{"id":5018,"date":"2026-03-17T13:52:48","date_gmt":"2026-03-17T06:52:48","guid":{"rendered":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?post_type=blog&#038;p=5018"},"modified":"2026-03-17T14:08:10","modified_gmt":"2026-03-17T07:08:10","slug":"latihan-kepemimpinan-menjadi-leader-bukan-follower","status":"publish","type":"blog","link":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/?blog=latihan-kepemimpinan-menjadi-leader-bukan-follower","title":{"rendered":"Latihan Kepemimpinan: Menjadi Leader, Bukan Follower"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-medium-font-size\"><strong>Oleh: Pascalis Adian Agung<\/strong><br>(Ketua OSISKA Angkatan Ke-70, SMA Xaverius 1 Palembang)<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan Latihan Kepemimpinan OSISKA Angkatan ke-70 telah dilaksanakan pada <strong>Jumat, 6 Maret 2026 hingga Minggu, 8 Maret 2026<\/strong> di Rumah Retret Giri Nugraha. Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin sebelum pelantikan, melainkan sebuah proses pembentukan karakter, mental, dan spiritualitas kepemimpinan bagi para calon pengurus.<\/p>\n\n\n\n<p>Latihan kepemimpinan menjadi pintu awal lahirnya kader-kader muda yang tidak hanya cakap dalam organisasi, tetapi juga matang dalam sikap dan tanggung jawab. Di sinilah para calon pengurus disadarkan bahwa menjadi pemimpin bukan soal jabatan, melainkan panggilan untuk melayani dan menginspirasi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari Pertama: Memulai Perjalanan, Menemukan Makna Kepemimpinan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Jumat sore, 6 Maret 2026, sebanyak 27 calon pengurus OSISKA berkumpul dengan penuh antusias. Dengan seragam putih abu-abu yang rapi, kami memulai perjalanan bersama yang tidak hanya bersifat organisatoris, tetapi juga personal.<\/p>\n\n\n\n<p>Suasana awal yang penuh kehangatan menjadi ruang perjumpaan. Dari yang awalnya saling asing, perlahan tumbuh rasa kebersamaan, kepercayaan, dan persaudaraan. Proses sederhana seperti berbagi kamar dan saling mengenal justru menjadi fondasi penting dalam membangun tim yang solid.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"758\" src=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-2-2-1024x758.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5020\" srcset=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-2-2-1024x758.jpeg 1024w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-2-2-300x222.jpeg 300w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-2-2-768x568.jpeg 768w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-2-2-90x67.jpeg 90w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-2-2.jpeg 1073w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Kegiatan resmi dibuka oleh Bapak Andreas Sudarsana yang menegaskan bahwa menjadi pengurus OSISKA adalah sebuah kesempatan berharga untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih siap menghadapi masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Spiritualitas Kepemimpinan: Menjadi Pelayan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-medium-font-size\">Materi pertama dibawakan oleh Bapak Aloysius Kristiawan dengan tema <em>\u201cSpiritualitas Kepemimpinan.\u201d<\/em> Pertanyaan reflektif yang diajukan sangat menggugah: <em>\u201cMengapa kita ingin menjadi pemimpin?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dari refleksi tersebut, kami belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang popularitas, jabatan, atau pengakuan, melainkan tentang kemampuan menggerakkan dan menginspirasi orang lain. Seorang pemimpin sejati adalah pelayan, sebagaimana nilai Kristiani yang mengajarkan: <em>\u201cBarangsiapa ingin menjadi besar, hendaklah ia menjadi pelayan.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kami juga diperkenalkan pada fondasi karakter kepemimpinan dalam konsep <strong>SHARe<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Scientia (Ilmu Pengetahuan): <\/strong>berpikir kritis dan bijaksana<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Humanus (Kemanusiaan):<\/strong> empati dan solidaritas<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Habitus (Ketangguhan):<\/strong> tidak mudah rapuh<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Credere (Iman):<\/strong> integritas dan kejujuran.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"has-large-font-size\">Kesadaran penting yang kami tangkap: <em>kepemimpinan adalah proses panjang, bukan sesuatu yang instan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Karakter dan Gaya Kepemimpinan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Materi berikutnya oleh Bapak Toni Hartono menekankan bahwa pemimpin adalah pribadi, sedangkan kepemimpinan adalah proses.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami belajar bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Berkarakter dan berintegritas<\/li>\n\n\n\n<li>Membangun kepercayaan<\/li>\n\n\n\n<li>Mampu berkomunikasi dengan efektif<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Berbagai gaya kepemimpinan juga diperkenalkan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Otoriter<\/strong> (tegas dalam kondisi darurat)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Demokratis<\/strong> (melibatkan tim)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Transformasional<\/strong> (menginspirasi)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Transaksional<\/strong> (berbasis kesepakatan)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Hari pertama ditutup dengan refleksi malam yang membawa kami pada perenungan: bahwa menjadi pemimpin berarti siap bertumbuh, berproses, dan melayani.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari Kedua: Belajar Mengelola dan Berkomunikasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hari kedua diawali dengan kegiatan fisik yang menyegarkan, dilanjutkan dengan materi inti tentang organisasi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Manajemen Organisasi OSISKA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bapak Binsar Simanjuntak menjelaskan bahwa OSISKA adalah organisasi resmi sekolah yang bersifat inklusif dan menjadi wadah pengembangan diri siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami memahami bahwa organisasi berjalan melalui proses:<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\">\n<li>Perencanaan<\/li>\n\n\n\n<li>Pengorganisasian<\/li>\n\n\n\n<li>Pelaksanaan<\/li>\n\n\n\n<li>Pengawasan<\/li>\n\n\n\n<li>Evaluasi<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Tujuan OSISKA ditegaskan sebagai:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Wadah pengembangan diri<\/li>\n\n\n\n<li>Tempat melatih kepemimpinan dan komunikasi<\/li>\n\n\n\n<li>Sarana membangun budaya demokrasi<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Dari sini kami belajar bahwa organisasi yang baik bukan hanya aktif, tetapi juga terarah dan terencana.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"998\" height=\"696\" src=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-3-1-2.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5021\" srcset=\"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-3-1-2.jpeg 998w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-3-1-2-300x209.jpeg 300w, https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Pascal-3-1-2-768x536.jpeg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 998px) 100vw, 998px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Public Speaking: Jembatan Komunikasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Materi berikutnya oleh Ibu Maria Baharuddin menekankan bahwa komunikasi adalah jembatan dalam kepemimpinan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami diperkenalkan pada prinsip <strong>REACH<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Respect<\/strong> (menghargai)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Empathy<\/strong> (empati)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Audible<\/strong> (jelas terdengar)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Clarity<\/strong> (mudah dipahami)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Humble<\/strong> (rendah hati dan terbuka)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kami juga belajar bahwa kemampuan berbicara di depan umum bukan bakat semata, tetapi keterampilan yang dilatih melalui pengalaman dan keberanian mencoba.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Merancang Program Kerja: Dari Ide ke Aksi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Melalui arahan Bapak Herman Sunu, kami mulai menyusun program kerja. Proses ini menuntut kami untuk:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menganalisis kebutuhan siswa<\/li>\n\n\n\n<li>Menentukan tujuan dan nilai<\/li>\n\n\n\n<li>Menyusun kegiatan secara realistis<\/li>\n\n\n\n<li>Memperhitungkan risiko<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Kami diajak untuk tidak sekadar membuat banyak program, tetapi program yang berkualitas dan berdampak.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dinamika Tim: Belajar dari Pengalaman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan <em>outbound<\/em> bersama tim RR menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna. Melalui berbagai permainan, kami belajar:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kerja sama<\/li>\n\n\n\n<li>Kepercayaan<\/li>\n\n\n\n<li>Komunikasi<\/li>\n\n\n\n<li>Kepemimpinan dalam situasi nyata<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Hari kedua ditutup dengan kerja keras menyusun program hingga larut malam. Di sinilah kami belajar arti tanggung jawab dan komitmen.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari Ketiga: Menuai Hasil dan Melanjutkan Proses<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada hari terakhir, seluruh kelompok mempresentasikan rancangan program kerja. Banyak masukan dan evaluasi diberikan sebagai bekal penyempurnaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun belum sepenuhnya selesai, proses ini menunjukkan bahwa kami telah bergerak dan bertumbuh. Sekitar 65% program telah tersusun sebagai langkah awal yang akan dilanjutkan di rumah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan ditutup dengan suasana kebersamaan yang hangat, diakhiri dengan makan siang dan persiapan kembali ke rumah masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Refleksi: Dari Peserta Menjadi Pemimpin<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Latihan kepemimpinan ini mengajarkan kami satu hal penting: <strong>menjadi pemimpin bukan tentang menjadi yang paling hebat, tetapi tentang membuat tim menjadi hebat.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kami belajar bahwa:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kepemimpinan adalah pelayanan<\/li>\n\n\n\n<li>Karakter lebih penting daripada pencitraan<\/li>\n\n\n\n<li>Proses lebih penting daripada hasil instan<\/li>\n\n\n\n<li>Tim lebih utama daripada diri sendiri<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Latihan ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan kami sebagai pengurus OSISKA.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan semangat kebersamaan, kami siap melangkah: <strong>bukan sekadar menjadi follower, tetapi menjadi leader yang berkarakter, berintegritas, dan berdampak.<\/strong> ***(Ignas)<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":5019,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","blog-kat":[],"class_list":["post-5018","blog","type-blog","status-publish","has-post-thumbnail","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/blog\/5018","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/blog"}],"about":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/blog"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5018"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5019"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5018"}],"wp:term":[{"taxonomy":"blog-kat","embeddable":true,"href":"https:\/\/smaxaverius1.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fblog-kat&post=5018"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}