DI sebuah ruang kelas di SMA Xaverius 1 Palembang, ide-ide kecil perlahan menemukan bentuknya. Bukan sesuatu yang langsung sempurna, tetapi justru di sanalah proses dimulai, di antara coretan, revisi, dan keberanian untuk mencoba.
Juanita memulai langkahnya dengan keinginan sederhana: menyalurkan ide dan mengembangkan kemampuan menulis. Baginya, GITA bukan sekadar majalah sekolah, tetapi jembatan untuk menyampaikan cerita kepada lebih banyak orang. Ia percaya, tulisan yang menarik bisa membuat orang berhenti sejenak, membaca, lalu terinspirasi.
Hal yang sama dirasakan Sheryn Patricia. Ia melihat menulis sebagai proses belajar yang tidak instan. Dari kata ke kalimat, dari kalimat ke paragraf, semuanya membutuhkan ketekunan. Namun justru di situlah keindahannya: bertumbuh sedikit demi sedikit.
Sementara itu, Jonathan Lie menemukan GITA sebagai ruang untuk mengasah kreativitas. Baginya, menulis bukan hanya soal kata, tetapi juga tentang bagaimana ide bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang hidup dan bermakna. Bahkan waktu luang di hari Selasa pun kini terasa lebih berarti.
Di GITA, tidak ada langkah yang sia-sia. Setiap tulisan, sekecil apa pun, adalah bagian dari perjalanan. Karena pada akhirnya, bukan hanya karya yang dihasilkan, tetapi juga pribadi yang dibentuk, lebih berani, lebih kreatif, dan lebih percaya diri.*** (Ignas)