{"id":4628,"date":"2025-10-17T19:19:46","date_gmt":"2025-10-17T12:19:46","guid":{"rendered":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=4628"},"modified":"2025-10-17T19:19:48","modified_gmt":"2025-10-17T12:19:48","slug":"menemukan-diri-dalam-nada-kisah-stephanie-dan-electone-ensemble","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=4628","title":{"rendered":"Menemukan Diri dalam Nada: Kisah Stephanie dan Electone Ensemble"},"content":{"rendered":"\n<p>Di balik setiap alunan nada, selalu tersimpan kisah tentang keberanian, perjuangan, dan mimpi. Begitu pula dengan <strong>Stephanie Jessica Indah Simanjuntak<\/strong>, siswi kelas XII A.3.1, yang tahun ini melangkah ke panggung besar, <strong>lomba Electone Ensemble di Medan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Stephanie, pengalaman ini bukan sekadar ajang kompetisi, tapi perjalanan kecil untuk mengenal dirinya lebih dalam: seorang remaja yang berani keluar dari rasa ragu, dan akhirnya menemukan keindahan dalam irama.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Langkah Awal dari Keberanian<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku tertarik ikut lomba karena ingin mencari pengalaman,\u201d tutur Stephanie dengan nada jujur.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama ini, ia belum pernah ikut lomba semacam ini. Bukan karena tak mau, tapi karena merasa belum cukup kompeten. Namun tahun ini, ada sesuatu yang berubah, mungkin keberanian, mungkin keyakinan kecil yang tumbuh dari proses latihan yang panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cRasanya aku ingin mencoba. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?\u201d ucapnya pelan, tapi tegas.<br>Dan dari keputusan sederhana itu, lahirlah pengalaman yang berharga.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Nada yang Menyentuh: <em>Angel<\/em> dari Libera<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam lomba kali ini, Stephanie dan timnya membawakan lagu <em>Angel<\/em> dari Libera, lagu yang penuh nuansa lembut dan spiritual. Pilihan lagu ini bukan tanpa alasan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size\"><em>Angel<\/em> bukan sekadar melodi indah, tapi juga membawa pesan: tentang keheningan, kedamaian, dan kekuatan batin.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWaktu membawakan lagu itu, aku merasa tenang,\u201d kata Stephanie.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia tak hanya memainkan tuts dan pedal, tapi juga <strong>menyampaikan rasa<\/strong>. Setiap nada menjadi doa, setiap harmoni menjadi bahasa hati.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sejak Kelas 6 SD, Nada Itu Mulai Hidup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kecintaan Stephanie pada Electone bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. \u201cSejak kelas 6 SD aku sudah belajar Electone,\u201d kenangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari ruang kecil tempat les musik hingga ke panggung perlombaan di Medan, perjalanan itu seperti simfoni yang ia ciptakan sendiri, dimulai dari satu tuts, lalu menjadi melodi penuh semangat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Guru dan Teman, Sumber Semangat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tak ada penampilan yang lahir dari kesendirian. \u201cYang paling banyak membantu saya saat latihan adalah guru saya sendiri,\u201d ungkap Stephanie.<\/p>\n\n\n\n<p>Guru yang dimaksud bukan sekadar pengajar, tapi pembimbing yang sabar menata harmoni, &nbsp;baik dalam permainan maupun dalam kerja sama tim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Dalam Electone ensemble, setiap pemain adalah bagian dari kesatuan. Tak ada suara yang lebih penting; semua saling melengkapi, seperti mozaik nada yang indah. Di sanalah Stephanie belajar tentang kerja sama, disiplin, dan saling percaya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dari Gugup Menjadi Nikmat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menjelang tampil di depan juri dan penonton, perasaan gugup tentu tak bisa dihindari.<br>Namun, sesuatu yang indah terjadi saat musik mulai dimainkan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya merasa gugup saat menjelang perlombaan, namun pada saat bermain saya menikmati lagunya sebagaimana saat latihan bersama teman-teman.\u201d<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"559\" src=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Stephani-2-2-1024x559.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4630\" srcset=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Stephani-2-2-1024x559.jpeg 1024w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Stephani-2-2-300x164.jpeg 300w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Stephani-2-2-768x420.jpeg 768w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Stephani-2-2.jpeg 1274w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><strong>S<\/strong><em><strong>tephanie Jessica<\/strong> ujung kanan<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Kalimat itu menggambarkan esensi sejati dari bermusik: <strong>menikmati proses<\/strong>, bukan hanya mengejar hasil. Di atas panggung, Stephanie belajar mengubah ketegangan menjadi energi positif, dan suara Electone-nya menjadi cermin dari ketenangan itu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mimpi ke Panggung Nasional<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Stephanie, lomba ini bukan akhir, justru awal. \u201cHarapan saya bisa ikut lagi tahun berikutnya dan masuk ke ajang nasional,\u201d ujarnya mantap.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Harapan itu sederhana, tapi tulus. Ia ingin terus berkembang, bukan hanya sebagai pemain Electone, tapi juga sebagai pribadi yang berani mencoba, berani gagal, dan berani bermimpi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penutup: Harmoni yang Tumbuh dari Hati<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size\">Electone Ensemble mengajarkan Stephanie lebih dari sekadar teknik musik. Ia belajar tentang <strong>disiplin, keberanian, dan kebersamaan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahwa keindahan tak hanya terdengar dari nada yang tepat, tapi juga dari hati yang ikhlas memainkan setiap bagiannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Medan, mungkin Stephanie hanya satu dari banyak peserta yang tampil. Tapi di balik setiap tuts yang ia tekan, ada kisah kecil tentang seorang remaja yang belajar menemukan dirinya, &nbsp;melalui harmoni, kerja sama, dan keindahan musik.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena pada akhirnya, <strong>musik bukan sekadar suara. Ia adalah jiwa yang sedang berbicara.<\/strong>*** (Ignas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di balik setiap alunan nada, selalu tersimpan kisah tentang keberanian, perjuangan, dan mimpi. Begitu pula dengan Stephanie Jessica Indah Simanjuntak, siswi kelas XII A.3.1, yang tahun ini melangkah ke panggung besar, lomba Electone Ensemble di Medan. Bagi Stephanie, pengalaman ini bukan sekadar ajang kompetisi, tapi perjalanan kecil untuk mengenal dirinya lebih dalam: seorang remaja yang berani keluar dari rasa ragu, dan akhirnya menemukan keindahan dalam irama. Langkah Awal dari Keberanian \u201cAku tertarik ikut lomba karena ingin mencari pengalaman,\u201d tutur Stephanie dengan nada jujur. Selama ini, ia belum pernah ikut lomba semacam ini. Bukan karena tak mau, tapi karena merasa belum cukup kompeten. Namun tahun ini, ada sesuatu yang berubah, mungkin keberanian, mungkin keyakinan kecil yang tumbuh dari proses latihan yang panjang. \u201cRasanya aku ingin mencoba. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?\u201d ucapnya pelan, tapi tegas.Dan dari keputusan sederhana itu, lahirlah pengalaman yang berharga. Nada yang Menyentuh: Angel dari Libera Dalam lomba kali ini, Stephanie dan timnya membawakan lagu Angel dari Libera, lagu yang penuh nuansa lembut dan spiritual. Pilihan lagu ini bukan tanpa alasan. Angel bukan sekadar melodi indah, tapi juga membawa pesan: tentang keheningan, kedamaian, dan kekuatan batin. \u201cWaktu membawakan lagu itu, aku merasa tenang,\u201d kata Stephanie. Ia tak hanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":4629,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[441],"class_list":["post-4628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesiswaan","tag-stephanie-jessica-indah-simanjuntak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4628"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4628\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4631,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4628\/revisions\/4631"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4629"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}