{"id":5294,"date":"2026-05-26T13:17:35","date_gmt":"2026-05-26T06:17:35","guid":{"rendered":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=5294"},"modified":"2026-05-26T13:17:36","modified_gmt":"2026-05-26T06:17:36","slug":"melangkah-dengan-berani-ke-fakultas-hukum-ui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=5294","title":{"rendered":"Melangkah dengan Berani ke Fakultas Hukum UI"},"content":{"rendered":"\n<p>Bagi Stephani Jessica Indah Simanjuntak, mimpi besar tidak datang secara tiba-tiba. Sejak akhir kelas X, siswi XIIA.3.1 ini mulai menaruh hati pada dunia hukum. Awalnya sederhana: ia melihat sang papa yang juga menempuh pendidikan hukum. Dari sana, rasa penasaran tumbuh perlahan. Stephani mulai gemar membaca berita tentang berbagai isu sosial, ketidakadilan, dan persoalan masyarakat. Semakin banyak membaca, semakin ia merasa bahwa hukum bukan sekadar pasal-pasal, tetapi jalan untuk memahami kehidupan dan memperjuangkan kebaikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Perjalanan menuju Fakultas Hukum Universitas Indonesia tentu bukan hal mudah. Di tengah banyaknya pilihan kampus, Stephani menjatuhkan hati pada UI karena reputasinya yang kuat dan kualitas pendidikan hukumnya yang sudah dikenal luas. Namun, di balik pilihan itu, tersimpan juga rasa pesimis. Ia sempat ragu apakah dirinya benar-benar mampu menembus kampus impian tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Di saat itulah dukungan orang tua menjadi kekuatan terbesar. Papa dan mama terus mengingatkannya untuk percaya pada proses dan perjuangan. Dari dukungan kecil yang tak pernah berhenti, tumbuh keberanian besar dalam dirinya untuk terus mencoba.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Bagi Stephani, masuk UI bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk berkembang lebih jauh. Ia ingin membangun kemampuan diri, memperluas relasi, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Meski demikian, ia juga sadar bahwa dunia perkuliahan akan menghadirkan tantangan baru. Salah satu yang paling sering ia rasakan adalah rasa minder ketika melihat teman-teman sebaya yang dianggap lebih hebat dan berprestasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun justru di situlah letak keberanian Stephani: tetap melangkah meski dihantui rasa takut. Sebab pada akhirnya, orang yang berhasil bukan selalu mereka yang paling sempurna, tetapi mereka yang tetap berjuang walau sering merasa ragu pada dirinya sendiri.*** (Ignas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi Stephani Jessica Indah Simanjuntak, mimpi besar tidak datang secara tiba-tiba. Sejak akhir kelas X, siswi XIIA.3.1 ini mulai menaruh hati pada dunia hukum. Awalnya sederhana: ia melihat sang papa yang juga menempuh pendidikan hukum. Dari sana, rasa penasaran tumbuh perlahan. Stephani mulai gemar membaca berita tentang berbagai isu sosial, ketidakadilan, dan persoalan masyarakat. Semakin banyak membaca, semakin ia merasa bahwa hukum bukan sekadar pasal-pasal, tetapi jalan untuk memahami kehidupan dan memperjuangkan kebaikan. Perjalanan menuju Fakultas Hukum Universitas Indonesia tentu bukan hal mudah. Di tengah banyaknya pilihan kampus, Stephani menjatuhkan hati pada UI karena reputasinya yang kuat dan kualitas pendidikan hukumnya yang sudah dikenal luas. Namun, di balik pilihan itu, tersimpan juga rasa pesimis. Ia sempat ragu apakah dirinya benar-benar mampu menembus kampus impian tersebut. Di saat itulah dukungan orang tua menjadi kekuatan terbesar. Papa dan mama terus mengingatkannya untuk percaya pada proses dan perjuangan. Dari dukungan kecil yang tak pernah berhenti, tumbuh keberanian besar dalam dirinya untuk terus mencoba. Bagi Stephani, masuk UI bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk berkembang lebih jauh. Ia ingin membangun kemampuan diri, memperluas relasi, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Meski demikian, ia juga sadar bahwa dunia perkuliahan akan menghadirkan tantangan baru. Salah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":5295,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[261],"tags":[285,49,510,509],"class_list":["post-5294","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-percikan-pengalaman","tag-sma-bangau","tag-sma-xaverius-1-palembang","tag-stephani-jessica-indah-simanjuntak","tag-universitas-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5294","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5294"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5294\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5296,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5294\/revisions\/5296"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5295"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5294"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5294"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5294"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}