PAGI itu, Sabtu, 7 Februari 2026, Gereja Katolik Paroki Santo Petrus Palembang tampak lebih teduh dari biasanya. Sinar matahari menembus kaca-kaca jendela, seolah ikut memberkati dua insan yang datang membawa kisah panjang: Theresia Febriana Dwi Astuti dan Thomas Aquino Yuda Kristiandika.
Pukul 08.30 WIB, di hadapan altar dan umat, mereka berdiri bukan hanya sebagai sepasang kekasih yang hendak menikah, tetapi sebagai dua pribadi yang telah ditempa oleh waktu, jarak, doa, dan kesetiaan. Sebelas tahun masa pacaran, termasuk empat tahun menjalani hubungan jarak jauh, menjadi fondasi yang kokoh bagi janji suci yang akan mereka ikrarkan.
Kasih sebagai Pilihan Harian
Bagi Theresia, kasih bukan sekadar rasa yang datang dan pergi. Kasih adalah keputusan yang diperbarui setiap hari. Dalam perjalanan panjang bersama Thomas, ia belajar bahwa cinta sejati tumbuh melalui hal-hal sederhana: hadir sepenuh hati, mendengarkan dengan sabar, menghargai usaha pasangan, dan setia dalam doa serta kejujuran.
Namun, kasih juga menuntut keberanian. Keberanian untuk berdialog saat berbeda, untuk mengampuni ketika terluka, dan untuk tetap tinggal ketika hidup tidak selalu mudah. Dalam pandangan Theresia, pernikahan bukan tentang mencari yang sempurna, melainkan tentang memilih untuk bertumbuh bersama dalam setiap musim kehidupan.
Iman yang Dihidupi Bersama
Dalam suka dan duka, Theresia ingin menjadikan Tuhan sebagai pusat keluarganya. Baginya, iman bukan hanya milik ruang ibadah, tetapi juga bagian dari ruang tamu, meja makan, dan kamar tidur, tempat doa sederhana dipanjatkan, syukur diucapkan, dan air mata diserahkan kepada Tuhan.

Saat sukacita datang, ia ingin belajar bersyukur. Saat kesulitan menghampiri, ia ingin datang kepada Tuhan dengan jujur. Ia percaya, keluarga yang menghadirkan Tuhan dalam keseharian akan selalu menemukan kekuatan untuk tetap setia.
Kesetiaan yang Bertumbuh dalam Jarak
Bagi Thomas, perjalanan cinta mereka adalah sekolah kehidupan. Empat tahun LDR bukanlah masa yang mudah. Jarak mengajarkannya tentang kepercayaan, komunikasi, dan pengendalian diri. Ia belajar bahwa kesetiaan bukan hanya soal menunggu, tetapi tentang menjaga hati, pikiran, dan sikap.
Menjadi suami, bagi Thomas, berarti memegang komitmen dengan penuh tanggung jawab. Ia ingin hadir, mau mendengar, tidak lari dari masalah, dan tetap setia meski keadaan berubah. Kasih, menurutnya, paling indah ketika diwujudkan secara sederhana: sabar, menghargai, dan mau terus belajar bersama.
Membangun Rumah yang Berakar pada Iman
Thomas memandang keluarga sebagai taman yang harus dirawat setiap hari. Doa, komunikasi, dan saling pengertian adalah pupuk yang membuatnya tetap hidup. Kebiasaan saling mendoakan yang tumbuh selama LDR ingin ia lanjutkan dalam pernikahan.
Sebagai kepala keluarga, ia bercita-cita membangun rumah yang terbuka, tempat setiap anggota merasa aman untuk berbicara, didengar, dan dihargai. Ia percaya, keluarga yang berakar pada iman akan mampu bertahan menghadapi badai zaman.
Dari Janji Menjadi Kesaksian
Setelah misa pemberkatan, pukul 11.30 WIB, kebahagiaan mengalir di Pendopo Gereja Paroki Santo Petrus. Senyum, pelukan, dan doa dari keluarga serta sahabat menjadi saksi bahwa cinta mereka tidak tumbuh sendirian, melainkan dalam komunitas yang mendukung.
Pernikahan Theresia dan Thomas bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal sebuah ziarah baru. Ziarah dua insan yang memilih untuk saling setia, saling menguatkan, dan bersama-sama berjalan dalam terang kasih Tuhan.
Dalam dunia yang sering memandang cinta sebagai perasaan sesaat, kisah mereka mengingatkan kita bahwa cinta sejati adalah pilihan yang diperjuangkan, doa yang dihidupi, dan janji yang dijaga.

Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang “hidup bahagia selamanya” tanpa masalah, tetapi tentang “tetap setia bersama” dalam setiap keadaan, dalam tawa dan air mata, dalam terang dan gelap, dalam iman dan harapan.
Dan pada pagi yang teduh itu, Theresia dan Thomas memulai semuanya dengan satu keyakinan sederhana: bahwa kasih yang diserahkan kepada Tuhan akan selalu menemukan jalannya.*** (Ignas)