Cerita Theresa Nauri dan Angel Susanto Menembus Lomba Inovasi di Binus Semarang
Kadang kesempatan besar datang tanpa banyak pemberitahuan. Tidak selalu diawali persiapan panjang atau fasilitas yang sempurna. Ada kalanya, kesempatan hadir tiba-tiba, mengetuk pintu, lalu menantang siapa yang berani mencoba.
Itulah yang dialami Theresa Nauri dari kelas XIA.1.1.1 dan Angel Susanto dari kelas XIA.2.2 ketika mengikuti Ideation Competition di BINUS University. Informasi lomba baru mereka terima sekitar lima hari sebelum pendaftaran ditutup. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah kompetisi inovasi tingkat nasional.
Namun, keterbatasan waktu ternyata tidak membatasi semangat mereka.
“Kami hanya sempat menuangkan ide dasar ke dalam mini proposal,” cerita Theresa. Dari titik sederhana itulah perjalanan mereka dimulai.
Ide yang mereka kembangkan bukan sekadar proyek biasa. Theresa dan Angel menciptakan alat bantu tunanetra berbasis sensor jarak dengan memanfaatkan pipa paralon daur ulang. Inovasi itu dirancang menggunakan konsep Internet of Things (IoT), sehingga alat dapat membantu pengguna mengenali jarak benda di sekitarnya.
Ada sesuatu yang menarik dari gagasan mereka. Di tengah perkembangan teknologi yang sering terasa mahal dan rumit, kedua siswi ini justru menghadirkan inovasi yang sederhana, ramah lingkungan, tetapi memiliki nilai kemanusiaan yang kuat. Mereka tidak hanya berpikir tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi bisa membantu sesama.
Tahap semifinal menjadi bagian yang paling menantang. Proposal yang sebelumnya hanya berupa ide harus diwujudkan menjadi produk nyata. Dalam waktu sekitar tiga hari, mereka bekerja keras menyelesaikan alat tersebut agar dapat berfungsi sesuai harapan.

Tentu prosesnya tidak selalu mudah. Ada rasa lelah, ada tekanan waktu, dan ada kekhawatiran apakah alat itu benar-benar akan berjalan dengan baik. Namun justru di situlah mereka belajar bahwa inovasi bukan hanya soal kecerdasan, melainkan juga ketekunan dan keberanian untuk terus mencoba.
Dalam perjalanan itu, mereka tidak berjalan sendirian.
Sejak awal hingga tahap final, mereka didampingi oleh Pak Wira. Ketika lomba memasuki tahap final yang dilaksanakan secara onsite di Semarang (Sabtu, 9 Mei 2026), Ibu Rita turut mendampingi dan memberikan dukungan penuh. Kehadiran guru pendamping menjadi bagian penting yang memberi semangat sekaligus keyakinan bahwa para siswa mampu memberikan yang terbaik.
Tahap final menghadirkan tantangan berbeda. Bukan lagi sekadar membuat produk, tetapi bagaimana menyampaikan ide dengan jelas, menarik, dan meyakinkan dalam waktu presentasi yang terbatas. Mereka harus belajar memilih kata yang tepat, menjelaskan manfaat inovasi secara singkat, sekaligus menjaga rasa percaya diri di depan para juri.
Dan usaha itu akhirnya membuahkan hasil membanggakan.
Theresa dan Angel berhasil meraih:
Prestasi itu tentu membanggakan. Namun bagi Theresa, ada hal lain yang lebih membekas selama perlombaan berlangsung.

“Yang paling berkesan adalah bisa bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah. Kami bisa saling berbagi cerita dan bertukar ide tentang inovasi yang dibuat,” ungkapnya.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa sebuah kompetisi bukan hanya tentang menang atau kalah. Perlombaan juga menjadi ruang belajar, ruang bertumbuh, dan ruang untuk melihat bahwa banyak anak muda Indonesia sedang bergerak menciptakan perubahan lewat ide-ide kreatif mereka.
Dari sebuah pipa paralon daur ulang, Theresa dan Angel membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari kepedulian sederhana. Dan dari persiapan yang singkat, mereka menunjukkan bahwa keberanian untuk mencoba sering kali menjadi langkah awal menuju pencapaian besar.
Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama waktu persiapannya, tetapi seberapa besar kemauan untuk terus belajar dan berjuang sampai akhir.*** (Ignas)