{"id":5024,"date":"2026-03-18T20:45:32","date_gmt":"2026-03-18T13:45:32","guid":{"rendered":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=5024"},"modified":"2026-03-18T20:45:33","modified_gmt":"2026-03-18T13:45:33","slug":"belajar-memimpin-dengan-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=5024","title":{"rendered":"Belajar Memimpin dengan Hati"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kisah Perjalanan Nuel di OSISKA 69<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di balik setiap organisasi sekolah, selalu ada cerita tentang proses bertumbuh. Bukan hanya tentang program kerja yang terlaksana, tetapi tentang <strong>manusia yang dibentuk di dalamnya<\/strong>. Salah satu kisah itu datang dari Emanuel Arkanjelino Jati Kumara, atau yang akrab disapa Nuel.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai siswa kelas XI A.2.1 di SMA Xaverius 1 Palembang, Nuel mengambil bagian dalam OSISKA Angkatan 69 (2025\u20132026), khususnya di Sekbid 1, bidang yang berfokus pada ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Dari Program ke Makna<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi sebagian orang, program kerja mungkin hanya daftar kegiatan. Namun bagi Nuel, setiap kegiatan adalah ruang belajar.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"884\" src=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-2-1024x884.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5026\" srcset=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-2-1024x884.jpeg 1024w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-2-300x259.jpeg 300w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-2-768x663.jpeg 768w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-2-1536x1326.jpeg 1536w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-2.jpeg 1560w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bersama timnya, ia terlibat dalam berbagai kegiatan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Doa Angelus\/Ratu Surga<\/li>\n\n\n\n<li>Misa Jumat Pertama dan Jalan Salib<\/li>\n\n\n\n<li>Kolaborasi Kartini x Paskah lintas bidang<\/li>\n\n\n\n<li>Wisata rohani<\/li>\n\n\n\n<li>Penerimaan Sakramen Tobat<\/li>\n\n\n\n<li>Christmas Charity<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua itu bukan sekadar agenda, tetapi pengalaman nyata bagaimana iman dihidupi dalam kebersamaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Dalam perspektif pedagogis, inilah yang disebut <strong>belajar melalui pengalaman (experiential learning), <\/strong>ketika siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga merasakan dan menghidupi nilai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kepemimpinan yang Tumbuh dari Relasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun hal paling berkesan bagi Nuel bukanlah jumlah kegiatan yang berhasil dilaksanakan. Ia justru menemukan sesuatu yang lebih dalam: <strong>kekeluargaan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cAwalnya saya tidak terlalu mengenal teman-teman di OSISKA,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi waktu, kerja sama, dan dinamika organisasi perlahan mengubah segalanya. Dalam setiap rapat, persiapan acara, hingga kelelahan bersama, mereka mulai saling membuka diri. Cerita dibagikan, tawa tercipta, dan kepercayaan tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah kepemimpinan menemukan maknanya yang sejati: bukan soal mengatur, tetapi <strong>membangun relasi<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pekerjaan yang berat pun terasa ringan ketika dilakukan bersama. Ada rasa nyaman, ada rasa memiliki, dan ada kesatuan yang hangat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Memilih Berhenti, Bukan Berarti Selesai<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menariknya, di akhir masa kepengurusan, Nuel mengambil keputusan yang tidak biasa: ia memilih <strong>tidak melanjutkan ke periode berikutnya<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan karena lelah atau kecewa, tetapi karena ia merasa satu periode sudah cukup. Ia ingin merasakan pengalaman yang berbeda, menjadi peserta biasa dalam program OSISKA berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size wp-block-paragraph\">Keputusan ini menunjukkan kedewasaan seorang pemimpin muda. Ia memahami bahwa kepemimpinan bukan soal bertahan di posisi, tetapi tentang <strong>menyadari kapan harus memberi ruang bagi yang lain<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kepemimpinan profesional, ini dikenal sebagai <em>knowing when to step back, <\/em>kemampuan untuk mundur dengan bijak demi keberlanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pelajaran yang Tertinggal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari perjalanan Nuel, ada satu benang merah yang bisa ditarik: <strong>kepemimpinan sejati tidak dibentuk oleh jabatan, tetapi oleh pengalaman, relasi, dan refleksi diri.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"861\" src=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-3-1024x861.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5027\" srcset=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-3-1024x861.jpeg 1024w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-3-300x252.jpeg 300w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-3-768x646.jpeg 768w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-3-1536x1292.jpeg 1536w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Nuel-3.jpeg 1542w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia datang sebagai siswa yang belum banyak mengenal orang lain, lalu bertumbuh menjadi pribadi yang mampu bekerja sama, membuka diri, dan menghargai kebersamaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan mungkin, pelajaran paling penting yang ia tinggalkan adalah ini: bahwa dalam sebuah organisasi, yang paling diingat bukan hanya apa yang kita kerjakan, tetapi siapa yang berjalan bersama kita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kisah Nuel mengingatkan kita bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu, tetapi juga tempat belajar menjadi manusia, belajar memimpin, belajar melayani, dan belajar mencintai dalam kebersamaan.*** (Ignas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kisah Perjalanan Nuel di OSISKA 69 Di balik setiap organisasi sekolah, selalu ada cerita tentang proses bertumbuh. Bukan hanya tentang program kerja yang terlaksana, tetapi tentang manusia yang dibentuk di dalamnya. Salah satu kisah itu datang dari Emanuel Arkanjelino Jati Kumara, atau yang akrab disapa Nuel. Sebagai siswa kelas XI A.2.1 di SMA Xaverius 1 Palembang, Nuel mengambil bagian dalam OSISKA Angkatan 69 (2025\u20132026), khususnya di Sekbid 1, bidang yang berfokus pada ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dari Program ke Makna Bagi sebagian orang, program kerja mungkin hanya daftar kegiatan. Namun bagi Nuel, setiap kegiatan adalah ruang belajar. Bersama timnya, ia terlibat dalam berbagai kegiatan: Semua itu bukan sekadar agenda, tetapi pengalaman nyata bagaimana iman dihidupi dalam kebersamaan. Dalam perspektif pedagogis, inilah yang disebut belajar melalui pengalaman (experiential learning), ketika siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga merasakan dan menghidupi nilai. Kepemimpinan yang Tumbuh dari Relasi Namun hal paling berkesan bagi Nuel bukanlah jumlah kegiatan yang berhasil dilaksanakan. Ia justru menemukan sesuatu yang lebih dalam: kekeluargaan. \u201cAwalnya saya tidak terlalu mengenal teman-teman di OSISKA,\u201d ungkapnya. Tetapi waktu, kerja sama, dan dinamika organisasi perlahan mengubah segalanya. Dalam setiap rapat, persiapan acara, hingga kelelahan bersama, mereka mulai saling membuka diri. Cerita dibagikan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":5025,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4,261],"tags":[454,475,49],"class_list":["post-5024","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesiswaan","category-percikan-pengalaman","tag-emanuel-arkanjelino-jati-kumara","tag-osiska-69","tag-sma-xaverius-1-palembang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5024","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5024"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5024\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5028,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5024\/revisions\/5028"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5025"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5024"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5024"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5024"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}