Namanya Edyth Quinsha Sirait, siswi kelas X.4 SMA Xaverius 1 Palembang. Di balik sosoknya yang kalem dan hobi membaca novel serta mendengarkan musik, Edyth menyimpan semangat tinggi untuk berorganisasi dan memberi dampak nyata bagi lingkungan sekolahnya.
Kini, ia bergabung sebagai salah satu pengurus OSISKA (Organisasi Siswa Intra Sekolah Katolik). Dalam sebuah wawancara singkat, Edyth membagikan cerita di balik motivasinya serta harapan dari keaktifannya di OSISKA.
Mengapa Ingin Bergabung dengan OSISKA?
“Karena saya ingin berkontribusi langsung dalam kegiatan sekolah,” jawab Edyth tanpa ragu. “Saya ingin mengasah kemampuan organisasi, komunikasi, dan manajemen waktu.”
Pengalaman sebelumnya di OSIS SMP Xaverius 1 Palembang juga menjadi bekal awal yang memperkuat keputusannya. Baginya, OSISKA bukan hanya tempat berkegiatan, tetapi juga ruang tumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan disiplin.
Harapan Selama Aktif di OSISKA
“Saya ingin lebih aktif, lebih disiplin, dan mampu membagi waktu dengan baik,” ucap Edyth. Ia berharap bisa mengembangkan hardskill dan softskill, serta ikut mewujudkan berbagai program OSISKA yang berdampak positif.
“Saya ingin membuat teman-teman lebih semangat berkegiatan di sekolah,” tambahnya.
Tanggung Jawab sebagai Koordinator Sekbid 7
Di OSISKA, Edyth dipercaya menjadi koordinator Seksi Bidang 7: Pembinaan Kualitas Jasmani, Kesehatan, dan Gizi. Ia mengaku tertantang sekaligus bangga karena bidang ini menyentuh aspek penting dalam kehidupan siswa sehari-hari.
Dua Program Unggulan: Edukatif dan Sosial
Edyth memaparkan dua program utama yang tengah mereka jalankan:
Menjadi Pribadi yang Tumbuh Lewat Organisasi
Mengakhiri obrolan singkat, Edyth menyampaikan harapan sederhana namun kuat: “Saya ingin terus belajar mengembangkan kemampuan organisasi, komunikasi, dan manajemen waktu.”
Di usia mudanya, Edyth telah menunjukkan bahwa menjadi pengurus OSISKA bukan sekadar posisi, tetapi komitmen untuk berkembang dan memberi dampak. SMA Xaverius 1 Palembang patut bangga memiliki siswa seperti Edyth yang terus belajar untuk tumbuh, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sesamanya.*** (Ignas)
