Pagi itu, Rabu, 3 Desember 2025, cahaya lembut menyusup ke jendela-jendela Kapel Seminari St. Paulus Palembang.
Di tengah padatnya Sumatif Akhir Semester, ratusan umat: pegawai Yayasan Xaverius Palembang, guru, karyawan, seminaris, serta siswa SMA Xaverius 1 berkumpul dalam suasana syukur merayakan pesta Pelindung Yayasan Xaverius.

Misa dipimpin oleh Romo Surawan, Pr., mengangkat tema reflektif: “Menghayati Warisan Xaverius: Excellite, Fortite, Servite dalam Ziarah Menuju 100 Tahun Yayasan Xaverius Palembang.”
Liturgi pagi itu terasa seperti sebuah jeda rohani. Koor para seminaris mengalirkan harmoni yang membersihkan batin; para lektor dan pemazmur bertugas dengan penuh penghayatan; misdinar muda dari SMA Xaverius 1 melayani dengan semangat khas remaja Xaverian.
Emanuel, Belajar Melayani dari Santo yang Berkobar
Di antara para petugas liturgi, Emanuel Arkanjelino Jati Kumara, siswa kelas XIA.2.1, berdiri dengan rasa bangga. “Senang sekali bisa ikut misa di kapel seminari, apalagi hari ini saya bertugas sebagai Putra Altar,” katanya.
Bagian misa yang paling menyentuh baginya adalah homili Romo Surawan. Ia terkesan pada kisah perjalanan Santo Fransiskus Xaverius yang mewartakan Injil hingga ke berbagai belahan Asia.
“Kisah itu mengingatkan saya bahwa Santo Xaverius melayani Tuhan dengan semangat yang tidak pernah padam,” ujarnya.
Dari teladan itu Emanuel belajar tiga hal: iman yang teguh, semangat misioner yang tulus, dan ketekunan dalam menghadapi kesulitan, nilai yang ingin ia bawa dalam hidup dan pelayanannya sehari-hari.

Christophorus Brian, Homili yang Mengubah Arah Hidup
Tidak semua siswa datang pagi itu dengan hati siap. Christophorus Brian mengakui hal itu dengan jujur.
“Saya sebenarnya masih ingin tidur,” katanya. “Tapi setelah mendengarkan homili, saya merasa terharu.”
Baginya, momen paling kuat adalah ayat yang menjadi titik balik bagi Santo Fransiskus Xaverius: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).
Brian merenungkannya dengan bahasa sederhana, namun sangat relevan. “Kalau saya pikir, apa gunanya punya semuanya kalau kita tidak bahagia?”
Baginya, itu sebuah ajakan untuk menata prioritas, dan berani melangkah mengikuti kehendak Tuhan, meski dalam langkah-langkah kecil seorang pelajar.
Pascalis, Ketika Kapel Menjadi Ruang Perjumpaan
Bagi Pascalis, misa itu menjadi sebuah ruang hening yang menyejukkan hati. “Kapelnya teduh, harinya cerah. Saya merasa lebih dekat dengan Tuhan,” tuturnya.
Ia tersentuh oleh lagu pembuka yang mengangkat semangat kerasulan Santo Fransiskus Xaverius. Lagu itu, katanya, seperti “mengajak seluruh umat kembali menatap misi Santo Xaverius.”
Pascalis kemudian menemukan makna lain dalam sosok Xaverius: bukan hanya sebagai misionaris besar, tetapi juga seorang terpelajar yang hidup demi kemajuan umat manusia.
Ia mengakhiri refleksinya dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.”
Baginya, itu adalah panggilan untuk membangun keadilan mulai dari hati.

Gerardo, Ketika Musik Menggerakkan Panggilan
Sementara itu, Gerardo Noel Caelo merasakan misa sebagai pengalaman yang “hidup”.
“Harmoni koor seminaris meriah dan penuh semangat,” katanya. Baginya, pesta St. Xaverius adalah pengingat betapa tekunnya santo pelindung mereka dalam mewartakan Injil.
Ia pulang dengan tekad sederhana namun kuat: bekerja lebih sungguh dalam studi, dan membiarkan Allah menuntun setiap langkahnya. Tekad sederhana inilah yang baginya menjadi bentuk nyata dari semangat misioner.
Stefany, Menemukan Kebanggaan pada Identitas Katolik
Bagi Stefani Indah Zalukhu, misa di kapel seminari memperdalam rasa bangga pada sekolah dan identitas iman yang ia hidupi.
“Fani senang sekali, Pak,” katanya polos. “Sekolah kita ternyata sudah tua, dan identitas Katoliknya terasa banget.”
Ia bersyukur bisa belajar di sekolah multikultural yang tetap setia menjaga nilai-nilai Katolik. Misa itu meneguhkan hatinya: masa depan harus diserahkan kepada Tuhan, namun tetap diusahakan dengan tekun.
“Walaupun kadang malas atau capek, kita harus terus berusaha jadi orang yang berguna,” ujarnya.
Warisan yang Tetap Menyala
Perayaan syukur pagi itu bukan hanya ritual tahunan, melainkan ziarah batin yang dihidupi bersama. Di kapel yang menjadi saksi lahirnya banyak panggilan, generasi muda Xaverius menemukan kembali siapa mereka, dan siapa teladan yang mereka ikuti.
Santo Fransiskus Xaverius tidak hanya dikenang, melainkan dihidupi. Api keunggulan (Excellite), keteguhan (Fortite), dan pelayanan (Servite) terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Lewat suara-suara jujur para remaja itu, tampak jelas bahwa warisan Xaverius tetap menyala, dihayati, disyukuri, dan diteruskan. *** (Ignas))