Matahari cukup terik pada Selasa, 18 Agustus 2026. Sehari setelah upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, suasana SMA Xaverius 1 Palembang belum benar-benar kembali seperti hari biasa. Lapangan sepak bola, lapangan futsal indoor, hingga lahan parkir motor siswa berubah menjadi arena penuh sorak, tawa, ketegangan, dan semangat kebersamaan.
OSISKA (Organisasi Siswa Intra Sekolah Katolik) SMA Xaverius 1 Palembang menggelar aneka lomba antarkelas untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Ada Sarung Striker, Bangau Rasa Nusantara, Cerdas Cermat Lompat, Estafet Mix-Up, dan Kail Kerupuk.
Namun, di antara berbagai perlombaan itu, Estafet Mix-Up menghadirkan cerita yang lebih dari sekadar mengejar kemenangan.

Bagi siswa kelas XI A.1.1.2, perlombaan tersebut menjadi kesempatan untuk mengalami sesuatu yang tidak selalu ditemukan di dalam ruang kelas: bagaimana bekerja bersama ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana.
Ketika Sarung Menjadi “Pesawat”
Salah satu tantangan dalam Estafet Mix-Up adalah permainan yang oleh para siswa disebut “pesawat sarung”. Lima orang harus bekerja sebagai satu tim. Seorang siswa berada di atas sarung, sementara empat lainnya mengangkat dan mengarahkannya untuk mengambil bola, kemudian memasukkannya ke ember yang telah disediakan.
Kedengarannya sederhana.
Tetapi ketika dilakukan di lapangan, ceritanya berbeda.
Serafina Angelita mengaku merasa senang, antusias, sekaligus tegang. Ia bersama Ester, Jessica, Brenda, dan Kaylee harus mengangkat salah seorang anggota tim untuk mengambil bola secara berulang.
“Capek karena harus mengangkat salah satu teman untuk mengambil bola bolak-balik,” demikian kesannya.
Namun, rasa lelah itu justru menjadi bagian paling berkesan. Dukungan teman-teman membuat mereka terus berusaha.
Pengalaman serupa dirasakan Jessica Ferly. Ketika perlombaan dimulai, sedikit kepanikan muncul karena mereka belum memiliki strategi yang benar-benar matang. Pada awalnya, mengangkat teman terasa cukup mudah. Namun, setelah beberapa kali bergerak, tenaga mulai terkuras.

Di tengah kelelahan itu, mereka memilih tidak saling menyalahkan.
Mereka justru saling menguatkan.
“Lomba ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi juga tentang pengalaman dan keseruan yang dirasakan bersama teman-teman,” ungkap Jessica.
Sempat Tertinggal
Venice Brenda Wang atau Brenda juga merasakan ketegangan yang sama. Ketika perlombaan berlangsung, timnya sempat tertinggal. Tim lawan bahkan sudah memasuki pos kedua, sementara mereka masih berada di pos pertama.
Situasi seperti itu mudah membuat semangat runtuh.
Tetapi perlahan mereka mampu mengejar ketertinggalan.
Sampailah pada pos terakhir. Kali ini giliran Brenda bersama teman-temannya menjalankan tugas “pesawat sarung”. Mereka mengangkat Ester untuk mengambil bola. Awalnya mereka merasa memiliki peluang besar. Namun, panas matahari dan lamanya waktu mengangkat teman membuat tenaga kembali terkuras.
Mereka pun sadar: keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seseorang, tetapi oleh bagaimana setiap anggota saling menopang.
“Kekompakan, keseruan, dan kebersamaan” menjadi hal yang menurut Brenda lebih penting daripada sekadar menang atau kalah.
Belajar dari Kekalahan
Menariknya, sebagian besar siswa tidak menempatkan kemenangan sebagai tujuan utama.
Euginia Ester mengatakan lomba tersebut menjadi pengalaman berharga di luar pelajaran. Ia merasakan hubungan dengan teman-teman kelas menjadi lebih dekat. Menurutnya, Estafet Mix-Up membutuhkan komunikasi dan koordinasi agar setiap bagian permainan dapat berjalan lancar.
Felix Teofanu pun merasakan hal yang sama. Baginya, perlombaan itu menyenangkan sekaligus mampu mendekatkan teman-teman yang sebelumnya belum terlalu akrab.
“Yang awalnya kurang akrab menjadi lebih akrab,” katanya.
William Delvin Lay bahkan melihat sesuatu yang lebih sederhana tetapi penting: selama persiapan lomba, teman-teman belajar bertanggung jawab. Mereka berkumpul ketika diperlukan, tidak berjalan sendiri-sendiri, dan berusaha hadir untuk kepentingan tim.
Tim mereka memang tidak berhasil menjadi pemenang. Hanya satu kemenangan yang berhasil diraih.
Tetapi William tidak melihatnya sebagai kegagalan.
Baginya, ada banyak nilai yang justru dapat dibawa pulang: kerja sama, tanggung jawab, komunikasi, dan kekompakan.
Kemerdekaan dalam Kebersamaan
Devlin Alvaro Pratama merangkum pengalaman itu dengan sederhana. Dalam sebuah tim, katanya, diperlukan komunikasi dan kerja sama yang baik untuk mencapai tujuan bersama. Ketika hasil belum sesuai harapan, seseorang juga perlu belajar lapang dada.
Di sinilah lomba antarkelas menjadi lebih dari sekadar hiburan dalam rangka HUT Kemerdekaan.
Anak-anak belajar bahwa dalam kehidupan, tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan. Ada kalanya kita tertinggal. Ada kalanya strategi kurang matang. Ada saatnya tubuh lelah dan semangat mulai turun.

Namun, ketika masih ada teman yang bersedia menguatkan, perjalanan terasa lebih ringan.
Estafet Mix-Up mengajarkan para siswa bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ada komunikasi yang semakin baik, persahabatan yang semakin dekat, keberanian untuk mencoba, kemampuan menerima kekalahan, dan kesediaan menghargai perjuangan tim sendiri maupun tim lawan. *** (Ignas)