonton film action di Netflix, atau jalan-jalan ke toko buku,” katanya santai.
Bagi Helen, liburan adalah momen yang pas untuk mengisi ulang energi setelah rutinitas sekolah yang padat. Dengan tubuh dan pikiran yang segar, ia siap menyambut semester baru dengan semangat yang baru pula.

Proficiat dan terima kasih kepada Helen yang telah bersedia berbagi cerita dan tipsnya di sore ini, Rabu, 18 Juni 2025. Semoga kisah Helen ini dapat memotivasi banyak siswa lainnya untuk berani memilih dengan bijak, belajar dengan cerdas, dan menikmati proses menjadi pribadi yang lebih baik.*** (Ignas)