Semua berawal dari rasa bosan.
Pada awal tahun 2022, Timothy Otniel Adi Kristara, alumni SMA Xaverius 1 Palembang angkatan 2024, mencoba berlatih Sambo. Tidak ada cita-cita besar saat itu. Ia hanya ingin mengisi waktu luang. Namun, siapa sangka, langkah kecil itu mengantarnya hingga ke panggung olahraga tingkat Asia dan Oseania.
Pada 25–28 Juni 2026, Timothy tampil dalam Asia and Oceania Sambo Championship di Manila, Filipina. Ia membawa nama Indonesia. Ia juga membawa mimpi yang telah dipupuk selama bertahun-tahun.
Perjalanan menuju kejuaraan itu tidak mudah.
Sejak lulus dari SMA Xaverius 1, Timothy berlatih tanpa mengenal kata bosan. Ia menjalani latihan dua hingga tiga kali setiap hari. Rutinitas itu berlangsung sejak tahun 2024. Hanya hari Minggu yang menjadi waktu istirahat. Selebihnya, ia menghabiskan waktu untuk memperkuat fisik, mengasah teknik, dan membangun mental bertanding.
Latihan keras itu lahir dari sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan.
Sebelumnya, Timothy pernah mengikuti kejuaraan dunia. Ia gagal meraih hasil terbaik karena mengalami dislokasi bahu. Kekalahan itu meninggalkan luka. Namun, ia tidak memilih menyerah. Ia memilih bangkit. Kejuaraan Asia dan Oseania menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan.
“Jujur, saya ingin membalas kegagalan itu. Saya juga memang suka dengan olahraga ini,” ungkapnya.
Di Manila, tantangan yang dihadapi ternyata lebih besar dari yang dibayangkan.
Timothy berangkat seorang diri. Tidak ada pelatih yang mendampingi. Tidak ada rekan satu tim Indonesia yang berdiri di sudut arena. Saat atlet lain mendapat arahan dan dukungan dari pelatih mereka, Timothy harus mengandalkan dirinya sendiri.
Situasi itu sempat mengguncang mentalnya, terutama saat pertandingan final. Rasa sepi dan tekanan perlombaan membuat kepercayaan dirinya menurun. Namun, ia tidak membiarkan keadaan mengalahkan tekadnya.
Ia tetap bertanding.
Ia tetap berjuang.
Ia tetap memberikan kemampuan terbaiknya.
Hasilnya, Timothy berhasil meraih Juara II Asia dan Oseania. Sebuah prestasi yang membanggakan bagi dirinya, keluarga, almamater, dan Indonesia.
Namun, bagi Timothy, medali perak itu belum menjadi garis akhir.
“Saya belum puas,” katanya singkat.
Jawaban itu menunjukkan bahwa seorang juara sejati tidak berhenti setelah meraih prestasi. Ia justru melihat setiap keberhasilan sebagai langkah menuju pencapaian berikutnya.

Kisah Timothy mengajarkan bahwa kesuksesan sering kali berawal dari hal-hal sederhana. Dari rasa bosan yang berubah menjadi hobi. Dari latihan yang dilakukan setiap hari. Dari keberanian untuk bangkit setelah gagal. Bahkan, dari kemampuan tetap berdiri teguh ketika harus berjuang seorang diri.
Tidak semua orang akan berdiri di podium juara. Namun, setiap orang dapat belajar memiliki semangat yang sama: berani memulai, tekun berlatih, tidak menyerah saat gagal, dan tetap melangkah meski dukungan tidak selalu ada.
Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan hanya tentang mengalahkan lawan di arena. Kemenangan terbesar adalah mampu mengalahkan rasa takut, keraguan, dan keinginan untuk menyerah.
Dan Timothy telah membuktikannya. “Kalau kita mau terus belajar dan berlatih, hasil akan mengikuti. Jangan takut memulai meskipun dari hal yang sederhana.” *** (Ignas)