Oleh: Juanita dan Jeconia, Tim Ekskul Jurnalistik
Mentari pagi baru saja menghangatkan lapangan sekolah ketika ratusan siswa baru berkumpul pada Jumat, 10 Juli 2026. Hari itu bukan sekadar penutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), melainkan puncak dari lima hari perjalanan yang penuh cerita, tantangan, tawa, dan kebersamaan.
Pukul 07.00 WIB, suasana Lapangan Olahraga sudah ramai. Dengan doa pembukaan yang dipanjatkan bersama, seluruh peserta memulai hari terakhir MPLS dengan harapan agar setiap rangkaian kegiatan berjalan lancar. Tak lama kemudian, irama semangat mulai terasa saat olahraga bersama digelar. Gerakan-gerakan sederhana yang dilakukan serempak menghadirkan energi positif dan keceriaan yang menyebar ke seluruh penjuru lapangan.
Namun, suasana santai itu tidak berlangsung lama. Tepat pukul 07.30 WIB, peserta MPLS memasuki sesi Latihan Terampil Baris-Berbaris (LTBB). Di bawah arahan para pembina dan pendamping, siswa-siswi baru berusaha menjaga langkah, merapikan barisan, dan menyatukan gerakan. Terik matahari yang mulai meninggi tidak mengurangi semangat mereka. Dari latihan ini, para peserta belajar bahwa kekompakan tidak lahir begitu saja, melainkan dibangun melalui kerja sama dan disiplin yang terus dilatih.

Keringat yang mengalir menjadi bukti perjuangan pagi itu. Karena itu, waktu istirahat selama 15 menit terasa begitu berharga. Sebagian siswa memilih melepas lelah, sementara yang lain memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempersiapkan penampilan terbaik mereka dalam Pentas Seni.
Menjelang pukul 09.15 WIB, suasana berubah total. Lapangan Indoor yang sebelumnya tenang mendadak dipenuhi warna, musik, dan antusiasme. Pentas Seni menjadi panggung bagi para siswa untuk menunjukkan bakat dan kreativitas mereka. Ada yang tampil percaya diri di atas panggung, ada pula yang berjuang mengatasi rasa gugup demi memberikan penampilan terbaik.
Sorak-sorai penonton menggema setiap kali sebuah kelompok menyelesaikan penampilannya. Gelak tawa, tepuk tangan, dan dukungan dari teman-teman menciptakan suasana hangat yang sulit dilupakan. Di sinilah para siswa tidak hanya menunjukkan kemampuan, tetapi juga keberanian untuk tampil dan mengekspresikan diri.
Puncak kemeriahan terjadi saat pengumuman para pemenang dibacakan. Kelas X.4 berhasil meraih juara utama Pentas Seni berkat penampilan mereka yang kreatif dan memukau. Sementara itu, kelas X.8 memperoleh penghargaan atas konsistensi mereka menjaga kebersihan kelas selama MPLS berlangsung.
Prestasi membanggakan juga diraih Karina Evangelista dari kelas X.5 yang berhasil mengumpulkan tanda tangan pengurus OSISKA, pembina, dan pengurus lainnya dalam jumlah terbanyak. Selain itu, penghargaan siswa dan siswi terbaik selama MPLS diberikan kepada peserta terpilih dari kelas X.5 dan X.4 yang menunjukkan sikap serta partisipasi yang luar biasa sepanjang kegiatan.
Meski nama-nama pemenang diumumkan dan tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan, ada pelajaran yang lebih besar dari sekadar kemenangan. Selama lima hari MPLS, para siswa belajar mengenal teman-teman baru, bekerja sama dalam kelompok, beradaptasi dengan lingkungan sekolah, serta menghadapi berbagai tantangan bersama. Pengalaman inilah yang menjadi hadiah sesungguhnya.
Tepat pukul 11.00 WIB, seluruh peserta kembali berkumpul di Lapangan Indoor untuk mengikuti acara penutupan. Suasana yang semula riuh perlahan berubah menjadi lebih khidmat. Apresiasi diberikan kepada para pemenang, sementara doa penutupan yang dipanjatkan pada pukul 11.30 WIB menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian MPLS 2026.
Hari itu, para siswa pulang dengan wajah lelah, tetapi juga dengan senyum yang berbeda. Mereka tidak hanya membawa sertifikat, penghargaan, atau foto-foto kenangan. Mereka membawa pengalaman berharga yang akan menjadi bagian dari perjalanan mereka sebagai keluarga besar sekolah.

Karena pada akhirnya, menang tidak selalu tentang hadiah atau gelar juara. Menang adalah tentang usaha yang tidak menyerah, kerja sama yang terjalin selama proses, dan kebersamaan yang tumbuh dari hari ke hari. MPLS mungkin telah berakhir, tetapi kenangan serta pelajaran yang lahir dari lima hari itu akan terus hidup dalam langkah mereka ke depan.*** (Ignas)