Jejak Guru Muda di SMA Xaverius 1 Palembang
Sejak 5 Januari 2026, dunia pendidikan di SMA Xaverius 1 Palembang mendapat warna baru dengan hadirnya Ibu Maria Franela, S.Pd. Guru muda yang akrab disapa Ibu Nela ini mengampu mata pelajaran Geografi. Ia merupakan alumni Universitas Lampung, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Program Studi Pendidikan Geografi. Dengan latar belakang akademik yang kuat dan semangat mengajar yang segar, kehadirannya membawa cara pandang baru dalam memahami Geografi sebagai ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ibu Nela berasal dari Pringombo, sebuah desa di Pringsewu, Lampung. Ia dibesarkan di lingkungan pedesaan yang masih kental dengan nilai kebersamaan dan kehidupan sosial yang erat antarwarga. Hidup bertetangga, saling mengenal, dan saling membantu bukanlah hal yang asing baginya. Pengalaman tumbuh di tengah komunitas seperti inilah yang membentuknya menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan dan relasi sosial, dua hal yang sangat lekat dengan Geografi.

Ketertarikannya pada dunia pendidikan tidak lepas dari pengaruh keluarga. Ayahnya adalah seorang guru, sosok yang sejak awal memperkenalkannya pada nilai pengabdian dalam dunia pendidikan. Ditambah lagi, saat menempuh pendidikan di SMA Xaverius Pringsewu, mata pelajaran Geografi menjadi salah satu pelajaran favoritnya. Dari sanalah tumbuh keyakinan untuk menekuni bidang ini secara serius. Pilihan itu membawanya melanjutkan studi Pendidikan Geografi di Universitas Lampung.
Bagi Ibu Nela, Geografi adalah ilmu yang istimewa karena menjadi jembatan antara ilmu alam dan ilmu sosial. Geografi tidak hanya berbicara tentang peta dan wilayah, tetapi juga tentang manusia, lingkungan, dan interaksi di antara keduanya. Inilah yang membuat mengajar Geografi terasa menyenangkan. Siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga diajak melihat alam dan lingkungan sosial sebagai sumber belajar yang nyata dan dekat dengan kehidupan mereka.
Di antara berbagai materi Geografi, topik tentang alam menjadi favoritnya. Gunung api, bencana alam, dan batuan selalu menarik untuk dibahas, terlebih karena siswa sering kali memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap peristiwa-peristiwa alam di sekitar mereka, seperti gunung meletus atau banjir. Melalui materi ini, siswa diajak memahami proses alam secara ilmiah, sekaligus belajar bersikap bijak terhadap lingkungan.

Manfaat Geografi, menurut Ibu Nela, sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa. Melalui pelajaran ini, siswa menjadi lebih paham terhadap lingkungan tempat mereka tinggal, memahami langkah-langkah mitigasi bencana, serta dilatih untuk berpikir secara spasial. Lebih dari itu, Geografi menumbuhkan kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Pengalaman mengajar yang paling berkesan baginya adalah ketika melihat siswa menikmati metode pembelajaran yang ia terapkan. Sambutan hangat dari para siswa, yang usianya tidak terpaut jauh dengannya, menjadi pengalaman yang menguatkan. Ia merasa diterima bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping belajar yang dekat dengan dunia siswa.
Di luar kegiatan mengajar, Ibu Nela menikmati waktu luangnya dengan kegiatan sederhana seperti mencari resep masakan, bermain gim, dan merawat diri. Aktivitas-aktivitas ini menjadi cara baginya menjaga keseimbangan antara kesibukan mengajar dan kehidupan pribadi.
Harapannya sederhana namun bermakna: siswa dapat menyukai Geografi, memahami manfaatnya, dan meraih hasil belajar yang memuaskan. Lebih dari sekadar nilai, ia ingin Geografi menjadi pelajaran yang membuka mata siswa tentang alam, lingkungan, dan kehidupan sosial di sekitarnya.
Melalui tangan guru muda seperti Ibu Nela, Geografi tidak lagi sekadar mata pelajaran, melainkan cara belajar memahami kehidupan, dari alam, oleh manusia, dan untuk masa depan bersama. *** (Ignas)