Ekspo Perguruan Tinggi Ke-21 SMA Xaverius 1 Palembang
Suasana Gedung XCS (Xaverius Centrum Studiorum) SMA Xaverius 1 Palembang sangat ramai pada Kamis–Jumat, 1–2 Oktober 2026. Puluhan perguruan tinggi dalam dan luar negeri hadir dalam Ekspo Perguruan Tinggi Ke-21, membawa beragam informasi dan gambaran tentang dunia perkuliahan bagi para siswa.
Panitia menyediakan 38 stand yang menjadi tempat bagi sekitar 30-an perguruan tinggi untuk memperkenalkan program studi, lingkungan kampus, hingga berbagai pilihan pendidikan tinggi kepada siswa. Bagi siswa kelas XII, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mulai melihat lebih dekat dunia yang akan mereka masuki setelah menyelesaikan pendidikan di SMA.
Namun, sebelum para siswa berkeliling dari satu stand ke stand lainnya, sebuah penampilan musik lebih dahulu membuka suasana. Suara paduan suara St Francis Choir mengalun membawakan lagu daerah Aceh, Bungong Jeumpa.
Di antara para anggota paduan suara itu terdapat Arielle Chrissan Isaiah Lin, siswi kelas XIIA.1.1.1. Dengan penuh semangat, Arielle bersama teman-temannya mempersembahkan lagu tersebut sebagai bagian dari acara pembukaan.

Bagi Arielle, penampilan itu bukanlah sesuatu yang dipersiapkan dalam waktu singkat. Hampir sebulan ia bersama anggota St Francis Choir berlatih secara rutin, sekitar dua kali dalam seminggu.
Latihan tersebut tentu memiliki tantangan tersendiri. Menurut Arielle, Bungong Jeumpa bukan lagu yang begitu saja mudah dinyanyikan. Salah satu tantangannya adalah nada yang cukup tinggi, sementara pada bagian akhir lagu, temponya terasa semakin cepat.
Justru dari proses latihan itulah Arielle belajar bahwa penampilan yang baik membutuhkan persiapan, ketekunan, dan kerja sama.
Bernyanyi karena mau belajar
Menariknya, bergabung dengan paduan suara menurut Arielle tidak harus dimulai dari kemampuan bernyanyi yang sempurna.
“Yang utama ada kemauan untuk berlatih dan bernyanyi,” demikian semangat yang ia bagikan.
Setelah memiliki kemauan tersebut, anggota baru dapat mengikuti tes suara untuk mengetahui pembagian suara, misalnya sopran, alto, tenor, atau bass. Dengan demikian, setiap anggota dapat menemukan bagian suara yang sesuai dan bersama-sama membangun harmoni.
Bagi Arielle, bernyanyi juga menjadi salah satu cara untuk mengembangkan diri di tengah kesibukannya sebagai siswa kelas XII.
Di satu sisi, ia aktif bersama St Francis Choir. Di sisi lain, ia sedang mempersiapkan langkah menuju cita-citanya untuk menjadi dokter.
Dua hal tersebut mungkin terlihat berbeda. Bernyanyi berkaitan dengan seni, sedangkan kedokteran berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan pelayanan kesehatan. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan: keduanya membutuhkan kemauan belajar, latihan, kedisiplinan, dan kerja sama.
Ekspo dan cerita tentang masa depan
Ekspo Perguruan Tinggi Ke-21 akhirnya bukan sekadar deretan stand perguruan tinggi. Di balik kegiatan tersebut, ada banyak cerita tentang siswa yang sedang mempersiapkan masa depan.
Ada yang sedang mencari jurusan yang sesuai dengan minatnya. Ada yang mulai membandingkan berbagai pilihan perguruan tinggi. Ada pula yang, seperti Arielle, sedang belajar mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan yang disukai.
Dari panggung pembukaan dengan Bungong Jeumpa, Arielle menunjukkan bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak hanya dibangun melalui buku dan pelajaran di kelas. Ada latihan, pengalaman, keberanian tampil, kerja sama, dan kemauan untuk terus belajar.
Mungkin hari ini Arielle berdiri di panggung bersama St Francis Choir. Kelak, ia berharap dapat mengenakan jas putih dan menjalani profesinya sebagai dokter.

Perjalanan itu masih panjang. Namun, setiap latihan, setiap pengalaman, dan setiap kesempatan untuk belajar menjadi bagian kecil yang membantu seorang siswa melangkah semakin dekat kepada cita-citanya.
Karena memilih masa depan bukan hanya tentang memilih perguruan tinggi, tetapi juga tentang mengenali diri, mengembangkan potensi, dan berani mempersiapkan langkah sejak sekarang.*** (Ignas)