Info Sekolah
Kamis, 07 Mei 2026
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
  • SMA Xaverius 1 Telah membuka pendaftaran baru Tahun ajaran 2026/2027 lengkapnya website : https://ppdb.smaxaverius1.sch.id/
7 Mei 2026

Ketika Budaya Bertemu Mimpi

Kam, 7 Mei 2026 Dibaca 29x

Perjalanan Gebriella Giorgina Menuju Miss Tionghoa Sumatera Selatan 2026

Ada banyak cara anak muda menemukan dirinya. Sebagian menemukannya di ruang kelas, sebagian di lapangan olahraga, sebagian lagi di panggung seni dan budaya. Bagi Gebriella Giorgina, siswi kelas XI A.1.2.2, perjalanan itu membawanya ke sebuah panggung yang bukan hanya tentang mahkota dan selempang, tetapi tentang keberanian mengenal diri, mencintai budaya, dan belajar bertumbuh.

Namanya diumumkan sebagai Juara 1 Miss Tionghoa Sumatera Selatan 2026 pada grand final, 3 Mei 2026. Sebuah momen yang mungkin terlihat gemerlap dari luar, tetapi sesungguhnya dibangun dari proses panjang, rasa gugup, latihan, dan keyakinan untuk terus melangkah.

Perjalanan itu dimulai dari audisi pada 11 April 2026. Setelah dinyatakan lolos, Gaby, begitu ia akrab disapa, mengikuti berbagai kegiatan karantina selama tiga hari. Hari-hari itu bukan sekadar latihan tampil di depan publik. Ada banyak pelajaran tentang kerja sama, kedisiplinan, budaya, hingga cara membawa diri sebagai representasi generasi muda.

Namun bagi Gaby, alasan mengikuti ajang ini ternyata jauh lebih dalam daripada sekadar kompetisi.

Ia ingin berkembang.

Ia ingin mengenalkan budaya Tionghoa kepada generasi muda agar semakin dicintai dan dilestarikan.

Dan seperti banyak anak lainnya, ia juga ingin membuat orang tuanya bangga.

Di balik pencapaiannya hari ini, Gaby menyadari bahwa tidak ada perjalanan besar yang ditempuh sendirian. Dukungan keluarga dan teman-temannya menjadi kekuatan yang terus mendorongnya untuk percaya pada diri sendiri, bahkan di saat ia merasa gugup atau lelah.

“Gaby bisa sampai di titik ini karena adanya support dari keluarga dan teman-teman,” kata Gaby.

Selama masa karantina, ada satu pengalaman yang paling membekas di hatinya: kunjungan budaya ke Kampung Kapitan dan perjalanan menyusuri Sungai Musi dengan ketek di sekitar Jembatan Ampera.

Gebriella Giorgina, siswi kelas XI A.1.2.2

Di tengah riuh kota Palembang dan aliran sungai yang tenang, Gaby merasa sedang belajar sesuatu yang lebih besar daripada perlombaan itu sendiri. Ia melihat bagaimana budaya Tionghoa dan budaya Palembang hidup berdampingan, saling melengkapi, dan menjadi bagian dari identitas Sumatera Selatan yang kaya.

Momen-momen seperti itulah yang membuat karantina terasa lebih bermakna.

Bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang perjumpaan.

Tentang belajar menghargai akar budaya.

Tentang persahabatan yang tumbuh bahkan di tengah persaingan.

“Walaupun kami bersaing, kami tetap saling membantu dan memberi semangat satu sama lain,” katanya.

Lalu tibalah malam grand final itu.

Lampu panggung menyala terang. Degup jantung semakin cepat. Nama demi nama disebutkan. Hingga akhirnya, nama “Gebriella Giorgina” diumumkan sebagai pemenang.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.

Semua rasa lelah, gugup, latihan, dan proses panjang yang ia jalani terasa terbayarkan dalam satu momen singkat yang tak akan mudah dilupakan.

Tetapi kemenangan itu ternyata bukan garis akhir.

Justru sebaliknya, itu menjadi awal dari perjalanan baru.

Sebagai pemenang tingkat Sumatera Selatan, Gaby akan melanjutkan langkahnya ke tingkat nasional. Tantangannya tentu akan lebih besar. Persaingan semakin ketat. Namun di balik itu, ia mulai mempersiapkan diri dengan lebih matang.

Baginya, persiapan terpenting bukan hanya soal penampilan.

Mental, rasa percaya diri, kemampuan public speaking, attitude, dan disiplin menjadi hal yang utama. Ia sadar bahwa membawa nama daerah berarti juga membawa identitas budaya yang harus dipahami dan dijelaskan dengan baik.

“Penampilan memang penting, tapi karakter dan pembawaan diri juga menjadi nilai utama,” ungkapnya.

Di usia remaja, pemikiran seperti itu terasa begitu dewasa.

Sebab pada akhirnya, ajang seperti ini bukan hanya tentang siapa yang paling cantik di atas panggung. Lebih dari itu, ini tentang siapa yang mampu membawa nilai, budaya, dan inspirasi bagi orang lain.

Perjalanan Gaby menjadi pengingat bahwa generasi muda sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjaga budaya tetap hidup. Bukan dengan cara yang kuno atau memaksa, tetapi dengan keberanian untuk mengenal, mencintai, dan memperkenalkannya kembali kepada dunia.

Dan mungkin, di situlah makna kemenangan yang sesungguhnya.

Bukan hanya tentang mahkota yang dikenakan di kepala, tetapi tentang nilai yang tumbuh di dalam diri.*** (Ignas)

Agenda

15
Jul 2025
waktu : 07:00
Agenda telah lewat
20
Jan 2025
waktu :
Agenda telah lewat
16
Nov 2024
waktu : 18:00
Agenda telah lewat