{"id":4561,"date":"2025-10-04T04:38:06","date_gmt":"2025-10-03T21:38:06","guid":{"rendered":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=4561"},"modified":"2025-10-04T04:38:07","modified_gmt":"2025-10-03T21:38:07","slug":"dave-sang-penjaga-tempo-di-balik-drum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?p=4561","title":{"rendered":"Dave, Sang Penjaga Tempo di Balik Drum"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>SETIAP<\/strong> musisi punya kisah awal yang sederhana, kadang hanya berawal dari <strong>rasa penasaran<\/strong>. Begitu pula <strong>Dave Christian<\/strong>. <strong>Siswa kelas XIIA.2.1<\/strong> ini ketertarikannya pada <strong>drum<\/strong> lahir bukan dari <strong>panggung besar<\/strong> atau <strong>gemerlap konser<\/strong>, melainkan dari <strong>rasa ingin tahu<\/strong> yang mendalam: <strong>bagaimana cara menjaga tempo<\/strong>, <strong>bagaimana memukul dengan tepat<\/strong>. Dari sanalah langkah kecil itu berubah menjadi perjalanan seriusnya sebagai <strong>drummer<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Dave, inspirasi terbesar datang dari seorang drummer kenamaan Indonesia, <strong>Echa Soemantri<\/strong>. Nama Echa tentu tidak asing di telinga pecinta musik tanah air. Ia dikenal sebagai <strong>penggebuk drum<\/strong> bagi musisi papan atas seperti <strong>Tompi<\/strong>, <strong>Isyana Sarasvati<\/strong>, bahkan sempat tampil bersama <strong>Planetshakers<\/strong>. \u201cYang membuat saya kagum bukan hanya <strong>tekniknya yang luar biasa<\/strong>, tapi juga <strong>sikap rendah hatinya<\/strong>. Itu yang menginspirasi saya untuk terus belajar,\u201d ujar Dave.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak heran bila Dave punya lagu-lagu favorit saat tampil di panggung. Dua di antaranya adalah <strong>Kesempurnaan Cinta<\/strong> dan <strong>Ya Saman<\/strong>. Menurutnya, kedua lagu itu punya <strong>tantangan tersendiri<\/strong>, apalagi saat ia dan teman-temannya menambahkan <strong>variasi hit<\/strong> dan <strong>sinkop baru<\/strong> yang berbeda dari <strong>versi asli<\/strong>. \u201cRasanya <strong>menyenangkan<\/strong>, apalagi saat dimainkan bersama teman-teman waktu <strong>kelas 11<\/strong>,\u201d kenangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, menjadi drummer bukan tanpa tantangan. Dave menyebut ada dua hal yang paling berat: <strong>menjaga tempo<\/strong> dan <strong>menjaga ego<\/strong>. Sedikit saja drummer <strong>meleset dari tempo<\/strong>, maka <strong>seluruh penampilan band bisa kacau<\/strong>. Di sisi lain, ia juga mengakui adanya <strong>ego antarpersonel<\/strong>. \u201cKadang ada yang ingin <strong>paling menonjol<\/strong>, lalu <strong>over fill-in<\/strong>. Padahal <strong>musik itu harus seimbang<\/strong>. Kalau satu alat terlalu menonjol, yang lain jadi <strong>tenggelam<\/strong>,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski begitu, Dave punya cara sederhana tapi efektif untuk menjaga kekompakan timnya, <strong>Neo Elxaba<\/strong>. Bukan dengan <strong>latihan ekstra keras<\/strong> semata, melainkan lewat <strong>kebersamaan di luar ruang latihan<\/strong>. \u201cKami sering <strong>makan bersama<\/strong> setelah latihan atau lomba. Kadang juga <strong>bercanda<\/strong> dan <strong>berbagi cerita<\/strong>. Dari situlah <strong>kekompakan kami tumbuh<\/strong>,\u201d ujarnya sambil tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Dave-1-1024x576.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4563\" srcset=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Dave-1-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Dave-1-300x169.jpeg 300w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Dave-1-768x432.jpeg 768w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Dave-1.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Foto: Dave<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Ke depan, Dave punya impian untuk berkolaborasi dengan musisi besar. Salah satu band yang paling ia kagumi adalah <strong>Bakucakar<\/strong>, kelompok musik <strong>jazz<\/strong> yang pernah menjadi band pengiring mendiang <strong>Glenn Fredly<\/strong>. Baginya, gaya bermain <strong>Bakucakar<\/strong> yang khas dan bernuansa <strong>jazz<\/strong> memberi <strong>warna baru<\/strong> dalam bermusik. \u201cSaya ingin sekali bisa merasakan <strong>energi mereka di panggung<\/strong>,\u201d tutupnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dave mungkin masih muda, tetapi lewat <strong>drum<\/strong>, ia sudah menemukan <strong>panggilannya<\/strong>: menjadi <strong>penjaga tempo<\/strong> sekaligus <strong>pengikat harmoni<\/strong> dalam setiap penampilan.*** (Ignas)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SETIAP musisi punya kisah awal yang sederhana, kadang hanya berawal dari rasa penasaran. Begitu pula Dave Christian. Siswa kelas XIIA.2.1 ini ketertarikannya pada drum lahir bukan dari panggung besar atau gemerlap konser, melainkan dari rasa ingin tahu yang mendalam: bagaimana cara menjaga tempo, bagaimana memukul dengan tepat. Dari sanalah langkah kecil itu berubah menjadi perjalanan seriusnya sebagai drummer. Bagi Dave, inspirasi terbesar datang dari seorang drummer kenamaan Indonesia, Echa Soemantri. Nama Echa tentu tidak asing di telinga pecinta musik tanah air. Ia dikenal sebagai penggebuk drum bagi musisi papan atas seperti Tompi, Isyana Sarasvati, bahkan sempat tampil bersama Planetshakers. \u201cYang membuat saya kagum bukan hanya tekniknya yang luar biasa, tapi juga sikap rendah hatinya. Itu yang menginspirasi saya untuk terus belajar,\u201d ujar Dave. Tak heran bila Dave punya lagu-lagu favorit saat tampil di panggung. Dua di antaranya adalah Kesempurnaan Cinta dan Ya Saman. Menurutnya, kedua lagu itu punya tantangan tersendiri, apalagi saat ia dan teman-temannya menambahkan variasi hit dan sinkop baru yang berbeda dari versi asli. \u201cRasanya menyenangkan, apalagi saat dimainkan bersama teman-teman waktu kelas 11,\u201d kenangnya. Namun, menjadi drummer bukan tanpa tantangan. Dave menyebut ada dua hal yang paling berat: menjaga tempo dan menjaga ego. Sedikit saja drummer meleset [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":4562,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[419,49],"class_list":["post-4561","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesiswaan","tag-dave-christian","tag-sma-xaverius-1-palembang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4561","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4561"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4561\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4564,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4561\/revisions\/4564"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4562"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4561"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4561"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4561"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}