Info Sekolah
Kamis, 02 Apr 2026
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
18 Maret 2026

Belajar Memimpin dengan Hati

Rab, 18 Maret 2026 Dibaca 75x

Kisah Perjalanan Nuel di OSISKA 69

Di balik setiap organisasi sekolah, selalu ada cerita tentang proses bertumbuh. Bukan hanya tentang program kerja yang terlaksana, tetapi tentang manusia yang dibentuk di dalamnya. Salah satu kisah itu datang dari Emanuel Arkanjelino Jati Kumara, atau yang akrab disapa Nuel.

Sebagai siswa kelas XI A.2.1 di SMA Xaverius 1 Palembang, Nuel mengambil bagian dalam OSISKA Angkatan 69 (2025–2026), khususnya di Sekbid 1, bidang yang berfokus pada ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Dari Program ke Makna

Bagi sebagian orang, program kerja mungkin hanya daftar kegiatan. Namun bagi Nuel, setiap kegiatan adalah ruang belajar.

Bersama timnya, ia terlibat dalam berbagai kegiatan:

  • Doa Angelus/Ratu Surga
  • Misa Jumat Pertama dan Jalan Salib
  • Kolaborasi Kartini x Paskah lintas bidang
  • Wisata rohani
  • Penerimaan Sakramen Tobat
  • Christmas Charity

Semua itu bukan sekadar agenda, tetapi pengalaman nyata bagaimana iman dihidupi dalam kebersamaan.

Dalam perspektif pedagogis, inilah yang disebut belajar melalui pengalaman (experiential learning), ketika siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga merasakan dan menghidupi nilai.

Kepemimpinan yang Tumbuh dari Relasi

Namun hal paling berkesan bagi Nuel bukanlah jumlah kegiatan yang berhasil dilaksanakan. Ia justru menemukan sesuatu yang lebih dalam: kekeluargaan.

“Awalnya saya tidak terlalu mengenal teman-teman di OSISKA,” ungkapnya.

Tetapi waktu, kerja sama, dan dinamika organisasi perlahan mengubah segalanya. Dalam setiap rapat, persiapan acara, hingga kelelahan bersama, mereka mulai saling membuka diri. Cerita dibagikan, tawa tercipta, dan kepercayaan tumbuh.

Di sinilah kepemimpinan menemukan maknanya yang sejati: bukan soal mengatur, tetapi membangun relasi.

Pekerjaan yang berat pun terasa ringan ketika dilakukan bersama. Ada rasa nyaman, ada rasa memiliki, dan ada kesatuan yang hangat.

Memilih Berhenti, Bukan Berarti Selesai

Menariknya, di akhir masa kepengurusan, Nuel mengambil keputusan yang tidak biasa: ia memilih tidak melanjutkan ke periode berikutnya.

Bukan karena lelah atau kecewa, tetapi karena ia merasa satu periode sudah cukup. Ia ingin merasakan pengalaman yang berbeda, menjadi peserta biasa dalam program OSISKA berikutnya.

Keputusan ini menunjukkan kedewasaan seorang pemimpin muda. Ia memahami bahwa kepemimpinan bukan soal bertahan di posisi, tetapi tentang menyadari kapan harus memberi ruang bagi yang lain.

Dalam kepemimpinan profesional, ini dikenal sebagai knowing when to step back, kemampuan untuk mundur dengan bijak demi keberlanjutan.

Pelajaran yang Tertinggal

Dari perjalanan Nuel, ada satu benang merah yang bisa ditarik: kepemimpinan sejati tidak dibentuk oleh jabatan, tetapi oleh pengalaman, relasi, dan refleksi diri.

Ia datang sebagai siswa yang belum banyak mengenal orang lain, lalu bertumbuh menjadi pribadi yang mampu bekerja sama, membuka diri, dan menghargai kebersamaan.

Dan mungkin, pelajaran paling penting yang ia tinggalkan adalah ini: bahwa dalam sebuah organisasi, yang paling diingat bukan hanya apa yang kita kerjakan, tetapi siapa yang berjalan bersama kita.

Kisah Nuel mengingatkan kita bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga tempat belajar menjadi manusia, belajar memimpin, belajar melayani, dan belajar mencintai dalam kebersamaan.*** (Ignas)

Agenda

15
Jul 2025
waktu : 07:00
Agenda telah lewat
20
Jan 2025
waktu :
Agenda telah lewat
16
Nov 2024
waktu : 18:00
Agenda telah lewat