Oleh: Rafael Marquez Queenata | XIIA.1.1.1
Siapa sangka kecintaan terhadap fisika bisa berawal dari sebuah “ketidaksengajaan”? Itulah yang saya alami sejak duduk di kelas 10 SMA. Awalnya, saya lebih tertarik pada matematika karena suka menghitung dan menggunakan logika. Namun, ketika bertemu dengan pelajaran fisika, saya menemukan sesuatu yang lebih nyata, ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari situlah ketertarikan baru mulai tumbuh.
Namun, motivasi serius di bidang fisika justru datang dari sebuah peristiwa sederhana. Saat pendaftaran Olimpiade Sains Nasional (OSN) dibuka, saya telat mendapat informasi. Padahal, jika sempat mendaftar, saya mungkin akan memilih bidang matematika, bukan fisika. Sedikit kecewa, saya hampir saja melewatkan kesempatan berharga. Hingga akhirnya, di sebuah jam pelajaran, guru fisika saya, Bu Dona, menawarkan kesempatan untuk ikut OSN Fisika. Saya yang semula ragu, akhirnya menerima tantangan itu, terutama karena tidak ingin mengecewakan kepercayaan yang diberikan beliau.
Sejak saat itu, Bu Dona menjadi sosok penting dalam perjalanan saya. Beliau mengajar dengan sabar, sistematis, dan selalu membuat suasana belajar menyenangkan. Dari soal sederhana hingga yang kompleks, semua dibimbing dengan telaten. Saya juga ditemani teman-teman seperjuangan: Christofer, Sheina, Elbert, dan Rendy. Kami saling menyemangati, belajar bersama, dan tumbuh dalam semangat kompetisi yang sehat.
Saat akhirnya terpilih menjadi peserta OSN Fisika, perasaan saya campur aduk: senang, gugup, sekaligus pesimis. Bagaimana tidak? Lomba pertama saya langsung OSN tingkat besar. Rasa minder sering datang, apalagi ketika berhadapan dengan soal latihan yang rumit. Tetapi di balik itu, saya belajar percaya diri dan terus berusaha. Syukur, saya berhasil lolos ke tingkat provinsi, pencapaian yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Meski langkah saya terhenti sebelum tingkat nasional, pengalaman ini menjadi awal perjalanan saya di dunia fisika. Saya sadar, mungkin memang di sinilah saya lebih cocok, bukan lagi di matematika. Fisika memberi ruang untuk logika sekaligus aplikasi nyata, sesuatu yang membuat saya semakin jatuh hati.
Harapan saya sederhana namun besar: terus mengasah diri, mengikuti lomba-lomba lain di bidang fisika, dan kelak melanjutkan pendidikan ke jurusan teknik mesin. Saya percaya, langkah kecil ini akan membawa saya ke perjalanan yang lebih panjang. Dan semua itu berawal dari satu hal: kepercayaan seorang guru dan keberanian untuk mencoba.*** (Ignas)