Menjelang SAS, banyak siswa mulai sibuk membuka buku, merangkum materi, atau mencari soal latihan. Namun, bagi Stefanny Pricilia Halim dan Dylan Kenzie William, siswa kelas XIA.1.2.1, belajar bukan hanya soal berapa lama waktu yang dihabiskan, tetapi bagaimana cara belajar itu dilakukan dengan tepat.
Stefanny punya satu kebiasaan sederhana yang ternyata sangat membantu: membuat jadwal belajar sendiri beberapa hari sebelum SAS dimulai. Ada waktu belajar, ada juga waktu istirahat. Baginya, belajar yang efektif bukan memaksa diri terus-menerus, tetapi menjaga ritme agar tetap fokus dan tidak mudah lelah.
Menariknya, Stefanny membedakan cara belajar berdasarkan jenis pelajaran. Untuk mata pelajaran hitungan seperti matematika dan fisika, ia terbiasa mencari kisi-kisi atau soal tahun sebelumnya. Ia mengerjakan soal sambil mengingat rumus, lalu perlahan mencoba mengerjakan tanpa melihat rumus sama sekali. Bahkan, ia memasang timer agar terbiasa dengan suasana ujian yang sebenarnya.

Dari situ, Stefanny belajar satu hal penting: kesalahan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Setiap jawaban yang salah justru dicari penyebabnya, dicatat, lalu dijadikan pengingat agar tidak terulang saat ujian nanti.
Sementara itu, untuk pelajaran teori seperti agama, biologi, atau penjas, Stefanny memilih memahami materi daripada sekadar menghafal. Ia mencoba menjelaskan kembali materi dengan kata-katanya sendiri, baik secara lisan maupun tulisan. Jika ada bagian yang belum dipahami, ia tak ragu bertanya kepada AI untuk membantu memperjelas materi.
Cara belajar Dylan juga tidak kalah menarik. Untuk pelajaran hitungan, ia memanfaatkan AI sebagai “partner latihan” yang membantu membuat soal sesuai materi. Soal-soal itu ia kerjakan berulang kali di secarik kertas hingga benar-benar paham.
Sedangkan untuk pelajaran hafalan, Dylan menggunakan metode active recall. Ia membaca materi selama beberapa menit, lalu menutup buku dan mencoba menuliskan kembali apa yang diingat. Setelah itu, ia membuat pertanyaan sendiri dan mencoba menjawabnya. Metode ini melatih otak untuk aktif mengingat, bukan hanya membaca berulang-ulang.

Dari pengalaman Stefanny dan Dylan, ada satu pesan sederhana yang bisa dipetik: belajar efektif tidak selalu berarti belajar lebih lama. Yang terpenting adalah memahami cara belajar yang paling cocok untuk diri sendiri, berani mengevaluasi kesalahan, dan tetap disiplin menjalankannya.
Sebab pada akhirnya, hasil terbaik bukan datang dari belajar yang terburu-buru semalam sebelum ujian, melainkan dari proses kecil yang dilakukan dengan konsisten setiap hari.*** (Ignas)