Ada sekolah yang hanya memberi ruang untuk belajar pelajaran. Namun, ada juga sekolah yang diam-diam mengajarkan kehidupan. Bagi Bona Rogate, siswi kelas XIIA.1.1.1, pengalaman itu ia temukan selama menempuh perjalanan di SMA Xaverius 1 Palembang.
Ketika pertama kali datang sebagai peserta didik baru, Bona tidak hanya bertemu dengan ruang kelas, buku pelajaran, atau jadwal belajar yang padat. Ia justru bertemu dengan dunia yang lebih luas: kesempatan-kesempatan baru, guru-guru yang membimbing dengan cara berbeda, pola belajar yang menantang, serta teman-teman dengan latar belakang yang sangat beragam.
Di situlah perlahan matanya terbuka.
Baginya, keberagaman bukan sesuatu yang membuat jarak, melainkan ruang untuk bertumbuh. Dari teman-teman Angkatan 75, Bona belajar bahwa setiap orang membawa cerita, karakter, dan perjuangannya masing-masing. Ada yang datang dengan mimpi besar, ada yang belajar bangkit dari kegagalan, ada pula yang diam-diam berjuang menemukan dirinya sendiri.
Namun justru di tengah perbedaan itulah persahabatan tumbuh.
Hari-hari di sekolah menjadi lebih hidup ketika ia mulai aktif berdinamika bersama saudara-saudari di ekskul PAKAXA. Dalam kebersamaan itu, Bona tidak hanya menemukan teman seperjalanan, tetapi juga keluarga kecil yang saling mendukung dan menguatkan. Relasi dengan kakak kelas dan adik kelas pun menghadirkan pengalaman yang hangat: belajar menghargai, mendengar, sekaligus bertumbuh bersama.

Bagi Bona, masa SMA ternyata bukan hanya tentang nilai akademik atau pencapaian di atas kertas. Ada pelajaran yang jauh lebih penting dan sering kali tidak tertulis di buku pelajaran: tentang kehidupan.
Tentang bagaimana memahami orang lain.
Tentang bagaimana menghadapi perbedaan.
Tentang bagaimana tetap bertahan saat lelah.
Dan terutama, tentang bagaimana menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Ada masa-masa penuh tekanan, tugas yang menumpuk, kebingungan menentukan arah, juga pertanyaan tentang masa depan. Namun, di tengah semua proses itu, Bona menyadari satu hal penting: sekolah bukan tempat untuk menjadi sempurna, melainkan tempat untuk terus bertumbuh.
Kini, menjelang akhir masa putih abu-abunya, Bona membawa lebih dari sekadar kenangan. Ia membawa pengalaman, relasi, dan nilai-nilai kehidupan yang akan tinggal lama dalam dirinya.
Sebab pada akhirnya, pendidikan yang paling membekas bukan hanya tentang apa yang kita pelajari di kelas, tetapi tentang siapa diri kita setelah melewati semua proses itu.*** (Ignas)