JUMAT pagi, 20 Februari 2026, atrium St. Yohanes Paulus II dan halaman tengah SMA Xaverius 1 Palembang berubah wajah. Warna merah mendominasi. Bukan merah yang garang, melainkan merah yang hangat, merah yang menyala bersama tawa, persahabatan, dan harapan baru.
Perayaan Imlek yang digagas OSISKA bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjelma ruang perjumpaan. Dentuman musik barongsai menggema, menarik perhatian siswa yang berkerumun penuh antusias. Gerak lincah sang naga seolah mengusir lelah dan menggantinya dengan semangat yang menular.
Namun sorotan hari itu tidak berhenti pada atraksi. Di panggung sederhana, lomba fashion show menjadi momen reflektif yang tak terduga. Setiap kelas mengirim satu perwakilan. Mereka tampil dalam busana bernuansa Imlek: sopan, elegan, dan kreatif. Aksesori berkilau, gaya rambut ditata sepenuh hati. Tetapi yang paling memikat bukanlah kilau kain atau detail hiasan. Melainkan jawaban-jawaban jujur dari hati yang sedang bertumbuh.
Samuel Adrian Wong berdiri dengan tenang. Baginya, merah adalah simbol keberuntungan dan pengusir keburukan. Ia berharap kesehatan, berkat, dan kemenangan untuk lomba yang diikutinya. Namun lebih dalam dari itu, Samuel berbicara tentang kebersamaan dan kerukunan. Tentang makna makan bersama yang menyatukan persahabatan. Ia ingin menjadi pribadi yang mampu merangkul semua teman tanpa membeda-bedakan. Di tengah kompetisi, ia justru menanam benih persaudaraan.
Hana Rizpa Sembiring melangkah dengan percaya diri. Ia memaknai merah sebagai kebahagiaan, keberuntungan, sekaligus perlindungan dari energi negatif. “Looking good is one thing, but feeling empowered is everything,” ucapnya mantap. Ia ingin membagikan energi kepercayaan diri, keberanian untuk menjadi versi terbaik diri sendiri. Namun ia juga menegaskan bahwa kesuksesan paling berkesan adalah ketika dicapai bersama-sama. Tidak melaju sendirian, tetapi saling menguatkan.
Sementara itu, Marcello Wijaya mengingatkan bahwa makna utama Imlek adalah silaturahmi. Ia menyamakannya dengan momen Lebaran, saat keluarga berkumpul, orang tua dihormati, dan hati diperbarui. Ia menekankan pentingnya introspeksi dan memperbaiki diri di awal tahun yang baru. Sebuah refleksi yang sederhana, tetapi dalam.

Di tengah gemerlap kostum dan sorak penonton, sesungguhnya yang sedang dirayakan adalah nilai. Menghargai tradisi. Menghidupi kebersamaan. Menumbuhkan semangat baru. Peraturan tentang pakaian sopan, kedisiplinan waktu, dan tanggung jawab kelas justru menjadi bingkai yang mendewasakan. Kreativitas tidak liar; ia bertumbuh dalam tata tertib.
Sebagai seorang pendidik, saya melihat hari itu bukan hanya sebagai perayaan budaya, tetapi sebagai proses pembentukan karakter. Di atas panggung kecil itu, siswa belajar berbicara tentang makna. Mereka belajar bahwa warna merah bukan hanya soal estetika, melainkan simbol keberanian untuk berharap. Mereka belajar bahwa tampil percaya diri bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk menginspirasi.
Barongsai mungkin telah selesai menari. Panggung telah dibongkar. Namun merah yang mereka kenakan seolah tertinggal dalam sikap dan cara pandang. Merah yang menyala sebagai optimisme. Merah yang menghangatkan relasi. Merah yang menyatukan perbedaan.
Di sekolah ini, Imlek bukan hanya dirayakan. Ia dihidupi. Dan di situlah pendidikan menemukan wajahnya yang paling humanis: membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu merawat kebersamaan dan berjalan bersama menuju masa depan yang lebih baik. *** (Ignas)