{"id":5527,"date":"2026-08-08T18:11:07","date_gmt":"2026-08-08T11:11:07","guid":{"rendered":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=5527"},"modified":"2026-08-08T18:11:07","modified_gmt":"2026-08-08T11:11:07","slug":"sakti-bertarung-dengan-otot-menang-dengan-pikiran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=5527","title":{"rendered":"Sakti: Bertarung dengan Otot, Menang dengan Pikiran"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\"><strong>Ahmad Syahdwi Jerkhanasakti<\/strong>, atau akrab disapa <strong>Sakti<\/strong>, siswa kelas XIIA.1.1.2 SMA Xaverius 1 Palembang, mengenal olahraga bela diri sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dari Taekwondo, Wushu Sanda, dan Kickboxing, perjalanan itu akhirnya membawanya mendalami Sambo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Lahir di Palembang, 5 Mei 2009, Sakti adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ketertarikannya pada bela diri bermula sejak kelas 3 SD ketika ia mulai berlatih Taekwondo. Saat SMP, ia mencoba Wushu Sanda dan Kickboxing. Memasuki kelas XI SMA, ia memilih lebih serius menekuni Sambo.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Menariknya, Sakti tidak melihat Sambo semata-mata sebagai jalan menuju prestasi. Ia berlatih karena menyukainya dan menikmati proses yang membuat dirinya terus berkembang, secara fisik maupun mental.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-4-1024x576.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5529\" srcset=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-4-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-4-300x169.jpeg 300w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-4-768x432.jpeg 768w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-4-1536x864.jpeg 1536w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-4.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Hampir setiap hari, Senin hingga Sabtu, waktunya diisi latihan. Pagi sebelum sekolah ia melakukan lari interval, sore berlatih teknik atau gym, sedangkan malam menjadi waktu untuk \u201cbertarung\u201d menggunakan pikirannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Sakti mempelajari video pertandingan Sambo internasional. Ia menghentikan video pada momen tertentu, mencoba menebak gerakan lawan berikutnya, lalu memutarnya kembali untuk mengevaluasi apakah perkiraannya benar. Ia juga membandingkan rekaman <em>sparring<\/em>-nya dengan petarung profesional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Baginya, latihan semacam itu sangat penting untuk membangun <em>fight IQ, <\/em>kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan ketika bertanding.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\"><strong>\u201cAda kalanya kita harus bertarung menggunakan otak, bukan hanya otot. Otak dan otot harus saling sinergi.\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Pengalaman bertanding pun mengajarkannya tentang ketahanan mental. Salah satu yang paling berkesan terjadi dalam Kejurnas Hayono Isman Jilid 2 tahun 2023. Saat itu, setelah pulih dari cedera, Sakti harus menurunkan berat badan sekitar 7\u20138 kilogram dalam waktu kurang lebih satu bulan untuk bertanding di kelas 48 kilogram. Di semifinal, ia menghadapi lawan tangguh, atlet Pelatda Papua yang juga merupakan atlet PON Hapkido.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"588\" src=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-2-1024x588.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5530\" srcset=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-2-1024x588.jpeg 1024w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-2-300x172.jpeg 300w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-2-768x441.jpeg 768w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Sakti-2.jpeg 1220w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Pertandingan tersebut terasa sangat berat. Namun, dari pengalaman itu Sakti menemukan pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar hasil pertandingan: <strong>disiplin dan ketahanan mental.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Di cabang Sambo sendiri, Kejurnas Gubernur Cup Sumsel 2026 menjadi turnamen pertamanya. Meski masih terbuka kesempatan mengikuti sejumlah pertandingan berikutnya, Sakti mulai memilih arah yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Ia memutuskan untuk lebih fokus pada pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size wp-block-paragraph\">Baginya, olahraga tetap menjadi bagian penting dalam hidup. Namun, pendidikan adalah investasi untuk masa depan yang ingin ia bangun dengan lebih stabil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keputusan itu menunjukkan bahwa keberanian seorang petarung tidak hanya terlihat ketika berdiri di arena. Keberanian juga tampak ketika seseorang mampu menentukan prioritas dan berani memilih jalan hidupnya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size wp-block-paragraph\">Sakti mungkin belajar Sambo untuk menjadi petarung yang lebih baik. Tetapi tanpa disadarinya, olahraga telah mengajarinya sesuatu yang lebih besar: <strong>mengendalikan diri, berpikir sebelum bertindak, bertahan ketika keadaan sulit, dan terus berkembang.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan selalu tentang mengalahkan lawan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\"><strong>Kadang, kemenangan adalah ketika kita berhasil menaklukkan diri sendiri dan menemukan arah masa depan yang ingin kita perjuangkan.<\/strong>*** (Ignas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ahmad Syahdwi Jerkhanasakti, atau akrab disapa Sakti, siswa kelas XIIA.1.1.2 SMA Xaverius 1 Palembang, mengenal olahraga bela diri sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dari Taekwondo, Wushu Sanda, dan Kickboxing, perjalanan itu akhirnya membawanya mendalami Sambo. Lahir di Palembang, 5 Mei 2009, Sakti adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ketertarikannya pada bela diri bermula sejak kelas 3 SD ketika ia mulai berlatih Taekwondo. Saat SMP, ia mencoba Wushu Sanda dan Kickboxing. Memasuki kelas XI SMA, ia memilih lebih serius menekuni Sambo. Menariknya, Sakti tidak melihat Sambo semata-mata sebagai jalan menuju prestasi. Ia berlatih karena menyukainya dan menikmati proses yang membuat dirinya terus berkembang, secara fisik maupun mental. Hampir setiap hari, Senin hingga Sabtu, waktunya diisi latihan. Pagi sebelum sekolah ia melakukan lari interval, sore berlatih teknik atau gym, sedangkan malam menjadi waktu untuk \u201cbertarung\u201d menggunakan pikirannya. Sakti mempelajari video pertandingan Sambo internasional. Ia menghentikan video pada momen tertentu, mencoba menebak gerakan lawan berikutnya, lalu memutarnya kembali untuk mengevaluasi apakah perkiraannya benar. Ia juga membandingkan rekaman sparring-nya dengan petarung profesional. Baginya, latihan semacam itu sangat penting untuk membangun fight IQ, kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan ketika bertanding. \u201cAda kalanya kita harus bertarung menggunakan otak, bukan hanya otot. Otak dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":5528,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[252],"tags":[526,527,49],"class_list":["post-5527","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pengalaman","tag-ahmad-syahdwi-jerkhanasakti","tag-sakti","tag-sma-xaverius-1-palembang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5527","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5527"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5527\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5531,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5527\/revisions\/5531"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5528"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5527"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5527"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5527"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}