Ada siswa yang belajar Bahasa Inggris karena tuntutan pelajaran. Ada pula yang belajar karena ingin meraih nilai tinggi. Namun bagi Shearin Metta Elton, siswi kelas XI A.1.2.2 SMA Xaverius 1 Palembang, Bahasa Inggris telah menjadi bagian dari kesehariannya, bahkan menjadi salah satu hal yang paling ia sukai sejak kecil.
Sehari-hari, teman-teman mengenalnya sebagai Shearin. Putri ketiga dari Bapak Anton ini memiliki ketertarikan yang begitu besar terhadap Bahasa Inggris. Baginya, bahasa internasional tersebut memiliki daya tarik tersendiri.
“Bahasanya unik dan enak didengar,” ungkap Shearin sambil tersenyum.
Kecintaannya terhadap Bahasa Inggris tidak lahir dalam semalam. Ada sebuah pengalaman sederhana yang hingga kini masih melekat kuat dalam ingatannya. Saat duduk di kelas 2 SD, Shearin berhasil memperoleh nilai 100 dalam pelajaran Bahasa Inggris. Gurunya memuji hasil kerja yang ia capai.
Pujian itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi seorang anak kecil, apresiasi tersebut menjadi benih yang tumbuh menjadi rasa percaya diri dan kecintaan terhadap sebuah pelajaran.
“Saya tersenyum karena dipuji. Sejak saat itu saya sadar bahwa saya benar-benar suka Bahasa Inggris,” kenangnya.
Menariknya, kemampuan Bahasa Inggris Shearin banyak berkembang melalui proses belajar mandiri di rumah. Sosok yang pertama kali memperkenalkannya pada bahasa tersebut adalah sang ayah. Meski tidak menggunakan Bahasa Inggris dalam pekerjaan sehari-hari, Ayah Anton selalu menanamkan semangat belajar kepada putrinya.
Dari sanalah Shearin mulai menapaki jalan belajar secara otodidak. Lagu-lagu Barat, film, serial televisi, hingga berbagai tayangan berbahasa Inggris menjadi teman belajarnya setiap hari. Tanpa disadari, proses belajar itu berlangsung secara alami dan menyenangkan.

Ketika banyak orang menganggap belajar bahasa asing sebagai sesuatu yang sulit, Shearin justru menemukan kegembiraan di dalamnya. Ia menikmati setiap kata, setiap pelafalan, bahkan setiap bunyi yang terdengar berbeda dari bahasa yang digunakan sehari-hari.
“Saya selalu bersemangat mengucapkannya lagi dan lagi karena menurut saya sangat enak didengar,” katanya.
Kegemarannya menonton serial Barat maupun kartun Jepang dengan takarir Bahasa Inggris juga membuat kemampuan bahasanya terus berkembang. Bahasa Inggris tidak lagi sekadar mata pelajaran di kelas, melainkan hadir dalam berbagai aktivitas yang ia sukai.
Kisah Shearin menunjukkan bahwa keberhasilan belajar sering kali berawal dari hal-hal sederhana: rasa ingin tahu, dukungan keluarga, dan pengalaman positif yang membangkitkan semangat. Sebuah pujian kecil dari guru, perhatian dari orang tua, dan kebiasaan belajar yang konsisten ternyata mampu menumbuhkan kecintaan yang bertahan hingga sekarang.
Semoga semangat Shearin dalam mencintai Bahasa Inggris dapat menginspirasi teman-teman lain untuk berani menekuni bidang yang disukai. Sebab, ketika belajar dilakukan dengan hati yang gembira, prosesnya tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai petualangan yang menyenangkan. *** (Ignas)