Info Sekolah
Senin, 18 Mei 2026
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
18 Mei 2026

Melayani dalam Diam, Menguatkan dengan Kehadiran

Sen, 18 Mei 2026 Dibaca 59x

Refleksi tentang panggilan menjadi Prodiakon dari sosok sederhana di SMA Xaverius 1 Palembang

Di tengah kesibukan dunia pendidikan, ada panggilan lain yang dijalani dengan tenang oleh beberapa guru dan karyawati Katolik di SMA Xaverius 1 Palembang. Mereka bukan hanya pendidik di ruang kelas atau rekan kerja di lingkungan sekolah, tetapi juga pelayan altar yang membantu Gereja menghadirkan kasih Tuhan bagi umat. Mereka adalah para prodiakon.

Bagi sebagian umat Katolik, menjadi prodiakon bukanlah hal yang mudah diterima. Tidak sedikit yang memilih menolak ketika diminta. Alasannya beragam: merasa belum pantas, merasa hidupnya masih penuh kekurangan, atau takut tidak mampu menjalankan tugas pelayanan. Namun justru dari keraguan itulah sering kali Tuhan memulai karya-Nya.

Di lingkungan SMA Xaverius 1 Palembang, ada beberapa guru dan karyawati yang telah resmi dilantik menjadi prodiakon di parokinya masing-masing. Mereka adalah Pak Y. Wahyudi dan Ibu Rosalia Rini dari Paroki Katedral Santa Maria Palembang, serta Pak Herman Yoseph dari Paroki Santo Petrus Palembang. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri, terutama ketika sekolah mengadakan misa bagi siswa-siswi serta guru dan karyawan-karyawati Katolik. Dalam perayaan Ekaristi itu, mereka hadir membantu imam membagikan Komuni Kudus, sebuah pelayanan sederhana, namun penuh makna.

Ibu Rosalia ketika bertugas sebagai prodiakon di Paroki Katedral Santa Maria Palembang

Salah satu kisah yang menarik datang dari Ibu Rosalia Rini. Dalam sebuah wawancara sederhana, ia membagikan perjalanan batinnya ketika pertama kali diminta menjadi prodiakon. Semuanya bermula dari sebuah pesan singkat dari ketua lingkungan.

Mbak mau ndak jadi Prodiakon?

Jawaban pertamanya adalah penolakan. Ia merasa tidak pantas. Baginya, hidup masih dipenuhi banyak kekurangan. Sebagai seorang single parent yang membesarkan tiga anak seorang diri, ia merasa dirinya masih bergumul dengan begitu banyak persoalan hidup.

Namun jawaban sederhana dari ketua lingkungan justru terus tinggal dalam pikirannya.

Ahh tidak usah dipikirkan, yang penting mau.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyentuh sesuatu yang mendalam. Pelayanan ternyata bukan tentang merasa paling suci atau paling sempurna. Pelayanan adalah tentang kesiapan hati untuk menjawab panggilan Tuhan, meskipun diri masih penuh keterbatasan.

Ibu Rosalia mengaku sempat berpikir berulang kali: apakah dirinya pantas? Apakah ia mampu? Tetapi pada akhirnya, ia memilih melangkah dengan satu niat sederhana: melayani.

“Siap untuk melayani. Apa pun yang terjadi. Walaupun badai menerpa.”

Kalimat itu terasa begitu manusiawi sekaligus kuat. Sebab hidup memang tidak selalu mudah. Ada luka, ada kelelahan, ada pergumulan yang kadang tidak terlihat oleh orang lain. Namun justru di tengah semua itu, seseorang masih memilih hadir untuk melayani Tuhan dan sesama.

Perjalanan menjadi prodiakon pun tidak instan. Setelah diusulkan oleh Ketua Lingkungan St. Don Bosco di Paroki Katedral Santa Maria, namanya diproses oleh pastor paroki dan mengikuti berbagai pembekalan serta pelatihan bersama calon prodiakon lainnya. Hingga akhirnya, pada 27 Oktober 2024, ia resmi dilantik menjadi Prodiakon Katedral Santa Maria untuk periode 2025–2027.

Bagi Ibu Rosalia, menjadi prodiakon bukan soal jabatan rohani ataupun penghormatan. Harapannya justru sangat sederhana namun mendalam:

“Agar umat Katolik selalu rindu untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan Yesus.”

Di situlah inti pelayanan seorang prodiakon. Mereka membantu umat semakin dekat dengan Kristus. Tidak hanya saat misa di gereja, tetapi juga ketika mendatangi lansia dan umat yang sakit di rumah-rumah untuk membawakan Komuni Kudus. Kehadiran seorang prodiakon sering kali menjadi tanda bahwa Gereja tidak melupakan umatnya yang sedang lemah dan terbatas.

Pak Herman ketika bertugas sebagai prodiakon di Paroki St Petrus Palembang

Pelayanan seperti ini mungkin jarang terlihat gemerlap. Tidak banyak sorotan. Tidak selalu mendapat tepuk tangan. Tetapi justru di situlah letak keindahannya. Mereka melayani dalam diam, hadir dengan setia, dan menguatkan lewat tindakan-tindakan kecil yang penuh kasih.

Bagi para siswa di SMA Xaverius 1 Palembang, kisah Ibu Rosalia Rini menjadi pengingat bahwa panggilan hidup tidak selalu datang kepada orang yang merasa sempurna. Tuhan sering memanggil mereka yang mau membuka hati, mau belajar setia, dan mau melayani dengan tulus.

Karena pada akhirnya, pelayanan bukan tentang kelayakan manusia, melainkan tentang keberanian untuk berkata, “Ya Tuhan, saya siap melayani.” *** (Ignas)

Agenda

15
Jul 2025
waktu : 07:00
Agenda telah lewat
20
Jan 2025
waktu :
Agenda telah lewat
16
Nov 2024
waktu : 18:00
Agenda telah lewat