Bagi banyak siswa, kemah pramuka selalu punya cerita yang sulit dilupakan. Hal itulah yang dirasakan Amanda Benedicta Simangunsong, siswi kelas X.5, saat mengikuti kegiatan kemah pramuka pada Kamis, 7 Mei 2026 lalu.
Sejak pagi hari, suasana sekolah sudah terasa berbeda. Lapangan dipenuhi tenda, perlengkapan kemah, dan wajah-wajah penuh semangat. Setelah upacara pembukaan berlangsung tertib, setiap sangga mulai sibuk menyiapkan tenda masing-masing. Di tengah panas matahari yang cukup terik, para peserta tetap bekerja sama sambil sesekali tertawa bersama teman-teman.
Namun, kemah ternyata tidak selalu berjalan mulus. Ada tiang tenda yang sulit dipasang, perlengkapan yang sempat berantakan, hingga rasa lelah karena hampir semua kegiatan dilakukan di luar ruangan. Meski begitu, justru di situlah letak serunya.
Amanda merasakan bahwa kemah bukan hanya tentang lomba atau permainan. Lewat kegiatan sederhana seperti memasang tenda dan berbagi tugas, para peserta belajar saling membantu dan menjaga kekompakan. Saat ada teman yang kesulitan, yang lain segera datang membantu. Tidak ada yang benar-benar bekerja sendirian.

Di balik rasa lelah, tersimpan banyak momen hangat yang membuat pengalaman kemah terasa menyenangkan. Tawa bersama, kerja sama, dan cerita-cerita kecil selama kegiatan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Bagi Amanda, kemah mengajarkan satu hal penting: kebersamaan mampu membuat tantangan terasa lebih ringan. Suka dan duka yang dialami bersama justru membuat persahabatan semakin erat.
Pada akhirnya, kemah bukan hanya tentang tinggal di dalam tenda atau mengikuti kegiatan lapangan. Kemah adalah tempat belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, lebih peduli, dan lebih mampu bekerja sama dengan orang lain. Dari pengalaman sederhana itulah tumbuh kenangan indah yang akan selalu tersimpan dalam ingatan.*** (Ignas)