Latihan Paskibra SMA Xaverius 1 Palembang bersama TNI AD
Sore itu, Selasa, 4 Agustus 2026. Matahari masih terik menyinari Lapangan Bola SMA Xaverius 1 Palembang ketika 60 siswa berdiri tegap dalam barisan. Suasana terasa hening. Tak ada suara gaduh, tak ada gerakan yang sembarangan. Semua mata tertuju lurus ke depan, menanti setiap aba-aba.
Mereka adalah pasukan yang akan mengemban tugas dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebanyak 60 siswa terpilih terdiri dari 24 siswa kelas X, 22 siswa kelas XI, dan 14 siswa kelas XII.
Selama ini, mereka ditempa oleh dua guru pelatih, Ibu Peggi dan Ibu Romaito. Namun sore itu, latihan menjadi semakin serius. Dua personel TNI AD, Kapten Budi dan Mayor Naibaho, hadir memberikan pelatihan sekaligus menguji kesiapan mereka.

Bagi para peserta, kehadiran dua personel TNI tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda. Latihan terasa lebih tegas, disiplin, intens, sekaligus melelahkan.
“Tegang, cemas, dan lucu,” demikian kesan Advento Nanda Putranto, siswa kelas XIA.2.1, menggambarkan pengalamannya.
Jason Gilbert Calisto, dari kelas yang sama, memilih tiga kata: disiplin, seru, dan melelahkan. Rasa lelah justru menjadi bagian dari proses belajar untuk semakin kuat.
Sementara itu, Ichiro Aurelius, siswa kelas XIA.1.2.1, merasakan perubahan suasana yang cukup kuat. Setelah sebelumnya berlatih secara mandiri dengan keras, kehadiran dua personel TNI membuat latihan semakin terarah. Ketegasan tampak dalam setiap instruksi. Di bawah teriknya matahari, para peserta tetap berdiri dan mengikuti setiap gerakan.
Namun, latihan itu bukan hanya tentang perintah dan gerakan. Ada motivasi, koreksi, dan nasihat yang diberikan. Bagi Ichiro, kehadiran para pelatih sangat membantu, terutama karena mereka memberikan dorongan agar para peserta tetap bersemangat.

Hal senada dirasakan Gerardo Noel Caelo, siswa kelas XIIA.1.1.1. Menurutnya, latihan bersama TNI membuat suasana menjadi lebih serius. Disiplin semakin terasa melalui cara para pelatih memberikan instruksi, mengoreksi gerakan, sekaligus memberikan nasihat. Latihan pun menjadi lebih intens karena para peserta dituntut melakukan lebih banyak gerakan dengan tepat.
Di balik ketegasan itu, sesungguhnya sedang dibangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kekompakan barisan.
Karakter
Paskibra mengajarkan bahwa sebuah tugas besar tidak dapat diselesaikan dengan kemampuan individual semata. Enam puluh siswa harus belajar mendengarkan instruksi, menjaga tempo, memperhatikan langkah teman, mengendalikan diri, dan tetap bertahan ketika tubuh mulai lelah.
Satu langkah yang terlambat dapat memengaruhi barisan. Satu gerakan yang tidak kompak dapat mengganggu keseluruhan formasi. Karena itu, Paskibra mengajarkan sebuah pelajaran sederhana: keberhasilan bersama lahir dari kesediaan setiap orang untuk melakukan bagiannya dengan sungguh-sungguh.
Latihan sore itu juga menjadi tontonan kecil yang penuh makna. Beberapa siswa yang belum langsung pulang menyaksikan dari pinggir lapangan. Sejumlah guru, Mam Wahyu, Ibu Windri, Ibu Lisa, Pak Herman, Ibu Peggi, dan Ibu Romaito, turut hadir memberikan perhatian dan dukungan.
Dari kejauhan, mungkin yang terlihat hanyalah siswa yang berbaris di bawah matahari.

Namun jika dilihat lebih dekat, ada proses panjang yang sedang berlangsung: anak-anak muda sedang belajar menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, bertanggung jawab, dan siap dipercaya.
Sebentar lagi Merah Putih akan dikibarkan.
Dan ketika saat itu tiba, 60 siswa ini tidak hanya membawa nama sekolah. Mereka membawa hasil dari latihan, keringat, rasa lelah, kekompakan, dan keberanian yang telah mereka bangun bersama.
Sebab menjadi Paskibra bukan sekadar tentang bagaimana berdiri tegak di hadapan Sang Saka.
Lebih dari itu, Paskibra adalah latihan untuk berdiri teguh dalam kehidupan.*** (Ignas)