SHARING profesi alumni (Sabtu, 14 Mei 2022) merupakan program rutin alumni IKAXA SMA Xaverius 1 Palembang. Para alumni, sesuai dengan bidang atau profesinya membagikan pengalaman kepada para siswa-siswi yang kini masih duduk di kelas XII dan XI.
Sharing profesi alumni tahun ini dibagi kedalam 8 kelas atau bidang yakni teknologi informatika, kedokteran, psikologi, teknologi pangan dan agroeko teknologi, ekonomi dan bisnis, hukum, ilmu dan teknologi farmasi dan pharmaceuticl science dan technology, serta akuntansi.
Tulisan ini merupakan garapan dari Valencia Feodora Ziva dan foto Michael Tansi, keduanya adalah siswa dan siswi kelas XI IPS 1. Mereka fokus meliput sharing profesi alumni dalam bidang psikologi.
Sharing alumni SMA Xaverius 1 Palembang memuat beberapa topik, dan salah satunya berhasil menarik minat saya, yakni sharing mengenai psikologi yang dibawakan oleh Devi Delia, M.Psi. Beliau merupakan alumni SMA Xaverius 1 Palembang angkatan 2004 dan merupakan alumni dari Universitas Tarumanegara baik dalam menempuh pendidikan sarjana dan magister psikologinya dan kini beliau merupakan seorang psikolog anak RS RK Charitas Palembang.

Obervasi
Selama saya menyimak informasi dan kesaksian dari magister psikologi, Dewi Delia, ada beberapa hal yang berhasil saya tangkap, terutama berdasarkan jawaban-jawaban dari sesi tanya jawab:
Berminat
Pembawaan dan sharing yang seru berhasil membuat saya menyimak kelas dari awal sampai akhir. Terpenting, sesi ini semakin menumbuhkan minat saya untuk mengambil psikologi sebagai salah satu prodi pilihan untuk menempuh pendidikan tinggi nanti.
Responsif terhadap perubahan
Peserta lain Grace Julyana Situmpol dan Ancilla Vinta Nugraha (siswi kelas XI IPS 2) menambahkan, para narasumber menceritakan pengalaman mereka sebelum bisa menjadi seperti ini, hambatan-hambatan apa saja yang mereka lalui, serta proses-proses yang harus dijalani sebelum mendapatkan profesi tersebut.

Hal yang paling berkesan bagi Grace dan Ancilla yakni para narasumber memberikan beberapa motivasi serta kata mutiara dari Charles Darwin “It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change” yang dapat diartikan sebagai “Bukan yang terkuat dari spesies yang bertahan hidup, juga bukan yang paling cerdas, tetapi yang paling responsif terhadap perubahan”.
Dimana orang yang kuat ataupun pintar belum tentu bisa mendaptkan kehidupan yang lebih baik, namun orang yang bisa beradaptasilah yang bisa bertahan dan berjuang demi kehidupan yang lebih baik.***