Page 41 - Gita Edisi Juli 2025-Mei 2026
P. 41

BERITA



        KEBERSAMAAN DALAM BALUTAN BATIK


      Pemandangan seluruh siswa mengenakan batik meninggalkan kesan

      mendalam bagi Ghislaine Hershellica (XIA.2.2).
      “Kelihatan  rapi  dan  kompak.  Ada  semangat  kebersamaan  yang
      terasa kuat,” ujarnya.
      Hal senada diungkapkan Tasia Aghatia Winarto (XIA.2.2).

      “Saya terharu melihat batik bisa menyatu dengan jiwa anak muda.
      Bahkan,  kini  batik  bisa  dipadukan  dengan  gaya  fashion  masa  kini
      tanpa kehilangan identitasnya.”








                                               BANGGA MENJADI GENERASI PENERUS

       Menurut  Fiorenza  Aurelia  Quinn  (XIIA.1.2.1),  Hari  Batik  Nasional  bukan  sekadar
       seremonial,  tetapi  wujud  nyata  kecintaan  rakyat  terhadap  budaya  tanpa  harus
       dipaksa oleh aturan.

       “Batik  itu  identitas  bangsa.  Walau  kita  berasal  dari  kota  dan  pulau  yang  berbeda,
       batik menyatukan kita sebagai saudara lewat warisan nenek moyang,” ungkapnya.
       Jika  diberi  kesempatan  merancang  batik  sendiri,  Fiorenza  ingin  menampilkan  tema
       perjuangan, dengan simbol bambu runcing, Garuda, serta warna merah-putih-emas.

       “Supaya  keindahan  batik  juga  jadi  pengingat  pengorbanan  para  pahlawan,”
       tambahnya.






         BATIK: IDENTITAS YANG MENYATU DENGAN GENERASI MUDA



       Perayaan  Hari  Batik  Nasional  di  SMA  Xaverius  1  Palembang  menjadi

       bukti  bahwa  batik  bukan  sekadar  pakaian,  melainkan  simbol
       kebanggaan dan identitas bangsa yang hidup di setiap generasi.
       Dari  motif  bunga  hingga  tema  perjuangan,  dari  rasa  bangga  hingga

       kebersamaan, batik tetap hadir sebagai warisan budaya yang relevan,
       anggun, dan tak lekang oleh waktu.***













                                                                                                              41
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46