“Kesuksesan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mau terus belajar dan berani berubah.” Kalimat ini seolah menggambarkan perjalanan Jerald Lexandro Abraham Hasudungan Manulang, siswa Kelas XII.A.1.2.1 SMA Xaverius 1 Palembang yang berhasil mewujudkan impiannya diterima di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Teman-temannya mengenal siswa yang akrab disapa Jerald atau Bram ini sebagai pribadi yang tenang, tekun, dan memiliki minat besar dalam bidang akademik. Namun, di balik keberhasilannya hari ini, tersimpan kisah perjuangan yang tidak selalu mudah.
Mimpi yang Tumbuh dari Inspirasi
Keinginan masuk ITB sudah tumbuh sejak Jerald duduk di kelas IX SMP. Saat itu, sang kakak berhasil diterima di kampus impian tersebut. Keberhasilan kakaknya menjadi sumber inspirasi yang membangkitkan semangat dalam dirinya.
“Abang selalu menjadi inspirasi saya sejak kecil. Karena itu saya termotivasi untuk mengikuti jejaknya,” ungkap Jerald.
Sejak saat itu, ITB bukan lagi sekadar nama sebuah perguruan tinggi ternama, melainkan tujuan yang ingin ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh.
Belajar dari Keterpurukan
Tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan Jerald menuju ITB tidak dimulai dari posisi yang nyaman. Ketika memasuki SMA, prestasi akademiknya belum menunjukkan hasil yang istimewa. Bahkan pada semester pertama kelas X, ia berada di peringkat 20 di kelasnya.
Alih-alih menyerah, Jerald menjadikan kondisi tersebut sebagai titik balik.
Ia mulai mengevaluasi diri dan bertekad menjadi versi terbaik dari dirinya. Materi pelajaran yang tertinggal dipelajari kembali sedikit demi sedikit. Waktu belajar diperpanjang hingga larut malam, tetapi tetap dengan menjaga kualitas dan konsistensi.
“Saya sadar harus berubah jika ingin mencapai cita-cita,” katanya.
Perubahan besar sering kali dimulai dari keberanian untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Itulah yang dilakukan Jerald.
Langkah Kecil yang Dilakukan Setiap Hari
Selain mempersiapkan diri melalui pembelajaran sekolah, Jerald juga mulai mencicil materi UTBK sejak awal. Ia mengikuti bimbingan belajar, rajin mengikuti try out, dan terus mencari peluang yang dapat membawanya lebih dekat kepada impiannya.
Salah satu langkah berani yang ia lakukan adalah mengikuti program intensif persiapan IELTS di Jakarta pada akhir Mei hingga awal Juni. Hasilnya tidak mengecewakan. Jerald berhasil meraih skor Band 7 dari skala 9, sebuah pencapaian yang membantunya mendaftar melalui jalur International Undergraduate Program (IUP).
Baginya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga keberanian mencoba berbagai kesempatan yang tersedia.
Dukungan yang Menguatkan
Jerald menyadari bahwa perjuangannya tidak dijalani seorang diri. Dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan yang sangat berarti. Sang ibu terus mengingatkannya bahwa setiap proses besar selalu memiliki tantangan.
Selain itu, ia juga mendapatkan dorongan semangat dari sahabatnya, Herlin Hermawan, yang selalu memotivasi dirinya untuk terus berkembang dan tidak cepat puas dengan pencapaian yang ada.
Tetap Menjadi Diri Sendiri
Di tengah kesibukan akademik, Jerald tetap memiliki ruang untuk menyalurkan hobinya. Jika dulu basket menjadi olahraga favoritnya, kini ia lebih sering menghabiskan waktu dengan menggambar dan melukis, bakat yang sudah terlihat sejak sekolah dasar.

Bagi anak ketiga dari lima bersaudara ini, melukis bukan sekadar hobi, melainkan cara sederhana untuk menenangkan pikiran setelah menjalani rutinitas belajar yang padat.
Menatap Masa Depan
Setelah diterima di FTSL ITB, Jerald tidak ingin cepat berpuas diri. Target terdekatnya adalah mampu beradaptasi dan bersaing secara sehat dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai daerah.
Ia juga berharap dapat mengikuti magang sejak dini serta terlibat dalam berbagai proyek dosen untuk memperkaya pengalaman dan mengembangkan kompetensinya.
Kisah Jerald mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari mereka yang sejak awal berada di puncak. Terkadang, keberhasilan justru datang kepada mereka yang berani bangkit dari keterbatasan, mau belajar dari kegagalan, dan tidak pernah berhenti berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Dari ranking 20 di kelas hingga diterima di ITB, perjalanan Jerald menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diraih oleh siapa saja yang memiliki kemauan untuk terus bertumbuh. Semoga kisahnya menginspirasi peserta didik lainnya untuk berani bermimpi, bekerja keras, dan tidak takut memulai perubahan dari diri sendiri. *** (Ignas)