Merayakan Imlek di SMA Xaverius 1 Palembang
JUMAT pagi, 20 Februari 2026, suasana di SMA Xaverius 1 Palembang berbeda dari biasanya. Warna merah mendominasi halaman sekolah. Bukan sekadar warna pakaian, melainkan simbol harapan, keberuntungan, dan semangat baru yang menyatu dalam tawa para siswa.
Di setiap kelas, jeruk dibagikan. Buah sederhana itu bukan hanya camilan, tetapi lambang doa akan rezeki dan kebahagiaan. Para siswa menerima jeruk dengan senyum, seakan menyambut pesan tak tertulis: tahun baru adalah kesempatan untuk memulai dengan hati yang lebih baik.
Tak lama kemudian, dentuman tambur dan gerakan lincah barongsai memecah suasana. Sorak-sorai terdengar ketika kepala naga berwarna cerah bergerak dinamis di tengah lapangan. Dalam tradisi Tionghoa, barongsai dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir energi negatif. Di sekolah ini, ia juga menjadi simbol persatuan, budaya yang dirayakan bersama, tanpa sekat.
Namun perayaan tak berhenti pada tontonan. OSISKA menghadirkan berbagai lomba antar kelas yang memadukan kreativitas, kerja sama, dan kegembiraan.
Fashion show menjadi panggung ekspresi. Setiap kelas mengirimkan satu perwakilan dengan busana bernuansa Imlek yang sopan dan elegan. Di sana, siswa belajar bahwa budaya bukan hanya dipakai, tetapi dimaknai.

Chopstick challenge menguji ketelitian dan kesabaran. Dengan sumpit di tangan, para peserta memindahkan kelereng satu per satu. Sorak dukungan teman-teman menjadi energi tersendiri. Permainan sederhana ini mengajarkan fokus dan kerja tim.
Lomba kain barongsai menghadirkan tawa yang riuh. Dengan sarung sebagai alat pantul dan balon merah sebagai bola, para siswa bergerak kompak seperti satu tubuh. Di balik keseruannya, tersimpan pelajaran tentang koordinasi dan kebersamaan.
Sementara itu, hunting angpao menjadi permainan penuh strategi. Dengan mata tertutup, seorang “hunter” dipandu oleh rekannya mencari angpao tersembunyi. Kepercayaan dan komunikasi menjadi kunci kemenangan. Dalam dua menit, setiap pasangan belajar arti saling mengandalkan.
Semua rangkaian kegiatan itu berjalan dalam aturan yang jelas: berpakaian sopan bernuansa merah, hadir tepat waktu, dan menjunjung sportivitas. Disiplin bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari karakter yang dibangun bersama.

Sebagai perayaan lintas budaya, Imlek di SMA Xaverius 1 Palembang bukan hanya agenda tahunan. Ia menjadi ruang belajar yang hidup, tempat siswa memahami bahwa keberagaman adalah kekayaan. Bahwa merah bukan sekadar warna, tetapi semangat untuk menghargai tradisi, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan karakter.
Di tengah tawa, sorak, dan dentuman tambur, tersimpan satu pesan sederhana: Sekolah bukan hanya tempat belajar pelajaran, tetapi tempat merayakan kehidupan bersama.
Dan hari itu, merah benar-benar menghangatkan seluruh halaman sekolah.*** (Ignas)