Oleh: Jeconia Callia, Kelas XI A1.2.2
TERIK matahari, hujan yang tiba-tiba turun, latihan yang melelahkan, dan kedisiplinan yang tinggi mungkin membuat sebagian orang berpikir dua kali untuk mengikuti kegiatan luar ruangan. Namun, bagi Jessica Natalia, semua itu bukan alasan untuk mundur.
Jessica, begitu ia biasa disapa, adalah siswi kelas XI A1.2.2 SMA Xaverius 1 Palembang. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di SMP Xaverius 7 Palembang. Sejak SMP, Jessica memang sudah menyukai kegiatan di luar ruangan. Menurutnya, kegiatan seperti itu dapat membuat remaja lebih aktif, bersemangat, dan tentunya memiliki pengalaman baru.
Ketertarikannya pada kegiatan luar ruangan kemudian membawanya kepada Bantara ketika memasuki bangku SMA. Saat harus memilih ekstrakurikuler, Jessica tidak perlu berpikir terlalu lama. Pengalaman kakak perempuannya yang pernah mengikuti Bantara menjadi salah satu alasan yang membuatnya tertarik.
Selain ingin mencoba pengalaman baru, Jessica juga melihat Bantara sebagai kesempatan untuk mengenal lebih banyak teman dan memperluas relasi dengan siswa lain di SMA Xaverius 1 Palembang.
Namun, memilih Bantara tentu bukan berarti semuanya akan berjalan mudah.
Latihan yang cukup keras, cuaca yang tidak selalu bersahabat, serta tuntutan kedisiplinan menjadi bagian dari perjalanan Jessica. Panas dan hujan harus ia hadapi. Lelah pun menjadi hal yang tidak asing baginya.
Tetapi Jessica tetap bertahan.
Justru dari berbagai pengalaman itulah, ia merasa dirinya semakin belajar menjadi pribadi yang disiplin dan kuat.
Memasuki tahun kedua di Bantara, sebuah kepercayaan baru datang kepadanya. Jika pada tahun pertama Jessica masih menjadi anggota biasa, kini ia mendapat tanggung jawab sebagai juru uang untuk regu putri.
Kepercayaan itu ternyata tidak datang begitu saja.
Pada awalnya, Jessica dan salah seorang temannya dipertimbangkan untuk mengemban tugas tersebut. Para pembina dan anggota Bantara kemudian berdiskusi untuk menentukan siapa yang paling tepat menjalankan tanggung jawab itu. Hingga akhirnya, Jessica dipercaya menjadi juru uang.
Mendengar keputusan tersebut, Jessica mengaku merasa senang sekaligus terkejut.
“Tentu saya senang sekaligus kaget karena dipercaya untuk menjadi juru uang,” ungkapnya.
Kepercayaan itu kemudian semakin nyata pada 28 Agustus 2026, saat dilaksanakan Upacara Pelantikan Dewan Pengurus Ambalan. Ketika namanya disebut, rasa gugup tentu muncul. Namun, Jessica tetap berani menerima tanggung jawab tersebut.
Menjadi juru uang bukan sekadar memegang dan mencatat uang. Jessica menyadari bahwa tugas tersebut membutuhkan ketelitian, kejujuran, dan tanggung jawab. Ia harus mencatat keuangan peserta Bantara putri secara detail agar semuanya dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi Jessica, jabatan ini bukan hanya sebuah posisi dalam organisasi. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih teliti, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.
Sebagai teman sekelasnya, saya melihat perjalanan Jessica sebagai sesuatu yang menarik. Ia menunjukkan bahwa sebuah kepercayaan biasanya lahir dari proses. Dari seorang anggota biasa, ia berani bertahan dalam latihan, menghadapi panas dan hujan, belajar dari kesalahan, hingga akhirnya mendapat tanggung jawab yang lebih besar.
Ke depan, Jessica ingin tetap bertahan dan menyelesaikan perjalanannya bersama Bantara. Ia juga ingin menjalankan amanah yang telah diberikan kepadanya dengan tulus dan bertanggung jawab.
Baginya, pengalaman selama mengikuti Bantara bukan hanya akan menjadi cerita selama SMA. Pengalaman berorganisasi tersebut diharapkan dapat menjadi bekal ketika suatu hari ia meninggalkan bangku sekolah dan memasuki kehidupan yang lebih luas.

Perjalanan Jessica mengajarkan satu hal sederhana: semangat tidak selalu berarti tidak merasa lelah atau takut. Semangat berarti tetap memilih untuk melangkah meskipun lelah dan takut itu ada.
Di bawah teriknya matahari dan di tengah derasnya hujan, Jessica memilih untuk tidak menyerah. Dari langkah-langkah kecil itulah, sebuah kepercayaan akhirnya tumbuh.
Jessica mungkin masih seorang siswi SMA, tetapi melalui Bantara ia sedang belajar menjadi seseorang yang lebih dewasa—berani menerima tanggung jawab, setia pada pilihan, dan siap dipercaya.
Dan mungkin, inilah arti sebenarnya dari perjalanan Bantara bagi Jessica: bukan sekadar tentang bertahan di bawah panas dan hujan, tetapi tentang menemukan kekuatan diri di tengah proses.***