Merayakan Imlek di SMA Xaverius 1 Palembang
JUMAT pagi, 20 Februari 2026, suasana SMA Xaverius 1 Palembang tampak berbeda. Ada nuansa merah yang menyala di lorong-lorong kelas, tawa yang lebih riang dari biasanya, dan semangat kebersamaan yang terasa hangat. Di bawah koordinasi OSISKA SMA Xaverius 1 Palembang, perayaan Imlek tahun ini bukan sekadar seremoni budaya, melainkan ruang belajar yang hidup tentang makna toleransi dan persaudaraan.
Jeruk yang Dibagikan, Harapan yang Ditanamkan
Perayaan dimulai dengan pembagian jeruk kepada setiap siswa di kelas. Sederhana, namun sarat makna.
Bagi banyak masyarakat Tionghoa, jeruk melambangkan doa akan keberuntungan dan rezeki. Warna oranyenya menyerupai emas, simbol kemakmuran. Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan dan keharmonisan keluarga.

Febrina Olivia Barus mengungkapkan bahwa jeruk adalah simbol doa untuk keberuntungan dan kemakmuran yang tidak terpisahkan. “Bentuknya bulat, melambangkan keluarga yang harmonis sepanjang tahun,” ujarnya.
Di titik inilah pendidikan bekerja: siswa tidak hanya menerima jeruk sebagai buah, tetapi sebagai simbol. Mereka belajar membaca makna di balik tradisi. Mereka belajar bahwa budaya adalah bahasa nilai.
Barongsai: Riuh yang Membawa Sukacita
Sorak-sorai semakin menggema ketika barongsai tampil di halaman sekolah. Gerakannya lincah, iringan musiknya riuh, dan wajah-wajah siswa pun seketika cerah.
Dinda Amelia Sinaga menjelaskan bahwa barongsai dipercaya untuk mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan serta semangat baik di tahun yang baru. “Kalau lihat barongsai itu rasanya happy, Pak,” katanya polos namun jujur.
Febrina menambahkan, barongsai diyakini sebagai pelindung yang mengusir energi negatif melalui dentuman musiknya yang keras dan dinamis.
Secara pedagogis, momen ini mengajarkan bahwa simbol-simbol budaya tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari sejarah, keyakinan, dan harapan kolektif. Ketika siswa menyaksikan barongsai, mereka sedang belajar memahami cara suatu komunitas memaknai kehidupan.
Kreativitas dan Etika dalam Lomba
Perayaan semakin semarak dengan berbagai lomba antar kelas: fashion show, chopstick challenge, kain barongsai, hingga hunting angpao. Seluruh peserta didik boleh berpartisipasi, dan setiap kelas wajib mengirimkan satu perwakilan.
Pada lomba fashion show bertema Imlek, kelas XIA.2.1 diwakili oleh Vera Amelia dan Isan Hani. Busana yang dikenakan harus sopan, di bawah lutut, namun tetap memberi ruang kreativitas melalui aksesoris dan hairstyle.
Vera tampil penuh percaya diri. Baginya, warna merah memang identik dengan Imlek, melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan semangat baru. “Merah seperti api yang berkobar, melambangkan harapan dan energi positif,” tuturnya.
Namun ia juga menegaskan bahwa Imlek tidak hanya soal merah. Warna emas atau kuning pada busananya melambangkan kemakmuran dan kehokian.
Yang lebih penting dari busana, Vera melihat nilai yang lebih dalam: “Nilai yang dapat saya terapkan dalam kehidupan sekolah adalah toleransi dan kebersamaan. Walaupun kita memiliki perbedaan agama dan latar belakang, kita tetap bisa saling menghormati dan merayakan bersama.”
Ia bahkan mengaitkannya dengan ajaran Buddha tentang cinta kasih dan saling menghormati. Sebuah refleksi yang menunjukkan kedewasaan berpikir di usia muda.
Sekolah sebagai Ruang Belajar Kehidupan
Perayaan Imlek di SMA Xaverius 1 Palembang bukan sekadar kegiatan tahunan. Ia adalah laboratorium karakter. Di sana siswa belajar:
Di tengah keberagaman agama dan latar belakang, sekolah menjadi ruang aman untuk bertumbuh bersama. Jeruk yang dibagikan, barongsai yang menari, busana merah dan emas yang dikenakan, semuanya menjadi media pendidikan nilai.
Karena pada akhirnya, Imlek di sekolah ini bukan hanya tentang tahun baru. Ia adalah tentang hati yang diperbarui, untuk lebih menghargai, lebih mengasihi, dan lebih bersatu. Dan mungkin, di situlah makna terdalam pendidikan: bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menghangatkan kehidupan. *** (Ignas)