Info Sekolah
Kamis, 02 Apr 2026
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
17 Maret 2026

Belajar Melayani, Belajar Melepaskan

Sel, 17 Maret 2026 Dibaca 76x

Catatan kecil dari perjalanan Edyth Quinsha Sirait di OSISKA

Di sebuah sekolah, organisasi siswa bukan sekadar tempat berkumpul atau menjalankan program kerja. Di sana, anak-anak muda belajar sesuatu yang lebih dalam: tanggung jawab, kebersamaan, dan arti melayani. Itulah yang dialami oleh Edyth Quinsha Sirait, siswi kelas XI A.2.1 di SMA Xaverius 1 Palembang.

Bagi Edyth, OSISKA bukan hanya organisasi. Ia adalah ruang belajar kehidupan.

Melayani lewat Sekbid Kesehatan

Pada periode sebelumnya, Edyth dipercaya bergabung dalam Sekbid 7: Pembinaan Kualitas Jasmani, Kesehatan, dan Gizi. Bidang ini mungkin tidak selalu tampak di panggung utama kegiatan sekolah, tetapi memiliki peran penting: membangun kesadaran hidup sehat di kalangan siswa.

Bersama timnya, mereka menjalankan beberapa program yang bermakna.

Salah satunya adalah Seminar NAPZA yang menghadirkan narasumber dari Badan Narkotika Nasional. Melalui kegiatan ini, para siswa diajak memahami bahaya narkotika sekaligus belajar bagaimana menolak godaan yang merusak masa depan.

Program lain yang lebih ringan tetapi sarat makna adalah Bangau MasterChef. Dalam kegiatan ini, para siswa berlomba memasak makanan bergizi saat class meeting. Di balik suasana meriah itu tersimpan pesan sederhana: hidup sehat dimulai dari makanan yang baik.

Namun ada satu kegiatan yang mungkin paling menyentuh hati: Bangau Peduli. Pada bulan Ramadhan, OSISKA mengadakan kegiatan berbagi bagi teman-teman yang membutuhkan. Bagi Edyth, kegiatan seperti ini mengingatkan bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga tempat belajar kepedulian.

Kebersamaan yang Tak Tergantikan

Ketika diminta mengenang masa-masa di OSISKA, Edyth tidak langsung menyebut program atau kegiatan besar. Yang paling ia ingat justru sesuatu yang lebih sederhana: kebersamaan.

Pengurus OSISKA 69 tidak hanya bertemu ketika ada kegiatan resmi. Mereka juga sering berkumpul di luar agenda organisasi. Kadang untuk membicarakan rencana program kerja berikutnya, kadang hanya untuk berbagi cerita.

Ada satu hal yang sangat membekas bagi Edyth: perhatian kakak-kakak kelas XII kepada adik-adik kelasnya.

Dalam banyak kesempatan, mereka memberikan “wejangan”, cerita tentang pengalaman sekolah, pilihan jurusan, hingga dunia perguruan tinggi. Percakapan-percakapan sederhana itu sering terjadi secara santai, tetapi justru di situlah banyak pelajaran kehidupan mengalir.

Di dalam kebersamaan seperti itu, Edyth menyadari bahwa organisasi bukan hanya tentang struktur atau jabatan. Organisasi adalah tentang manusia yang saling mendukung untuk bertumbuh.

Belajar Melepaskan

Tahun ini, Edyth memutuskan untuk tidak melanjutkan kepengurusan OSISKA.

Keputusan itu bukan karena kehilangan semangat berorganisasi. Sebaliknya, ia merasa OSISKA sudah memberinya banyak pengalaman berharga.

Kini ia ingin mengarahkan energinya untuk sesuatu yang juga penting: mempersiapkan masa depan akademiknya dan mengejar perguruan tinggi yang ia impikan.

Baginya, ada waktunya seseorang terjun penuh dalam organisasi, dan ada waktunya fokus pada langkah berikutnya dalam hidup.

Keputusan itu diambil dengan tenang, tanpa penyesalan.

Karena bagi Edyth, OSISKA sudah memberikan sesuatu yang tak ternilai: pengalaman bertumbuh sebagai pribadi.

Kenangan yang Akan Selalu Tinggal

Ketika mengenang perjalanan itu, Edyth mengungkapkan satu kalimat sederhana namun penuh makna: Ia ingin selalu mengingat OSISKA sebagai periode OSISKA 69, periode Kak Grego.

Bukan sekadar nama angkatan, tetapi sebuah masa kebersamaan yang membentuk dirinya.

Sebuah Pelajaran Kepemimpinan

Kisah Edyth mengingatkan kita pada satu hal penting dalam pendidikan: Organisasi sekolah bukan hanya tempat melatih kemampuan memimpin orang lain, tetapi juga tempat belajar mengenal diri sendiri.

Di sana siswa belajar:

  • bekerja bersama
  • peduli pada sesama
  • dan akhirnya berani mengambil keputusan tentang masa depan.

Seperti yang dialami Edyth, kadang kepemimpinan tidak selalu berarti terus memegang jabatan.

Kadang kepemimpinan juga berarti tahu kapan melangkah maju, dan kapan melangkah ke arah yang baru.

Dan dari setiap perjalanan seperti itu, seorang siswa tidak hanya menjadi lebih pintar.

Ia menjadi lebih dewasa.*** (Ignas)

Agenda

15
Jul 2025
waktu : 07:00
Agenda telah lewat
20
Jan 2025
waktu :
Agenda telah lewat
16
Nov 2024
waktu : 18:00
Agenda telah lewat