HARI kedua sesi studi bersama bagi seluruh guru SMA Xaverius 1 Palembang (Selasa, 24 Juni 2025) berlangsung penuh semangat dan inspirasi. Bertempat di ruang pertemuan lantai 3, acara yang dimulai pukul 08.30 hingga 15.00 WIB ini menghadirkan narasumber tunggal: Dr. Nancy Susiana, M.Pd, seorang dosen, peneliti, sekaligus pemerhati pendidikan dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, yang saat ini menjabat sebagai Dekan FKIP.
Dengan tema “Mengoptimalkan Proses Belajar Mengajar di SMA Xaverius 1 Palembang dengan Pendekatan Deep Learning”, para guru diajak untuk merenung, menggugat, dan menemukan kembali makna sejati dari proses pendidikan: tidak sekadar transfer ilmu, tetapi upaya menyentuh jiwa.
Mengajar dengan Kedalaman
Kesan pertama yang muncul dari sesi ini: antusias dan enerjik. Para guru terlihat terlibat aktif mengikuti setiap bagian workshop. Dr. Nancy memulai paparannya dengan menyinggung frase biblis yang inspiratif: Duc in altum — Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam. Kalimat ini menjadi simbol ajakan bagi para pendidik agar tidak puas dengan pembelajaran yang dangkal, tetapi terus menggali strategi baru yang bermakna dan transformatif.
Salah satu prinsip utama dari deep learning adalah berangkat dari konsep sederhana menuju keterampilan berpikir tingkat tinggi, membentuk pemahaman yang kuat dan aplikatif dalam kehidupan nyata siswa.

Paradigma Baru: Mengajar untuk Memuliakan
Dalam sesi reflektif yang memikat, Dr. Nancy mengajak para guru untuk mengubah cara pandang terhadap proses pembelajaran. Beberapa prinsip utama yang ia tekankan adalah:
Strategi Praktis: Dari Gagasan ke Aksi
Agar tidak berhenti pada gagasan, Dr. Nancy membekali peserta dengan beragam strategi pembelajaran mendalam yang bisa langsung dipraktikkan di kelas. Dalam sesi kelompok, guru-guru mengeksplorasi metode seperti:
Semua strategi ini tidak hanya menstimulasi pemahaman, tapi juga membangun koneksi emosional dan intelektual siswa terhadap materi.
Akhir yang Bermakna
Dr. Nancy menutup sesinya dengan sebuah penekanan penting: pembelajaran yang bermakna lahir dari kesadaran, kegembiraan, dan relasi yang otentik. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi penyuluh kehidupan yang membantu peserta didik menemukan terang di dalam dirinya sendiri.
Sesi ini bukan hanya membuka wawasan, tapi juga menyalakan kembali semangat para guru untuk menghadirkan pendidikan yang lebih dalam, lebih bermakna, dan lebih memuliakan.*** (Ignas)
